acara-acara | jalan-jalan

Menjajal Gratis Naik Kereta Modern MRT Jakarta

March 20, 2019

Akhirnya Indonesia memiliki kereta bawah tanah alias MRT atau Ratangga. Ya, sebagai warga yang telah bertahun-tahun hidup di kota metropolitan seperti Jakarta, adanya kereta MRT ini seakan menjadi angin sejuk di tengah kemacetan jalanan ibukota yang kronis.

Sewaktu mendengar akan ada pembangunan MRT di masa gubernur Jokowi, saya merasa setengah tak percaya karena masih segar dalam ingatan pembangunan rel layang dulu pun juga menggebu-gebu hingga pada akhirnya terbengkalai begitu saja. Dan jejaknya masih ada di sepanjang jalan di wilayah Senayan.

Namun seiring berlalunya waktu, pembangunan MRT ini memang ada dan serius dikerjakan hingga tuntas.

Daftar Dulu

Lama tak terdengar kabar ternyata ada pengumuman MRT sudah siap diluncurkan dengan terlebih dahulu memberi kesempatan pada warga ibukota untuk mencicipi naik MRT ini secara cuma-cuma. Pendaftaran dibuka sejak tanggal 12 s/d 24 Maret 2019 melalui link yang sudah disediakan pihak MRT dan menggandeng sponsor e-commerce untuk fasilitas e-ticketnya.

Saya langsung ikut mendaftar dan menjadwalkan harinya. Saat mendaftar itu kita bisa bebas mau berangkat dari dan turun di stasiun mana. Total ada 13 stasiun keberangkatan. Saya menjadwal hari Jumat dan Selasa serta memilih berangkat dari stasiun Lebak Bulus. Rencananya nanti sampai Bundaran HI ( stasiun akhir) saya akan ikut kereta yang sama dan turun di Blok M.

Tepat Waktu

Naik kereta MRT pertama kali kita akan disuguhi oleh kecepatan dan ketepatan waktunya. Berangkat dari Lebak Bulus tepat pukul 09.20 wib, dan sampai di Bundaran HI pukul 09.52 wib. Cepat kan? Untuk sekarang mungkin bisa tepat dan cepat, entah bila sudah berada di jam sibuk, apakah akan seperti itu. Kita lihat saja nanti.

Saat berada di antara stasiun Sisingamangaraja (ASEAN?) dan Senayan, kita takkan merasa bahwa sebenarnya jalurnya berpindah dari atas (rel layang) lalu turun langsung ke bawah tanah. Itu sensasi yang seru menurut saya.

Dari yang tadinya bisa melihat pemandangan atap-atap gedung lalu tiba-tiba berganti menjadi tembok gelap di kedua sisinya. Barangkali itu yang baru bagi warga Jakarta.

Untuk interior dan bentuk keretanya menurut saya gak jauh berbeda dengan jenis kereta KRL pada umumnya. Mungkin karena saya sudah sering naik Commuter Line jadi tidak terlalu surprise melihat interior dalam kereta yang serba baru dan masih mengkilat.

Perbedaan yang mencolok antara KRL dan MRT hanya pada joknya yang berwarna biru muda dan…keras. Kerasnya itu mungkin agar mudah dilap, atau pertimbangannya karena calon penumpangnya adalah orang-orang yang hanya sesaat saja menikmati duduk di bangku kereta MRT. Lain dengan KRL yang bisa duduk lama dan bisa tertidur pulas karena bangkunya yang empuk dan jaraknya jauh.

Satu lagi perbedaannya, yakni bila di KRL tersedia tempat bagasi, maka di MRT hanya ada satu yakni tepat di atas bangku prioritas. Entah apa maksudnya tempat bagasi hanya tersedia ada di sana. Mungkin alasan kepraktisan saja.

Secara keseluruhan perjalanan di hari Jumat itu sangat menyenangkan. Semua orang sangat antusias untuk menjajal kereta baru ini. Sebagian besar mengabadikan berbagai sudut dan tertawa gembira. Saya sendiri pun tak luput dari acara jeprat-jepret itu karena ya, kapan lagi bisa mengalami naik MRT gratis dengan kondisi kereta yang masih baru banget?

Ongkosnya Berapa?

Hingga kini belum diketahui pasti berapa tarif yang sesuai untuk naik MRT ini. Apakah menyatu dengan Transjakarta dan KRL atau tidak, masih dirapatkan oleh pihak yang berkepentingan. Namun kalau saya pribadi barangkali jangan lebih dari Rp 10.000 karena sebagian warga Jakarta yang hendak bepergian biasanya transportasinya sambung menyambung.

Naik KRL disambung bus Transjakarta, disambung ojek online, disambung angkot dan lain-lain yang kadang pengeluarannya sudah mencapai lebih dari Rp 11.000-an dalam satu kali keberangkatan.

Naik MRT sangat menguntungkan bila kita hendak ke wilayah Bundaran HI. Namun menjadi nanggung dan melelahkan bila akan ke Kota dan naik kembali ke permukaan tanah untuk menaiki bus Transjakarta.

Silakan komentar

%d bloggers like this: