Nowhere Boy

on

Tiga hari lalu saya menyaksikan sebuah film drama yang apik menurut saya. Sebuah kisah nyata sosok pemimpin band legendaris Inggris The Beatles, John Lennon. Ini film keluaran tahun 2009 tapi masih tetap up to date untuk disaksikan di tahun ini maupun tahun-tahun mendatang.

Kisahnya sendiri merupakan perjalanan hidup yang harus ia jalani bersama dua orang wanita yang sama-sama dikasihinya, Ibu dan Bibinya. Ya, John semasa belum terkenal hanyalah seorang remaja yang mengalami kesulitan dalam mencari jati diri. Apakah Ibunya yang senang menyanyi, lincah dan  periang ataukah bibinya yang keras, kaku, dan selalu mengutamakan pendidikan yang harus ia jadikan sosok panutan sekaligus role model baginya?

Layaknya sebuah drama, kisahnya bergulir antara keinginan untuk terus bermain musik yang merupakan passion utamanya sejak di bangku sekolah, dengan keadaan diri yang dilanda kegelisahan akan status dirinya  sebagai anak yang tak pernah melihat Ayahnya yang entah hilang kemana.

Semua dikemas dengan tidak bertele-tele. Khas film Inggris yang selalu mengedepankan dialog dan sedikit humor. Entah memang keadaannya seperti itu atau memang setting  waktunya demikian.

Yang jelas,  meski saya bukan penggemar John Lennon dengan melihat kondisi keluarga tempat dia tumbuh, saya merasa salut dengan pribadi John karena di film itu John ditampilkan sebagai sosok yang mau menyadari segera keadaan Ibu dan Bibinya dan relasi diantara ketiganya. Ia tak menyangkalnya apalagi mengingkarinya.

Diceritakan bahwa sejak usia 5 tahun John diasuh oleh Bibinya yang diperankan dengan bagus sekali oleh Kirsten Scott-Thomas. Sementara itu sang Ibu sudah memiliki keluarga sendiri dan memiliki dua anak. Dalam pertemuan antara John dan ibunya, mereka yang tadinya kurang akrab dengan segera menjadi dua orang yang saling cocok karena disatukan oleh kesukaan mereka akan musik.

Di pihak lain Bibinya merasa kehadiran si ibu telah membuat John agak mengabaikan sekolahnya. Konflik sering terjadi diantara ketiganya. Terlebih setelah John mengetahui kebenaran sesungguhnya, mengapa ia dibesarkan oleh bibi dan bukan ibunya.

Seiring dengan waktu, ketiganya bisa berdamai dengan keadaan. Dan di saat John mulai bisa mengenali lebih dekat orang yang melahirkannya, nyawa ibu direnggut oleh mobil yang menabraknya saat sedang menyeberang jalan. Ironis.

Kasih sayang akhirnya tercurah untuk sang Bibi. Setiap John melakukan tur di luar kota orang yang selalu dihubungi secara intens adalah bibinya. Hal itu terus dilakukan John hingga akhir hayat Bibinya.

Dengan menonton film ini kita jadi tahu bukan, apa yang dirasakan John di masa remajanya, perkenalannya pertama kali dengan Paul Mc Cartney dan grup musik bentukannya. Film ini juga dihiasi oleh lagu-lagu karya mereka berdua untuk pertama kalinya. Well, what a great movie. 🙂

Silakan komentar