lomba

Menjaga Bumi di Tengah Pandemi dengan Adopsi Hutan

Menjaga Bumi di Tengah Pandemi dengan Adopsi Hutan

Memandang langit yang berwarna biru jernih pada saat upacara bendera 17-an kemarin sungguh menakjubkan. Jarang sekali saya melihat angkasa yang luas tanpa ada sejumput awan berarak, begitu resik sebiru-birunya. Matahari sangat terang memancarkan sinarnya dan menimbulkan hawa panas begitu menginjak tengah hari.

Rasanya suhu yang panas di kota saya ini sudah sangat melewati batas toleransi. Meskipun sudah memasuki musim kemarau namun ajaibnya hujan masih menyela di beberapa hari belakangan ini. Sesuatu yang tidak lazim sepertinya. Dan saya akui kehadiran hujan cukup memberi kesejukan barang satu-dua hari di tengah cuaca yang masih pancaroba.

Langit biru Jakarta (Dok. lifestyle.okezone.com)

Dulu saat masih kecil bermain di bawah panas terik matahari tak menjadi masalah. Namun sekarang saat keluar rumah dan berjalan sebentar saja tubuh rasanya sudah meminta ingin berteduh lalu buru-buru masuk ke ruangan yang ber-AC. Semakin hari semakin dahsyat saja hawa panas ini menyerang dan tetap saja kita tak tahu bagaimana cara mengatasi cuaca yang gerah ini.

Sebagian dari kita bukannya tidak tahu apa penyebab dari perubahan iklim yang berbuntut pada hawa panas ini. Sebagian besar semua merasa bahwa ini bukan urusan kita. Padahal, kalau dipikir-pikir penyebab hawa panas ini ya kita juga, karena kita yang merasakan langsung maka seyogyanya kitalah yang mengupayakan caranya agar bisa keluar dari situasi dan kondisi cuaca yang ekstrem ini.

Masyarakat yang tinggal di perkotaan cenderung menganggap situasi lingkungan yang kian berkembang buruk itu hanyalah bersifat sementara dan masa bodoh. Jangankan bicara yang berskala besar semisal hutan, untuk hal-hal yang kecil seperti di lingkungan sehari-hari saja mereka kurang memiliki empati dan kesadaran untuk bagaimana agar tidak terjadi bencana misalnya banjir atau hal sepele seperti membuang sampah sembarangan.

Sebaliknya warga yang tinggal di pelosok desa, di lereng pegunungan atau di tepi hutan mereka justru mampu memberi contoh yang lebih baik dalam mengelola tanah, air, udara, sumber pangan, flora, fauna, penyerap karbon serta budaya melalui hutan dan tumbuhan yang berada di sekitar lingkungan mereka. Tak heran kondisi lingkungannya rata-rata tetap sejuk, adem, dan terjaga keseimbangan alamnya. Meskipun, masih ada juga yang kesadaran berwawasan lingkungannya kurang dan menimbulkan kerusakan yang sangat serius.

Pengecekan kesiapan bibit untuk kegiatan penanganan di lahan tergradasi di Talang Jaya Bangko (Dok. KKI Warsi)

Namun tak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan penduduk dan pembukaan lahan yang pesat telah menimbulkan kerusakan hutan yang luar biasa dan meningkat. Sudah saatnya masyarakat bisa berperan lebih banyak agar hutan bisa menjadi pijakan yang tak hanya sekadar sebagai pencegah banjir dan pemberi keteduhan namun lebih dari itu yakni sebagai investasi alam bagi generasi penerus berikutnya.

Begitu banyak bencana saya sendiri mulai merasakan alam sepertinya sedang menegur kita, manusia. Alam sudah sangat baik memberikan berbagai manfaat yang tak terhingga. Melalui hutan kita bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan. Kerindangan pepohonan, tanah yang lembap yang mampu memberi kesuburan bagi tumbuhan, udara yang sejuk, sarang bagi hewan-hewan liar, kekuatan akar pohon yang bisa mencegah longsor serta lingkungan yang lebih tertata.

Bila alam mulai marah, dampak yang ditimbulkan akan merembet ke mana-mana. Maka sudah menjadi tugas kita untuk mulai menata lingkungan dengan melestarikannya.

Bagi orang yang hidup di kota melepas rasa bosan dengan pergi ke kawasan hutan adalah hiburan yang menyenangkan dan baik bagi perkembangan jiwa. Hanya sedikit yang menyadari bahwa hutan itu ada berkat jerih payah warga yang tinggal di sekitarnya. Sementara warga desa yang sehari-harinya berkawan dengan alam ironisnya justru tidak berkutik manakala dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar mereka hidup tanpa kepastian dan miskin.

Pada 2015, desa Aik Berik yang berada di daerah Lombok Tengah, NTB adalah salah satu desa miskin yang dengan kesadaran tinggi akhirnya berhasil menghutankan kembali kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani. Berangkat dari keprihatinan akan pembalakan hutan, mereka bergotong royong mengajukan hak kelola rakyat sejak 1995 dan melaksanakan program menanam. Kondisi warga yang miskin tidak menjadi halangan untuk merawat hutan dan tanpa ada sokongan dana tertentu mereka bersedia memelihara hutan.

Desa Aik Berik yang berbatasan dengan hutan (Dok. Mongabay-Indonesia)

Imbalan terbaik bagi mereka adalah alam dan lingkungan yang akan baik-baik saja selama mereka jaga kelestariannya. Hanya komitmen besar dalam melestarikan hutanlah yang tetap membuat mereka mampu untuk setia dan bertahan. Mereka bisa mengelola alam dan hutan tanpa mengharapkan pamrih. Ketekunan yang berbuah pada akhirnya akan dinikmati juga oleh warga desa.

Bila warga yang hidup di desa saja mampu dalam mengelola alam dan hutan, semestinya warga yang hidup di kota pun mampu juga untuk menjaga lingkungan lewat caranya sendiri antara lain dengan:

  • Tidak memakai kantong belanja plastik lagi   

Karena kondisi bumi yang semakin memanas, akan lebih bijak bila kita tidak menggunakan kantong plastik lagi saat berbelanja karena emisi karbon yang dihasilkan dari pembuangannya sangat besar kontribusinya bagi perubahan iklim. Sebenarnya tak hanya orang kota saja kebijakan ini diberlakukan, namun memang sebagian besar warga kotalah yang sering mengkonsumsi kantong plastik dengan alasan kepraktisan.

Sebaliknya warga desa umumnya pergi ke pasar sudah membawa tas belanjanya sendiri atau membawa kain panjang. Dan untuk pembungkusnya pedagang lebih sering menggunakan daun, entah daun pisang atau daun jati. Bukan kertas atau plastik.

  • Menanam tanaman di rumah 

Di masa pandemi yang entah kapan berakhirnya ini, sebagian besar dari kita akan menghabiskan waktu di rumah saja. Dan waktu luang yang masih tersisa banyak itu akan lebih bermanfaat bila dipakai untuk menanam tanaman sekaligus memberi kesejukan di lingkungan rumah kita.

Menanam tanaman di dalam pot jeriken (Dok. pribadi)

Tak perlu dengan pot-pot mahal cukup dengan polibag kecil atau wadah yang ada maka kita sudah memberi kontribusi pada alam di sekitar kita.

  • Car Free Day   

Beberapa tahun belakangan ini mulai banyak kota besar di Indonesia yang menerapkan Hari Bebas Kendaraan alias Car Free Day. Awal diberlakukan tentu saja banyak yang pro dan kontra. Namun lambat laun warga mulai menyambut dan menyadari bahwa kesehatan lingkungan jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan berkurangnya jalan raya selama beberapa jam itu. Selain itu agar masyarakat juga bisa menghirup udara segar selain knalpot kendaraan saat berjalan kaki.

  • Bersepeda   

Akibat pandemi warga kota banyak yang berkeinginan untuk jalan-jalan dengan mengendarai sepeda. Demam bersepeda ini sebenarnya bukan hal yang baru namun karena dilakukan di tengah-tengah masa pandemi Corona, maka sambutannya sungguh luar biasa. Berkeliling sepeda bersama teman, sahabat, atau keluarga selain dapat memberi dampak kesehatan juga dapat membangun keakraban antar anggota keluarga.

Dok: kompas.com

Namun sebenarnya tak hanya itu saja manfaatnya. Dengan mengendarai sepeda, kita pun ikut mendukung udara bersih, mengurangi polusi dan asap kendaraan. Terus terang sebelum pandemi, bersepeda adalah kegiatan yang buang-buang waktu menurut saya. Namun pendapat saya berubah setelah merasakan betapa segar rasanya bersepeda di tengah udara yang bersih akhir-akhir ini. Langit biru adalah pemandangan mahal.

  • Adopsi Hutan

Bagi warga kota, mendengar kata ‘melestarikan alam’ konotasinya sebenarnya lebih mengacu ke tempat-tempat yang penuh dengan pepohonan misalnya taman kota atau menanam pohon sendiri di halaman. Saya sendiri yang tinggal di kota memaknai kalimat melestarikan alam sejauh ini hanyalah suatu program penanaman pohon di sepanjang jalan-jalan protokol, di taman atau di tepi pantai. Jarang orang memahami bahwa melestarikan alam banyak caranya. Salah satunya dengan upaya yang lebih praktis namun berkelanjutan serta berkontribusi besar yaitu dengan adopsi hutan.

Adopsi hutan dan rumah pohon (Dok. KKI Warsi)

Seperti kita ketahui keindahan hutan Indonesia telah menjadi buah bibir di seluruh dunia. Sejak dulu hutan hujan kita merupakan rumah bagi ekosistem flora dan fauna yang luasnya ketiga terbesar di dunia. Hutan mampu menstabilkan iklim yang berubah secara ekstrem. Sebagai manusia yang sangat bergantung pada kondisi alam terutama hutan, sudah sepatutnya kita berkontribusi dalam mengelola sumber daya alam, menjaga dan memelihara demi keberlangsungan ekosistem hutan.

Kita dapat memilih pohon di hutan atau taman nasional yang sudah resmi menyediakan program adopsi hutan. Sejauh ini menurut data yang dirilis Hutan Itu Indonesia, terdapat 1039 pohon yang telah diadopsi dan tersebar di hutan adat Rantau Kermas Jambi, hutan Nagari Sungai Buluh di Sumatra Barat, serta Taman Nasional Rinjani.

Untuk hutan adat Rantau Kermas, kalian bisa berdonasi berapa pun alias sukarela. Dengan berdonasi mulai dari 200 ribu rupiah untuk jangka waktu satu tahun masyarakat sudah bisa mengikuti program adopsi hutan ini. Calon pengasuh adopsi bebas. Boleh atas nama individu atau kelompok.

Ada beraneka jenis pohon yang bisa dipilih untuk diadopsi di sini diantaranya kayu Medang, Terentang, Nolan, Surian, dan sebagainya. Sebelum memilih kita bisa melihat data pohon yang akan diadopsi mulai dari jenis kayu, diameter kayu dan foto pohon melalui situs web yang ditunjuk. Kriteria yang dimasukkan ke dalam daftar adopsi pohon biasanya yang berdiameter sangat lebar atau di atas 60 cm.

e-sertifikat pohon

Setelah cocok semuanya, langkah selanjutnya adalah melakukan transaksi secara daring melalui lembaga donasi yang sudah ditentukan. Di sini kalian bisa mengajak teman-teman lainnya untuk ikut berpartisipasi sehingga yang awalnya hanya mengadopsi 1-2 pohon saja, bukan tak mungkin adopsi akan membesar hingga mencapai 75 pohon misalnya.

Selanjutnya kita akan menerima e-sertifikat pohon dan mendapatkan informasi tentang perkembangan pohon setiap 6 bulan sekali.

Dana yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan untuk lebih memberdayakan masyarakat di sekitar hutan seperti patroli hutan, kegiatan sosial ekonomi, konservasi alam, dan sebagainya.

Kisah sukses tentang keterlibatan masyarakat dengan kemajuan yang pesat berkat program adopsi hutan bisa kita lihat di wilayah Sarongge Girang, Cianjur Jawa Barat. Adopsi hutan yang dicanangkan pertama kali pada 2008 bermaksud menghutankan kembali lahan yang telanjur ditanami sayuran oleh para petani penggarap. Meskipun awalnya ada penolakan dari warga, cerita ini akhirnya berbuah manis.

Sabun sereh Sarongge (Dok: itto.cbr.id)

Berkat adopsi hutan, warga mendapat keuntungan yang bisa digunakan untuk menyejahterakan desa Sarongge. Selain merawat hutan, mereka pun memiliki ketrampilan kerja yang dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan seperti beternak domba, membuat sabun sereh, kopi, jamur renyah dan teh sereh yang bisa dijual untuk oleh-oleh. Mereka pun mengelola penginapan yang dipakai untuk perkemahan.  Kini hutan yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 38 Ha itu telah menjadi hutan primer dengan wahana ekowisata yang menarik.

***

Tanggal 7 Agustus 2020 lalu telah ditetapkan sebagai hari Hutan Indonesia bertema Festival Hutan Kita Juara. Dengan adanya momen itu maka tidak ada alasan lagi untuk tidak ikut melestarikan hutan. Dan karena rangkaian acara ini berlangsung hingga 31 Oktober 2020, inilah saat yang tepat untuk mendengung-dengungkan aksi gotong royong Adopsi Hutan melalui tautan kitabisa.com/harihutanid.

Adopsi hutan adalah kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan ketelatenan. Kita tak bisa mengharapkan dengan cepat hasilnya. Pemeliharaan adalah kunci tumbuh kembangnya. Sebuah pekerjaan yang intens, persisten, dan tidak main-main. Dibalik adopsi hutan ini ada tanggung jawab besar untuk menjaga bumi agar terus lestari, hijau dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.

“Adopsi kecepatan alam, rahasianya adalah kesabaran”

-Ralph Waldo Emerson

Dengan menyisihkan dana untuk pohon yang telah kita pilih, berarti kita telah ikut merawat sekaligus membantu masyarakat penjaga hutan Indonesia agar dapat terus memelihara dan mengelolanya. Mari kita jaga kelestarian hutan Indonesia dengan langsung memberikan donasi. Aksi yang tak sulit, bukan?

 

Sumber:

Mengasuh pohon mendukung penurunan emisi karbon-kkiwarsi.wordpress.com

Saatnya, 7 Agustus Kita Rayakan Sebagai Hari Hutan Indonesia-mongabay.co.id

Adopsi Pohon-Kopisarongge.com

-pohonasuh.org

Desa Aik Berik, hidup warga dari merawat hutan-mongabay.co.id

Sumber foto dan gambar:

-Geunta.com, menyentuh dan memeluk pohon bisa meningkatkan kesehatan

-Freepik.com

 

1 thought on “Menjaga Bumi di Tengah Pandemi dengan Adopsi Hutan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *