Mengajari Bapak

 

Sekarang ini mana ada sih orang yang tangannya tanpa menggenggam smartphone? Dalam berbagai kesempatan demam smartphone ini sangat membuat iri bagi yang belum memilikinya. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, abang penjual bakso hingga asisten rumah tangga tak ketinggalan untuk memakai smartphone keluaran terbaru, tak peduli merk yang penting gaya.

Demam menggunakan smartphone dengan layar sentuhnya juga melanda rumah kami.  Setelah seisi rumah memiliki smartphone masing-masing dari berbagai merk, kini giliran Bapak ingin punya juga. Sebelumnya Bapak adalah pengguna nokia jadul yang mungkin kalau saat ini dijual barangkali gak ada toko ponsel yang mau membelinya alias gak laku. Saking jadulnya.

Setelah mencari-cari dan browsing akhirnya bertemulah dengan tipe smartphone yang ‘ramah’ bagi lansia. Ramah di sini berarti penggunanya gak akan bingung kalau terjadi perubahan mendadak dan aplikasinya gak neko-neko. Maklum Bapak adalah sosok yang belum pernah memakai smartphone masa kini yang hanya perlu menekan ujung jari saja. Dan untuk itu perlu ada sedikit edukasi.

Dalam pengenalan pertama saja, perlu waktu seharian untuk mengenalkan letak tombol Qwerty dan cara menekan huruf agar tepat sasaran. Belum merambah ke hal semisal menggunakan BBM atau mengirim foto lewat BBM atau menggunakan WhatsApp. Hari itu serasa ada kursus gratis dadakan dan relawan di rumah.

Untungnya Bapak orang yang cepat paham,  cukup dengan langkah-langkah yang saya tulis lewat kertas, beliau bisa dengan cepat mengetahui dan menirunya. Seakan-akan saya membuat buku manual khusus untuknya.

Hambatan terbesar adalah lupa.

Lupa ini kadang benar-benar ‘blank’ atau sekadar ingat sebagian yang pada akhirnya malah melenceng dari petunjuk awal. Misalnya saat ingin mencari nama yang akan dihubungkan di bagian Kontak tapi malah nyasar ke bagian Hapus. Ya sudah akhirnya terhapus. 🙂

Ternyata mengajari lansia berbeda dengan mengajari anak-anak dalam mengenalkan gawai. Ada sedikit keras kepala tapi ada juga kelucuannya. Setiap diberi tahu Bapak seakan sudah mengerti tapi sesudahnya kebingungan saat apa yang diinginkan  tidak sesuai di layarnya.

Sebenarnya memakai gawai agar cepat mengerti kuncinya hanyalah sering memakai sekaligus mempraktikkannya. Sering-seringlah memencet gawai terutama tombol papan ketiknya maka kita akan terbiasa dengan letak huruf dan nantinya akan menjadi otomatis ujung jari menunjuk. Sering-seringlah kirim pesan baik melalui BBM , SMS, atau WhatsApp.

Bagi lansia memang ada kendala khususnya dalam bentuk huruf yang kecil-kecil dan salah tekan tombol.  Untuk memulainya memang butuh niat. Tapi dengan kemauan akhirnya Bapak bisa dan sudah lebih mahir dalam memperlakukan smartphone nya. Menggunakan Smartphone bagi lansia bisa juga merupakan terapi dari penyakit pikun. Dengan terus menggunakan smartphone otak akan dipaksa mengingat hal-hal yang bersifat urutan-urutan.

Seperti misalnya untuk menghubungi anak-anaknya via BBM, Bapak harus mencari orang dahulu di deretan Teman, lalu mulai menulis pesan, kemudian mengirimkannya. Bagi kita proses seperti itu tentu sangat mudah dan cepat. Bagi lansia ini benar-benar merupakan prestasi bila dalam waktu 7 menit bisa dilakukan. Jangankan untuk membaca pesan dengan huruf dan kata yang salah tekan, menanti balasan saja kadang kita perlu sabar.

Ujung-ujungnya kita akan menelepon saja, lebih cepat.

Sekarang Bapak bahkan sudah mahir membuka Youtube. Dan membaca berita lewat gawai ini. Hebat, kan?

Kehadiran smartphone memang sangat membantu manusia. Kita semua keranjingan sihir teknologinya. Setiap ada launching produk baru pasti targetnya diperuntukkan bagi  pebisnis, atau  anak muda. Tak ada yang kepikiran untuk lansia ya? 😕

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Keras kepala dan lucu

  2. Erna says:

    lucu dan bingung

Silakan komentar