Mengapa Tega?

Manusia hidup di dunia memang harus dipenuhi masalah. Apa pun itu, meskipun kita tidak atau belum mengalami  hal spesifik dari permasalahan itu, namun apabila anggota keluarga kita ada yang menghadapinya, mau tak mau kita pasti akan ikut terlibat. Sebagai makhluk sosial, kita pasti memiliki naluri untuk  berempati atas masalah yang menimpa orang terdekat kita. Reaksi yang ditampilkan bisa bermacam-macam. Tak sama. Misalnya ada yang menerima dengan pasrah, tak berdaya, sabar dan nrimo. Namun ada yang menerima dengan  rasa gusar, amarah dan kesal. Perasaan yang dialami memang tergantung dari sudut pandang masing-masing.

Saya pribadi sebenarnya mengikuti perasaan yang kedua, Setiap ada masalah semestinya dihadapi dengan kepala dingin sembari merunut ke belakang untuk mencari akarnya. Itu bila masalahnya terasa bisa diatasi. Tapi bagaimana bila masalah itu datang tiba-tiba lebih cepat dari sinar laser? Akankah kita tak merasa kaget dan syok? Bagaimana bila sumber masalah itu justru bukan pada perbuatannya tapi manusianya? Pelampiasan yang mendukung adalah memaki-maki, mengumpat si pemberi masalah, mencari-cari keburukannya dan terakhir, rasanya ingin memberi pelajaran yang setimpal entah apa pun wujudnya. 👿

Setelah proses itu, tahap berikutnya biasanya adalah mempertanyakan: Mengapa ia tega berbuat seperti itu pada kita? Apa salah kita? Rasanya kita tak pernah berbuat buruk seperti yang ia lakukan pada kita. Berbagai pertanyaan terus saja  mengalir. Lalu pikiran positif muncul dengan jawaban yang berasal dari nurani. Barangkali si pemberi masalah ini tak ingin lagi berinteraksi secara sosial dengan kita, mungkin ia tak tahu cara yang lebih tepat untuk memutuskan silaturahim dengan kita hingga ia membuat skenario seperti itu. Well, itulah suara nurani yang menyadarkan dan melegakan perasaan.

Terlepas dari segala pikiran positif itu, saya mungkin tetap tak bisa melupakan perbuatannya. Saya bukannya sedang membela diri dengan mengatakan  bahwa saya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Namun efek yang ditimbulkan dari si pemberi masalah terlalu menyakitkan untuk dilupakan begitu saja. Kadang dialog bisa membantu tapi menurut saya itu hanya akan mengakui apa yang dia lakukan, yang terjadi malah tetap tak menjadikan win-win solution. Kita tetap menjadi orang yang mempertanyakan, demikian seperti itu. 😕

Silakan komentar