Mengejar Alunan Adzan di dalam Kereta

Kereta itu bernama Commuter Line

Tahun ini adalah tahun pertama saya menjalani puasa di kantor baru. Di tempat baru ini tentu saja ada hal yang berbeda dibandingkan dengan di tempat lama. Namanya pindah ke kantor baru pasti perlu penyesuaian. Salah satunya mengenai pola waktu kerja selama seminggu yang berimbas juga pada saat bulan Ramadhan. Ketika masih di kantor lama, jam kerja selama bulan Ramadhan dimulai pada pukul 8 pagi – 4 sore. Sedangkan di kantor baru, masuk kerja pukul 8 pagi-5 sore.

Imbas dari penyesuaian jam kerja pukul 8 pagi -5 sore ini adalah waktu kedatangan sampai rumah yang lebih lambat bahkan tak jarang sudah memasuki adzan Maghrib. Sejak di kantor baru saya selalu pulang menggunakan kereta api. Naik kereta menjadi moda transportasi yang masuk akal di tengah kemacetan yang menggila saat ini. Perjalanan dengan menggunakan kereta Commuter line dan berlari tergesa-gesa demi mengejar waktu berbuka adalah pemandangan yang setiap hari dihadapi selama bulan Ramadhan. Awalnya terasa mengagetkan bagi saya yang biasa pulang hanya dengan menaiki motor, meliuk-liuk menembus kemacetan namun sanggup mencapai rumah sebelum adzan Maghrib tiba. Biasanya perjalanan dengan naik motor hanya memakan waktu satu jam dan saya masih memiliki waktu untuk berburu takjil atau sekadar leyeh-leyeh dahulu di ruang tamu sembari membuat minuman untuk berbuka dan menatap layar TV menanti adzan Maghrib berkumandang.

Perjuangan Naik Kereta

Lain dulu lain sekarang. Karena jarak tempuh yang lumayan jauh, naik kereta adalah solusi tepat agar cepat sampai ke rumah. Dan kejadian-kejadian di stasiun kereta adalah pernak-pernik Ramadhan yang tak pernah saya temui sebelumnya. Selama menaiki kereta kadang ada saja peristiwa menjengkelkan, lucu, mengharukan bahkan mendebarkan. Pulang kerja di bulan puasa adalah suatu perjuangan besar, penuh drama, bahkan melebihi drama Korea. Awalnya saya kira selama bulan Ramadhan orang akan lebih banyak terkonsentrasi untuk pulang pada sekitar pukul empat. Ternyata dugaan saya meleset. Pukul berapapun calon penumpang selalu saja ada, menyemut dan…penuh sesak.

Kali ini saya harus lebih gesit berebut masuk kereta, lebih ngotot berdesak-desakan serta menyaksikan pria wanita yang dengan ganasnya memasuki gerbong kereta demi mengejar waktu berbuka di rumah. Saling sikut sudah menjadi hal yang lumrah. Tak peduli kaki terinjak atau tarik-menarik tas. Semuanya demi bisa terangkut. Di hari biasa mungkin manusia tidak terlalu antusias untuk mengejar kereta. Tapi demi bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, hikmah dan ampunan ini, rasanya sayang untuk dilewatkan dengan bermalas-malasan terlebih dalam mengejar kereta.

Hati begitu menggebu dan berbunga-bunga saat terdengar peluit kereta datang untuk mengangkut para komuter yang ingin pulang dan sampai rumah lebih cepat demi bisa berbuka bersama keluarga. Seakan peluit itu harapan satu-satunya untuk bisa mengantar kami pulang. Seolah ada energi ekstra yang menggerakkan tubuh untuk lari bersicepat dengan yang lain agar bisa paling dulu memasuki gerbong.

Maka tak perlu heran bila menyaksikan pemandangan beberapa komuter yang berlari-larian seakan dikejar penagih hutang di peron stasiun. Tak jarang saat sibuk mendorong, justru tas bawaan masih belum aman masuk gerbong.

Yah, masalah tas sudah menjadi bahan pikiran sejak lama. Saya ingin memiliki tas yang bisa diandalkan dan tak sekadar sebagai penyimpan sesuatu namun bisa menjadi luwes apabila dibawa berdesakan. Di bulan puasa seperti ini bawaan yang sudah penuh dan berat makin bertambah penuh karena saya membawa bekal untuk berbuka puasa di jalan.

Dilema Membawa Bekal Makanan

Ramadhan identik dengan kemacetan yang sangat akut menjelang jam pulang kantor. Commuter Line tak mengenal macet namun kereta ini akrab dengan langsiran atau delay yang berimbas pada keterlambatan juga. Kereta yang terlambat tiba atau tak sesuai jadwal bisa dipastikan akan menambah ‘kesengsaraan’ penumpangnya.

Pemandangan tiap sore, berdesak-desakan (Dok:Pribadi)

Perbekalan merupakan penunjang utama apabila saya terpaksa berbuka di dalam gerbong kereta. Sebotol air putih dan setangkup roti rasanya sudah lebih dari cukup untuk membatalkan puasa bila berbuka di jalan, meskipun baru-baru ini stasiun membagikan takjil kepada para penumpangnya. Namun kadang masih insidentil sifatnya.

Membuka bekal (Dok:Pribadi)

Ketika banyak orang berlari-larian mengejar kereta, saya pun ikut larut dalam gemuruh itu. Kadang berlari menjadi hal yang merepotkan apabila sudah membawa jinjingan di kiri kanan. Sebenarnya saya adalah orang yang praktis  alias gak mau ribet terutama dalam menyangkut bawaan. Sebisa mungkin saya hanya membawa satu tas saja yang bisa menampung seluruh kebutuhan saya mulai dari ponsel, botol minum, dompet, pouch tempat charger dan powerbank, kartu langganan kereta, kunci-kunci, serta bacaan novel. Belum lagi bekal makanan untuk berbuka di jalan.

Namun kenyataannya saya kerap membawa tas lainnya selain tas utama.

Jadi bisa bayangkan betapa merepotkan berlari-larian dengan membawa satu jinjingan besar di kanan, sementara di kiri mengempit tas yang lebih kecil. Belum lagi pada saat  berdesak-desakan,  tas menjadi penghambat nomor dua setelah tapping tiket untuk memasuki gerbong. Tas kerap nyangkut atau tertarik ke mana-mana.

Situasi ini sungguh dilema karena di satu sisi saya tak bisa mengurangi isi tas, namun di sisi lain membawa lebih dari satu tas sungguh merepotkan. Sempat berpikir untuk mencari tas yang lebih menjawab kebutuhan, fungsional dan tidak tersangkut kemana-mana. Tapi di mana ya?

Menemukan Tas Idaman

Lebaran sebentar lagi tiba dan saya merasa inilah saatnya untuk memperbarui kualitas baik jasmani maupun rohani. Tak terkecuali kualitas tas saya yang dirasa kurang mendukung mobilitas akhir-akhir ini. Setelah  browsing berbagai situs belanja akhirnya saya melihat tas idaman itu di situs elevenia kategori  Fashion/Tas &Aksesoris/Tas Wanita/Tas Ransel Wanita dan langsung terkesima. Betapa kerennya tas ini. Melihat bentuknya yang berupa ransel besar, seolah tas ini telah menjawab kegundahan saya selama ini akan sebuah tas yang mumpuni dan tak perlu ada lagi tas jinjingan kedua.

Inilah momennya, lebaran kali ini saya akan  berbelanja tas!

Seketika itu juga elevenia menjadi referensi awal saya dalam mencari tas. Mengapa saya memilih elevenia? Karena produk-produk yang ditawarkan sangat beragam dengan kisaran harga yang ramah di kantong. Saking ramahnya, elevenia selalu menyediakan barang termurah yang bisa kita beli lewat program Shocking Deal yakni daftar barang termurah yang rilis tiap minggu. Apa saja yang kita cari tersedia semua mulai dari produk bayi hingga elektronik. Mulai dari makanan, minuman hingga pembelian tiket. Dari fashion hingga perlengkapan kantor. Dari pemesanan pulsa sampai service mokado. Hanya ada satu kata; Lengkap.

Berbelanja di elevenia ternyata sangat mudah. Untuk bisa mengetahui produk-produknya dan langsung bertransaksi pertama-tama kita harus menjadi anggota elevenia terlebih dahulu dan melakukan login. Bisa melalui Facebook atau email atau Line. Setelah itu dimulailah pilah pilih tas yang disukai, verifikasi, lalu diakhiri dengan pembayaran.

Alur belanja di elevenia

Mudah sekali bukan? Saya saja yang terhitung masih newbie merasa tak menemui kesulitan yang berarti saat bertransaksi. Bisa jadi pengalaman pertama ini akan memberi kesan yang mendalam dan makin ketagihan dalam berbelanja di elevenia.

Selain itu  elevenia ini juga memberikan benefit yang tentu saja menguntungkan anggotanya. Semakin sering bertransaksi maka semakin naik peringkatnya yang berimbas pada berbagai kemudahan dan keuntungan  spesial yang didapat sehingga, berbelanja di elevenia terasa makin menyenangkan saja. Apalagi pembelian tas ransel saya ini mendapat benefit di bagian cicilan kartu kreditnya yang 0 % dengan min pembayaran Rp. 500.000.

Istimewa sekali rasanya.

Dengan tas ransel Longchamp baru dari elevenia ini saya merasa lebih ringan melangkah, mampu berlari sekencang-kencangnya, merasa berani berdesak-desakan serta makin percaya diri. Bahkan saat adzan berkumandang di tengah keriuhan gerbong, saya pasti akan tetap nyaman mengeluarkan bekal camilan untuk berbuka dari ransel ini tanpa takut tersenggol. Suasana gerbong yang sumpek menjadi tak ada apa-apanya bila ransel ini bertengger di dekat saya. Sebaliknya suara alunan adzan menjadi bertambah syahdu di tengah gemuruh roda kereta karenanya.

***

Dengan berbagai persiapan menyambut Ramadhan yang saya jalani tahun ini,  pada dasarnya  hati yang lapang dan sabar dalam melewati berbagai hambatan saat perjalanan pulang adalah hal yang paling penting. Mengalahkan kekhawatiran, kekesalan, dan kecemasan akan adanya rintangan setiap menjelang pulang kantor di bulan Ramadhan adalah perasaan hepi terbaik selain memiliki tas ransel baru.

Hhm, jadi ingin cepat-cepat memakai tas ransel saja rasanya.

*Artikel ini memenangkan lomba Blog, Ramadhan Bersama elevenia 2017

Silakan komentar