menggelitik pikiran

Menengok 2018, Menatap 2019

December 25, 2018

Sesaat melirik kalender yang tergantung di tembok, hari telah menginjak di angka yang ke-25 di bulan Desember. Lalu baru tersadar bahwa ternyata satu minggu lagi kita akan meninggalkan 2018!

Mengingat kembali ke belakang rupanya banyak perubahan besar yang melanda hidup saya pribadi. Ada yang menggembirakan ada pula yang membuat hati sedih meleleh seperti es krim di udara panas. Ada yang cukup memberi harapan, ada juga yang menjatuhkan kekecewaan begitu telak. Semuanya menjadi koleksi kenangan bagi saya dan menjadi suatu dorongan untuk lebih menerima kenyataan dan berjiwa ikhlas.

Campur Aduk

Mengingat-ingat peristiwa selama setahun ke belakang tentu saja menimbulkan rasa yang campur aduk. Ada senang, pahit, resah, gemas dan getir. Yang jelas, semuanya tak akan disesali karena memang seperti itulah jalan hidup yang telah diarahkan.

Hal yang menyenangkan sekaligus perasaan bahagia tentu saja takkan pernah hilang dari ingatan, Seperti misalnya saat-saat bertemu keluarga besar di hari raya atau saat piknik ramai-ramai ke suatu tempat. Sementara yang menyedihkan adalah ketika kita ditinggalkan oleh kerabat yang harus pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.


Poin penting dari seluruh peristiwa yang telah terjadi adalah kita menjadi manusia yang lebih dewasa, lebih menerima, lebih naik lagi peringkatnya dalam menerima hal-hal dari yang paling menyedihkan sampai ke kejadian yang luar biasa.

Ujian paling berat adalah saat menata kembali ke kehidupan yang sewajarnya. Kita harus kembali ke arah yang sudah seyogyanya. Hidup terus berjalan, bukan?

Mungkin 2018 adalah ajang pembelajaran yang paling berkesan yang dialami selama saya hidup.

Tahun yang Berat

Hanya dengan belajar dan belajar terus pada akhirnya saya bisa menaklukkan kekurangan yang membelenggu. Namun itu sebenarnya belum cukup. Masih banyak lagi yang harus ditambal dan disulam agar nampak prima dan solid.

Apa yang paling membuat nyesek di tahun 2018? Jawaban saya mungkin tidak objektif tapi itulah kenyataannya. Pekerjaan. Ya, pekerjaan di kantor yang setiap hari saya lakoni adalah hal yang paling ngebetein sekaligus menantang. Sementara saya hanya punya stok sabar yang sedikit beserta kemampuan yang masih dalam taraf belajar.

Sejujurnya tahun 2018 ini sangatlah rawan baik dalam hal perasaan maupun sikap. Dalam kondisi apa pun rasa ini tidak bisa ditutupi bahwa ada semacam kerikil yang mengganjal dan terus menerus membuat masalah. Hingga akhir tahun kerikil itu masih saja jadi sandungan.

2019 Sesaat Lagi

Ya, tinggal beberapa hari lagi kita akan menginjak tahun 2019. Pencapaian yang meski kapasitasnya sebesar biji jeruk pun patut disyukuri karena sekecil apa pun itulah usaha yang tetap mendatangkan manfaat. Upaya dalam rangka mencapai suatu kata bernama pengetahuan. Bagaimana saya yang tak tahu apa-apa tentang laba rugi penjualan akhirnya bisa memprediksi besarannya dan memperkecil kerugian lewat berbagai cara, bagaimana saya yang tak tahu apa-apa tentang perilaku konsumen akhirnya menjadi paham hanya dengan memahami psikologi mereka lewat komunikasi harian dan sosial media.

Awal yang sulit namun harus dilakoni dan nyatanya saya bisa meskipun harus jatuh bangun. It’s amazing isn’t it?

Satu hal yang saya inginkan hanyalah pengertian dari orang-orang. Kadang orang yang paham dengan pekerjaan ini pun sulit untuk mengerti, Apalagi yang tak tahu sama sekali dengan liku-liku penjualan beserta tetek-bengeknya? Malah, orang yang sudah tahu tentang permasalahan ini cenderung tidak mau tahu. Bingung kan?

Semoga segala kegelisahan yang melanda sepanjang tahun 2018 ini bisa terhapus dengan sinar yang lebih cemerlang. Amin.

Silakan komentar

%d bloggers like this: