Oh Vicky…Vicky…

Belakangan hari ini obrolan hanya dipenuhi oleh ulah sosok pria kontroversial bernama  Vicky Prasetyo alias Hendriyanto alias Helis.

si kontroversi hati
si kontroversi hati

Ulahnya cukup mengundang tawa namun juga olok-olok serta cemooh.  Semuanya seolah bersatu untuk menertawakan dan ‘mempraktekkan’ kata-katanya yang ajaib itu.  Dari mulai ‘kontroversi hati’, ‘konspirasi kemakmuran’, ‘labil ekonomi’, hingga gayanya yang mengucapkan bahasa Inggris secara ngawur. Entah apa yang ada dalam isi otak pikirannya sewaktu berhadapan dengan kamera wartawan. Apakah ia sengaja atau tidak mengeluarkan kata-katanya, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Terlepas dari gaya bicaranya yang aneh itu, kita seakan disadarkan bahwa sebagian besar masyarakat memang sebenarnya tidak paham dengan pemakaian bahasa yang kelewat tinggi itu. Alih-alih mempraktekkannya, masyarakat justru  seakan alergi dan tidak memahami maknanya. Seorang pakar bahasa bahkan malah menuding bahwa ucapan Vicky bisa jadi merupakan cermin para pejabat yang sok memakai bahasa intelek agar terdengar keren namun tak tahu apa yang dibicarakan.

Singkatnya, seminggu ini kita telah dijejali oleh kata-kata ‘intelek’ versi Vicky yang ajaibnya mampu mengendurkan syaraf ketegangan di tengah berita tentang  kriminal, sepak terjang partai yang sibuk berkonsolidasi, tertembaknya polisi atau peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa cukup banyak. Seakan-akan Vicky menjadi oase di tengah padang pasir penuh masalah yang menumpuk.  Walaupun latar belakang Vicky memang buruk tak bisa dipungkiri kehadirannya selalu ditunggu setiap menjelang penayangan infotainment minggu ini. Ada dua sisi yang ingin penonton respon, tertawa lagi dan lagi atau malah prihatin?  Mengherankan pula bahwa ucapannya memang benar-benar mengundang tawa. Apakah kita sedang menertawakan dirinya yang  nampak ‘bodoh’ seakan kita orang-orang pintar yang tahu makna ataukah  memang murni kita membutuhkan hiburan? Jawabannya berpulang pada masing-masing.

Tak adil rasanya kita menertawakan dan mengatainya ‘bodoh’ dan menganggap diri kita orang pintar. Namun faktanya, itulah hebatnya Vicky, selain bisa menjungkir balikkan kata-kata dari yang seharusnya bermakna menjadi tidak bermakna, ia juga punya rasa percaya diri yang tinggi. Sikapnya dalam mengucapkan kata-kata berbahasa Inggrisnya patut ‘dikaji’.Mengapa  ia menghantam  grammar seperti itu? Adakah rasa malu dan takut? Apakah memang itu cerminan pejabat kita dalam berkampanye yang asal bunyi? Kita berharap saja tak ada duta besar, diplomat, turis asing dan WNA yang menonton adegan  bahasa Inggris ala Vicky.  Mau ditaruh dimana muka kita? 🙂

0 Comments Add yours

  1. Messa says:

    Mukanya tetap aja ditaruh didepan mbak 😀 yah beginilah Indonesia mbak, enjoy aja 🙂 btw, salam kenal ya 🙂

Silakan komentar