Menanti Dan menanti

on

Menanti diangkat dan diangkut
Menanti diangkat dan diangkut

Sudah hampir sebulan sejak persiapan yang terakhir untuk perpindahan kantor kenyataannya belum juga terlaksana.  Hingga menulis blog ini pun  belum ada kabar apa pun perihal perpindahannya. Saya menyayangkan pihak manajemen yang terlalu tertutup untuk memberi kejelasan perpindahan ini. Yang beredar dari teman-teman adalah, “Sebenarnya jadi gak sih pindahnya?” Kalau pun jadi, kapan?” Dan tak seorang pun menjawabnya dengan tepat. Sebenarnya yang jadi persoalan bukan kapan pindah atau jadi tidaknya. Namun lebih ke masalah mental terutama pikiran. Mood karyawan sudah jatuh. Yang tadinya begitu semangat lambat laun seiring berjalannya waktu menjadi apatis dan masa bodoh.  Dan masa tenggang atau menunggu itu adalah hal yang tidak produktif  sama sekali. Kita tak bisa mengerjakan apa pun karena sebagian barang sudah dipak, komputer sudah dimatikan, telepon sudah diputus  dan suasana tempat sudah seperti gudang besar  berisi tumpukan kardus-kardus.

Hal seperti ini terus terang membuat saya merasa kantor tak punya empati sama sekali.  Apakah ini disengaja atau tidak  tapi rasanya koq jadi tidak profesional. Kalau memang gedung baru belum benar-benar siap mengapa harus dipaksakan? Apalagi jaraknya yang jauh cukup membuat karyawan agak khawatir dengan kemacetannya. Akan seperti apakah nantinya itu masih menjadi teka-teki besar.

Mengapa kantor tidak memberi briefing sebelumnya berkaitan dengan persiapan ini? Ini pertanyaan misterius yang belum tahu jawabannya. Mengapa pihak manajemen seakan tak mau tahu dengan kebingungan karyawannya? 😕  Ini juga hal yang lebih misterius lagi. Saya sendiri sebenarnya berusaha menyikapi dengan tenang.  Toh kalau memang sudah waktunya  pasti kita akan pindah. Namun  rasa menanti dan menanti itulah yang menyebalkan dan mendorong orang untuk mengeluh. Kepastian yang semu selalu menghinggapi hari demi hari sejak  awal bulan Mei  lalu. Bayangkan, kita sudah mengepak  tanggal sekian karena kabar yang beredar seminggu lagi akan diangkut. Kenyataannya  mundur dan mundur lagi jadwalnya. Dan hingga akhir bulan ini kita masih bercokol di sini , di gedung lama ini. 🙁

Rekan-rekan lainnya  saya yakin pun punya perasaan demikian. Seperti Waiting For Godot, menanti kesia-siaan. Tapi semoga akhir ceritanya tidak kesia-siaan. I guess happy ending it would be nice.

Silakan komentar