Oper Sana, Oper Sini

on

Sudah lama saya gak naik kendaraan umum dalam perjalanan menuju kantor dan pagi ini saya jadi menaiki Metro Mini dan Kopaja, sebuah bentuk moda transportasi yang akrab banget dengan warga Jakarta. Biasanya saya berangkat kerja naik motor tapi kali ini terpaksa naik kendaraan umum, gak papalah. Selain juga ingin tahu pemandangan warga Jakarta yang berebut naik bus, juga karena saya butuh ganti suasana. ” />Saya juga ingin tahu apa kabar para penumpang Jakarta yang ‘terperangkap’dalam  bus-bus yang sudah bobrok itu.

 Dari rumah saya menumpang Metro Mini sampai perempatan CSW, lalu ganti naik Kopaja 19 jurusan Tanah Abang turun di pertigaannya lanjut lagi naik Metro Mini 640. Fiuh. Selama perjalanan, kejadian yang tetap khas dari melodrama penumpang adalah seringnya penumpang dioper-oper. Huh, kenapa juga sih masih ada praktek beginian? Untungnya kopaja yang saya tumpangi adalah kopaja yang menerima operan penumpang kopaja lain. Saya tak perlu repot untuk berebut tempat duduk. Tercatat dua kali kopaja saya menerima limpahan penumpang. Satu di Komdak, satu lagi di kawasan Karet. Hebatnya lagi, semua penumpang itu tak satu pun yang mengeluh, semuanya dengan pasrah bersedia dipindahkan. Apakah mereka sudah tak peduli atau sudah kebal, dan sudah biasa oleh keadaan seperti ini? Kalau saya dibegitukan, mungkin jika waktunya di pagi hari dalam suasana ‘takut terlambat sampai kantor’ saya pun akan pasrah. Tapi tidak dalam kondisi lain.

Hari Minggu lalu usai jogging di Senayan, kami pulang menumpang Metro Mini. Sesampainya di Taman Puring, bus berhenti untuk ambil penumpang, salah satu penumpang, seorang wanita ingin mencarter bus yang kami tumpangi, mereka – wanita, kenek, supir – bernegosiasi harga. Setelah disepakati, dengan santainya kenek menyuruh  seluruh penumpang untuk ganti bus. Wah jelas saya sebal,  saya muntahkan saja kekesalan itu. Rasanya puas kalau sudah dilampiaskan pada si kenek. Coba, hanya karena tergiur ongkos besar, sejumlah penumpang yang rata-rata perempuan harus mau dioper, belum lagi direpotkan dengan bawaannya. 😡

 Mengapa, mengapa untuk warga yang kantongnya pas-pasan malah dianiaya oleh keadaan, tidak dilayani dan terlindungi oleh angkutan publik? Sebuah pertanyaan retoris memang. Sebuah pertanyaan yang miris. Untuk sekarang ini kita tak bisa mengharapkan lebih dari para pengambil kebijakan di atas. Inilah yang dirasakan, tidak adil. Orang-orang kaya melenggang dengan sedan mulus, diistimewakan di berbagai  kondisi, didahulukan dalam hal apa pun, dari mulai cari tempat parkir sampai isi bensin. Dari  perlakuan Pak Ogah yang selalu memberi jalan lebih dulu saat di persimpangan hingga kenyataan bahwa si penumpang dalam sedan ternyata masih sempat berdandan, tidur dan sarapan pagi. Getir. Satu-satunya yang masih menghibur hati di dunia transportasi adalah dibedakannya tarif parkir dan tarif  tol antara mobil pribadi dengan kendaraan umum atau bahkan motor. Hanya sekeping adil, tapi semu nampaknya.

Mungkin saya belum banyak tahu hal-hal apa saja yang membuat saya lega, but for all the matters, it’s relieved. 😕

Silakan komentar