Merapikan Rumah

on

rapika


“Dalam hidupku selalu ada cangkir-piring kotor, kalau tempat cuci piring ini dapat menjadi tempat untuk merenung, biarkan aku belajar untuk keteraturan di sini.”

-Gunilla Norris

Karena kita enggan melakukannya, kita menundanya selama mungkin sampai kita terpaksa menganggap kerja rumahtangga yang melelahkan, berulang-ulang, tak produktif, dan tak ada habisnya. Wanita melakukan hal yang sama, yang bersih jadi kotor, yang kotor dibersihkan, berulang-ulang, dari hari ke hari. Itu tentu saja kalau kita harus melakukannya setiap hari. Bagi wanita pekerja berarti merampungkan pekerjaan rumahtangga dalam rentang antara jam sembilan malam sampai dua belas lalu berlanjut  lagi pukul lima pagi..

Dan Anda heran mengapa semua yang kotor tetap kotor sampai Anda tak tahan lagi melihatnya? Ketika saya sadar bahwa keteraturan dan kerapian adalah prinsip yang harus dikerjakan, saya menyerah. Meski seringmerasa lelah dan tak berdaya terutama ketika sedang berusaha mencari barang tertentu atau tak memedulikan kekacauan di sekitar saya, kerapian dan keteraturan tampaknya merupakan nilai yang sudah  so last year, tidak imajinatif, tidak ada inspirasi- meletihkan dan mematahkan semangat. Yang sangat ingin saya hadirkan dalam hidup saya adalah sesuatu yang lebih bersemangat.

Sesuatu yang out of the box, keluar dari monoton. Tapi apakah itu?  Ketika saya merenungkan tentang kehidupan orang-orang desa yang sederhana, tidak terlalu penuh kesibukan dan sangat tenang, saya takjub menyadari betapa mereka bisa menyeimbangkanhidup, kerja dan seni dengan mengagungkan keteraturan dan kerapian.

Keteraturan membentuk setiap bagian dan menumbuhkembangkan setiap nuansa hidup di lingkungan pedesaan. Bahkan untuk sekadar bergotongroyong mendirikan tempat untuk acara syawalan saja mereka mereka masih memiliki waktu banyak. Tak ada rasa letih, lesu atau malas. Semua terlihat ceria dan bersemangat. Di sini, adakah yang masih memiliki semangat seperti itu?

Seandainya kita sebagai orang yang sibuk mampu memiliki semangat keteraturan pasti takkan ada rasa lelah. Diawali dari hal kecil yakni merapikan rumah, dimana untuk menyimpan milik pribadi dan hal remeh sekalipun harus dilakukan secara teratur supaya dapat cepat ditemukan bila perlu. Untuk mencapai ini, kita perlu mengangkat keteraturan menjadi suatu seni yang suci. Merapikan adalah dogma, suatu kerja termasuk pekerjaan rumahtangga adalah ekspresi pribadi dan wujud ibadah.

Berdoa dan mengerjakan pekerjaan rumahtangga sejatinya harus selaras. Keduanya selalu berjalan berdampingan. Tugas sehari-hari adalah hidup. Bila kita membersihkan dan merapikan rumah kita, kita juga membersihkan dan merapikan jiwa kita.

 

One Comment Add yours

Silakan komentar