Meraba ke Maribaya Natural Hotspring

Di bulan peralihan musim ini-kadang panas menyengat, kadang dingin hawanya- enak juga rasanya jalan-jalan ke wilayah Maribaya. Meskipun di ibukota cenderung panas, belum tentu di tempat lain juga begitu. Contohnya, Maribaya.

Pada saat kami berkunjung ke Maribaya, cuaca di Jakarta lagi panas-panasnya di suatu pagi yang cerah itu. Tak disangka ternyata sesampainya di tujuan cuaca mendung dan sayup-sayup terdengar halilintar pertanda akan turun hujan. Sempat agak ciut juga melihat di kejauhan langit terlihat mendung gelap. Namun, kita jalan terus.

Sesampainya di sana hari sudah sore dan kita hanya diberi waktu selama 2 jam. Saya langsung menjelajahi wilayah Maribaya Natural Hotspring ini yang menurut saya unik karena lansekapnya yang tidak rata karena mengikuti kontur tanah yang kadang menanjak kadang landai.

Memasuki wilayah ini tiketnya cukup terjangkau kok, Rp. 35 000,- saja. Sudah termasuk sebotol air minum bermerk premium.Tapi jangan terlena oleh harga murah lho, saat di dalam nanti berbagai wahana seperti kolam rendam atau sekadar makan di restoran yang didesain ala kafe ini, akan meminta kita merogoh kocek lagi. Ya, untuk menikmati sajian seperti makan, minum, duduk-duduk, berenang, memasuki wahana bermain anak pun kita mesti membayar lagi.

 

 

Kalau hanya sekadar jalan-jalan atau berfoto ria, bebas saja.

Saat memasuki pintu gerbang berbagai bawaan dan bekal akan disita petugas. Bahkan tikar yang dibawa pun harus dititipkan. Agak kecewa dengan aturan yang kaku ini tapi ya sudahlah. Rupanya acara gelar tikar seperti ala piknik begitu tidak ‘dikenal’ di Maribaya ini. Sebagai gantinya pengunjung dipaksa untuk jajan ke kafe saja. Yang diperbolehkan hanyalah membawa minuman bermerk premium dan telah dibagikan pada saat membayar tiket masuk.

Ada yang lucu, salah satu rekan sukses bisa memakan nasi bungkus yang dibawanya. Bagaimana bisa lolos membawa nasi dan lauk pauknya? Ternyata diselipkan dibalik baju. 🙂

Saya sendiri sebenarnya penasaran dengan wahana yang ada di tempat ini. Seandainya fasilitas kolam rendam digratiskan (artinya cukup membayar di pintu masuk), maka saya bisa ceritakan secara detail. Sayangnya papan penunjuknya tidak jelas dan tak berapa lama turun hujan deras.

Pengunjung kocar-kacir mencari tempat berteduh ditambah waktu yang mepet menjelang sore yang semakin gelap. Mungkin lain kali kalau ada kesempatan.

Kelebihan dan Kekurangan

collage3Dilihat dari pelayanannya  cukup memuaskan. Ramah dan sopan stafnya. Bagi yang menaiki bus, ada semacam mobil terbuka yang menjemput dan mengantar bolak-balik dari tempat parkir hingga ke Maribaya-nya. Untuk masalah harga, secara keseluruhan masih terjangkau.Tempatnya panoramic banget. Ada sungai, air terjun kecil, pepohonan, hawa dingin, saung, dan ruang hijau terbuka. Spot-spot untuk berfoto juga lumayan cantik.

Kekurangannya cuma dua, dilarang bawa makanan dan…tikar! 🙂

Agak disayangkan memang. Sementara pada saat itu saya sekeluarga membawa bayi  dan balita yang tentunya butuh ngemil atau maem bubur jika mereka lapar. Untungnya keduanya sangat anteng pada saat itu.

Akibat waktu yang sempit sepertinya saya kurang menjelajahi tempat ini, namun sekilas bisa dikatakan bahwa tempat ini asyik dan cocok buat anak muda yang senang dengan hal yang menantang seperti misalnya terjun dan mengarungi sungai yang berarus deras atau menikmati redupnya sinar temaram kafe bersama pasangan.

Tapi sebenarnya pasangan ‘tua’ juga cocok-cocok saja koq bila akan menghabiskan waktu di sini. Tempatnya segar, banyak pepohonan, hawa adem  plus bunyi gemericik air sungai di samping saung sungguh menambah suasana tenang untuk pelepasan stres. Justru dianjurkan untuk berendam di kolam air panasnya. Hanya saja jalanan yang menanjak naik turun akan lekas membuat lelah dan ngos-ngosan. Hhh…

Jadi nikmati saja berbagai wahana yang tersebar ini.

 

 

 

 

 

 

Silakan komentar