Oscar 2013, Life Of Pi

on

Ajang Oscar 2013 baru saja  berakhir dan hasilnya tidak terlalu mengejutkan karena telah banyak yang memprediksi dan banyaknya  award-award lain sebelumnya yang telah menjagokannya.  Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, saya pun tak ingin ketinggalan untuk menonton filmnya yang sebagian sudah diputar di bioskop Jakarta.  lopMenyaksikan film unggulan Oscar tahun ini saya kira tidak terlalu banyak tema yang aneh  sebagian besar adalah  drama. Drama rumah tangga, drama pembebasan, drama penderitaan yang diusung dengan nyanyian sepanjang film,  yang heroik (Lincoln) atau pun bergenre western ( Jango Unchained) semuanya  tersedia.

Ada satu film drama tentang kehidupan yang menurut saya sangat bagus dan mencengangkan karena di ajang penghargaan  sebelumnya  seperti BAFTA atau Screen Guild, film ini tak terlalu disebut-sebut. Film yang saya maksud adalah Life Of Pi (LOP). Tenggelam oleh film sekelas Argo, Les Miserables, atau pun Lincoln, film LOP ini sukses mencuri perhatian  dengan empat penghargaannya yakni, sinematografi, lagu asli, efek visual dan sutradara terbaik , Ang Lee. Gelar sutradara terbaik juga pernah diraih di ajang Golden Gobe. Dibandingkan dengan film unggulan lain, LOP disajikan dengan sederhana dan apa adanya. Menurut saya justru itulah kekuatannya. tumblr_mjsqvpNInJ1r6z9yoo6_r1_250Gaya bertutur, kilas balik, dan filosofinya sangat mengena di benak. Lebih dari sekadar kisah yang diangkat dari buku berjudul sama, Ang Lee sukses mengeksekusi kisah tersebut, meski pasti ada saja ketidakpuasan antara buku dan layar lebar dan adanya rasa pesimis karena orang bilang bukunya ‘berat’ apa yang akan diangkat ke film? Itu sah saja sepanjang esensi ceritanya tetap dalam koridor tema. Dan akhir kisah ditutup oleh perenungan. Untungnya saya menonton dengan  tidak membaca bukunya terlebih dahulu sehingga saya bisa dengan leluasa menyerap apa makna yang tersirat dari isi film ini.Mungkin bila sudah membacanya, kita akan selalu berharap lebih bukan? Well, Seluruh unggulan film Oscar tak luput dari adegan kekerasan, bunuh membunuh, urat syaraf, kecuali satu, si kuda hitam bernama LOP. Tak perlu ada kekerasan justru pengorbanan dan perenungan yang dalam akan perlunya bertahan hidup di tengah lautan bersama seekor harimau, hyena, orang utan, dan zebra. Sekali lagi ini film yang unik dan juri cukup jeli untuk menominasikannya. 🙂

Silakan komentar