ulasan film

Mengapa Perlu Nonton Film Gundala?

September 7, 2019
Mengapa Perlu Nonton Film Gundala?

Awalnya saya sebenarnya tidak tahu mengapa saya ingin nonton Gundala saat melangkahkan kaki ke bioskop di kawasan Blok M siang itu. Di antara film-film Indonesia yang berbarengan diputar saat itu seperti Twivortiare, Makmum, Kembalinya Anak Iblis… saya menentukan bahwa saya akan menonton film Gundala.

Pertimbangannya praktis saja, saya ingin nonton film di luar genre drama yang sering saya tonton. Biasanya tema yang menjadi favorit kalau gak drama rumah tangga, komedi atau horor. Dan kali ini saya ingin menikmati tontonan film genre lain yang katanya penuh aksi dan seru.

Dan, ketika baru seperempat perjalanan tontonan, saya sudah merasa ‘wah film ini boleh juga’. Terlepas dari besutan sutradara Joko Anwar dengan taburan para bintang film kelas atas yang bagus dalam berakting, ternyata menonton film Gundala membangkitkan nostalgia masa-masa kejayaan film yang bertema ‘membela kebenaran dan menumpas kejahatan’. Bahkan kasus yang sedang ditangani Gundala masih ada relasinya dengan kondisi masa kini.

Koq pakai rok?

Keterpurukan, pengkhianatan, rasa duka cita dan ketidakadilan adalah formula bagi sang jagoan untuk memantapkan diri menjadi garda depan pembela kebenaran. Yah, pokoknya memang gambaran ideal seorang pahlawan baik yang versi Indonesia maupun luar negeri.

Ternyata, saya gak keliru untuk memilih menonton film ini. Asli, menyaksikannya untuk yang pertama kali membuat saya tercengang karena film Indonesia yang memuat jagoan ini digarap dengan sungguh-sungguh, serius, penuh detail dan Indonesia banget terutama tempat yang menjadi latar cerita semisal pabrik, pasar, tempat hajatan kawinan, atau rumah susun tempat Gundala tinggal. Dijamin nonton berdurasi 2 jam lebih gak akan terasa karena jalan ceritanya tidak bertele-tele, selalu ada kejutan sambung menyambung dengan kemunculan tokoh-tokoh yang luar biasa aktingnya misalnya adegan rapat para wakil rakyat atau saat sekelompok anak yatim dihubungi oleh ‘Bapak’. Itu adegan keren.

Kesampingkan saja dahulu soal yang bersifat teknis seperti editing, CGI, atau tata suara, karena toh penonton awam seperti saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Sepanjang ceritanya diantarkan dengan baik, nyambung, dan tidak diganggu oleh editing yang aneh-aneh, bagi saya film itu sudah enak untuk ditonton. Dan jangan bandingkan dengan Marvel Comics yang didukung oleh CGI nya nan canggih. Jangan.

Kalau ditanya, perlu atau tidak nonton Gundala? Saya akan jawab, perlu! Mengapa? Karena,…

  • Belum ada tontonan tentang jagoan Indonesia di abad 21 ini. Ada sih Gundala zaman dulu tahun 1981 yang dibintangi oleh Teddy Purba, tapi banyak yang gak ngeh mungkin dengan jagoan ini dan pasti belum menjadi pilihan untuk dijadikan tontonan.

  • Setelah Gundala tayang, akan ada serial jagoan lain lagi yang akan tampil dan saling melengkapi deretan jagoan khas Indonesia lainnya seperti Godam, Sri Asih, Mandala, Dewi Api dan lain-lain.

  • Film Gundala bertabur aktor dan aktris ternama yang sudah tak diragukan lagi perannya.

  • Aktor aktris yang membawakan peran jagoan nantinya kemungkinan akan menjadi idola baru sesuai dengan nama jagoan yang disandang.

  • Meskipun Gundala tokoh fiksi, jalan ceritanya sangat membumi dengan kondisi di suatu negeri yang mirip dengan keadaan Indonesia yang masih mencari panutan atau pemimpin terbaik.

  • Nonton film ini gak akan terasa lama meskipun durasinya 123 menit, justru sebaliknya waktu seakan terbang begitu cepat karena isi filmnya bergizi dengan humor-humor kecil semisal Pak Agung alih-alih dipaksa menonjok Gundala, ia justru malah jatuh tersungkur akibat fisik tuanya.

  • Kalau bisa nonton sekarang-sekarang ini saja karena kalau menunggu tayang di televisi nasional, bakal lama banget waktunya ( belajar dari film Pengabdi Setan)

  • Film ini disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar, jadi sudah bisa ditebak sinematografinya yang memang cakep itu.

Melihat sepak terjang Gundala yang mampu melumpuhkan musuh yang jumlahnya puluhan ( kalau lihat adegan perkelahian ini, saya ikut merasa kelelahan) mengingatkan saya dengan film Batman. Berkelahi di tengah pasar yang kumuh, atau menghalau penjarahan barang yang dilakukan preman-preman yang memalak seakan menu wajib bagi seorang jagoan untuk mengasah ketajaman insting.

Jadi sebenarnya apa kekurangan film ini? Kalau sebagai penonton awam saya berani bilang film ini bagus, menghibur dan seakan ada katarsis usai menonton ini. Menurut saya musik latarnya sangat mirip banget dengan scoring milik Batman: The Dark Knight. Jadi ketika Gundala beraksi lalu diiringi musiknya, pikiran saya malah terlompat ke pahlawan DC Comics yang legendaris itu bukan Gundalanya. Itu kalau dianggap sebagai kekurangannya, scoring terlalu mirip. Selebihnya, keren.

Silakan komentar

%d bloggers like this: