[Nonton Bareng] Labuan Hati

Sekilas tak ada yang berkesan dari menonton film ini selain selalu menyaksikan pemandangan bawah laut yang mempesona.  Namun sebenarnya ada hal paling mengagumkan setelah menonton film berdurasi nyaris dua jam ini.  Hal itu bisa dilihat ketika film sudah berlangsung sekitar 40 menit. Suguhan utama  yang menjadi isi tema film ini rupanya tentang ekosistem bawah laut. Panorama laut dan langit yang sama-sama berwarna biru sukses membius mata. Ternyata kekayaan alam bawah laut di tempat terpencil, di sudut yang tak terlalu hingar bingar tapi mulai naik daun oleh wisata alam Indonesia yakni di Labuan Bajo ini,  mampu membuat penonton terpana.

Tak bosan-bosannya memandang ikan-ikan cantik beraneka warna, bergerombol ke sana ke mari atau koral serta tumbuhan laut yang mengalun digoyang riak laut. Bahkan saya yang hanya menjadi penonton saja rasanya malah ingin ikutan nyebur dan menyelam! Padahal untuk memiliki kepiawaian dalam menyelam, diperlukan sertifikat khusus untuk itu.

Film Labuan Hati memang menjual indahnya kekayaan bawah laut di Labuan Bajo, NTT. Tak sekadar ikut diajak menyelam tapi juga kita dibawa ke berbagai tempat eksotis lainnya  dengan gunung, danau, hutan  serta air yang jernih terhampar di tanah NTT. Meskipun cuaca nampak panas menyengat dan angin kencang bertiup,  nuansa keindahan yang ditunjukkan lewat langkah para cewek, Kelly Tandiono ( Bia), Ully Triani ( Maria), Nadine Candrawinata ( Indy)  serta  sang instruktur selam, Ramon Tungka ( Mahesa) yang tengah berlibur ini mampu menularkan virus jalan-jalan.

Dalam mengantarkan tema alam ke film,  selayaknya ada cerita yang diusung dengan plot yang kuat. Dan bagi saya suatu film akan terasa betul-betul nikmat ditonton bila  berhasil dikembangkan  dengan sangat terjaga  dengan konflik dan alurnya mengalir tanpa dibuat-buat. Tadinya saya mengira kisahnya hanya sekadar tempelan guna membangun tema alam itu tadi, tapi ternyata alur cerita yang dibawakan cukup signifikan dan menjadi landasan tema atas apa yang disebut Labuan Hati itu.

Oh ya, saya menonton film ini atas undangan pihak Femina yang mengadakan acara Nonton Bareng di Djakarta Theatre XXI, Sabtu lalu. Seperti biasa, selain nonton bareng juga ada pemberian Goody bag, dan foto bareng artis. Sayang, saya gak kebagian foto bareng artis-artis karena begitu banyaknya yang mengantre .

Film ini merupakan yang kesekian kalinya diproduksi Lola Amaria, sang produser yang nampaknya konsisten untuk mengangkat isu-isu penting dalam setiap filmnya. Saya sendiri sudah beberapa kali ikut nonton bareng yang kebetulan diproduksi oleh pihak Lola Amaria.

(Baca yang ini, Kisah 3 Titik)

Dan hingga menonton di film  yang terakhir ini, misi yang diemban seorang Lola masih tetap sama, kepedulian. Kepedulian akan berbagai masalah mulai dari alam, buruh, atau kaum marjinal seakan menjadi semangat dalam setiap nafas filmnya.

Sayang, dalam acara nonton bareng itu, tidak ada sedikit bincang-bincang yang menceritakan latar belakang alasan mengapa mengangkat tema film seperti ini selain (katanya) kagum oleh pemandangan bawah laut sewaktu berkunjung ke Labuan Bajo. Well, itu sah-sah saja. Namun kiranya  akan lebih jelas bila masing-masing aktor dan artisnya menceritakan kesan selama syuting atau keindahan di pulau Komodo misalnya.

Jujur, menonton film ini, pandangan menjadi segar, seakan sayalah yang sedang bepergian ke sana dan melakukan hal yang sama yang dilakukan ketiganya. Dari mulai pesan hotel, merancang perjalanan ke pulau-pulau  dan menyelam bersama agen wisata dan instruktur selamnya, serta berenang dan berjemur  di pantai pasir yang putih atau berwarna pink itu (saya lupa pantai apa namanya).

Dari segi akting, saya lebih menikmati ketiganya saat terlibat konflik cemburu dengan satu-satunya lelaki di antara mereka, Mahesa. Akting Kelly lebih alami, lebih apa adanya, lepas dan tak dibuat-buat. Dan ketiga wanita inilah yang memberi spirit dan nyawa dalam film sehingga akhirnya terungkap, siapakah yang menjadi Labuan Hati Mahesa  itu. Penasaran?

 

Silakan komentar