Menyepi ke Kawah Putih

Tanpa rencana apa-apa saya mengiyakan saja untuk ikut serta dalam perjalanan menuju tempat yang dingin ini. Sebelumnya teman-teman di kantor sudah ada rencana menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan ke Puncak. Namun rapat terakhir justru banyak yang lebih memilih untuk ke wilayah yang lebih dingin lagi. Dan salah satu yang jadi rujukan adalah ke Kawah Putih. Wah kebetulan nih,  pikir saya.

Di akhir kehidupan kantor yang penuh drama akibat berita penutupan serta penatnya hari-hari menjelang momen pindah tangan, rasanya tawaran untuk melepaskan tekanan  tak mungkin diabaikan.

Baca: Usai Keriuhan itu

Saya langsung setuju dan ikut larut dalam kegembiraan. Lagipula acara jalan-jalan kali ini spesial banget.  Selain sebagai silaturahmi juga ajang saling mengenal lebih dekat. Terus terang, selama bekerja saya juga hanya bertukar senyum atau menyapa hai saja bila berpapasan dengan teman-teman kantor ini entah di lobi, pantri, toilet atau saat absen pulang. Nah, dengan diadakannya jalan-jalan ini pastinya saya bisa saling tahu siapa dan dari divisi mana mereka ini.

Namun unsur spesial gak cuma itu. Ada yang lebih dalam yakni bahwa acara jalan-jalan ini sebenarnya acara perpisahan  karena memang nantinya setelah  penutupan kantor, pasti teman-teman kantor akan berpencar mencari penghidupan lain yang lebih baik. Agak melankolis sih tapi ya ada pertemuan tentu ada perpisahan bukan? Perpisahan ini bukan diartikan secara tegas. Santai saja. Toh kita masih bisa terhubung lewat grup WA.

Jadi kita nikmati saja keseruan selama berada di kawah putih 😀 .

Berangkat dari kantor pukul 06.30, saya satu mobil dengan 6 orang lainnya. Kami berangkat dengan 3 mobil. Meskipun titik pemberangkatannya tak sama, tapi kami sepakat bertemu di Rest area yang sudah disepakati saja. Udara pagi Sabtu itu sangat mendukung perjalanan. Hawa dari Jakarta yang  awalnya panas menyengat langsung berubah agak adem  kala menyusuri tol Cipularang.

Keluar tol Cipularang langsung  belok kanan menyusuri jalan Soreang-Ciwidey yang padat. Jalanan yang lurus lama kelamaan menanjak dan hawa semakin sejuk. Sampai di Kawah putih  sekitar pukul 14.00. Fiuuh…perjalanan yang panjang.

Setelah menaruh bagasi di penginapan, saya langsung bergegas  untuk ikut  segera menuju Kawah Putih. Ya, untuk menuju ke sana kita mesti memakai kendaraan semacam angkot yang sisi-sisinya terbuka yang disebut ontang-anting. Kendaraan ini gratis dari penginapan dan memang untuk menuju ke Kawah Putih harus bergegas karena kabut yang mulai turun serta hembusan angin yang makin menggigil dikhawatirkan akan merusak panorama. Maksudnya teman-teman tak ingin kehilangan untuk berwefie ria begitu 🙂

Pemandangan tentang Kawah Putih ini sangat menakjubkan. Tak hanya karena hawa dingin dan hembusan angin serta kabut yang berarak ditiup angin, namun juga karena saya bisa merasakan bahwa alam  di sekitarnya benar-benar luar biasa. How majestic! Sesekali bau belerang menyengat terhirup namun tak mengurangi hasrat untuk berfoto ria hingga ke bibir kawah.

Saya lupa membawa penutup hidung walhasil beberapa kali bau belerang tersedot hingga menyebabkan hidung seperti pilek. Di luar itu pemandangannya spektakuler dan menurut saya cenderung magis. Ada beberapa foto teman yang latarnya dihiasi oleh kabut kawah sehingga terkesan mistis.  Penampakkannya menjadi kian ‘keramat’ saat menjelang  sore. Waktu baru menunjukkan pukul tiga namun kita harus cepat untuk mendaki kembali ke kawasan aman kalau tidak ingin sampai terbatuk-batuk. Rintik hujan juga menambah suasana makin syahdu.

Sebenarnya hal yang paling menarik adalah saat saya bisa berteriak sepuas-puasnya kala menaiki ontang-anting ini. Dengan kecepatan yang tinggi alias ngebut maksimal, keseruan benar-benar terjadi. Semua merasa ngeri namun juga  senang. Apalagi  jalanan yang menurun terus kian menambah heboh. Desain ontang-anting ini juga memungkinkan kita untuk lebih dekat ke alam  karena kedua sisinya terbuka. Bersama teman, berwefie dan berteriak cempreng adalah kesan yang tertinggal dari perjalanan.

Terus terang saya baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Kawah Putih. Meskipun baru pertama kali rasanya tempat ini bisa dijadikan rujukan wisata bila jalan-jalan ke Bandung. Selain berbelanja tak ada salahnya menghirup bau belerang ketimbang bau polusi  🙂

Silakan komentar