#OscarWarm: Room, Dunia Sebatas Jendela Kaca

Dalam beberapa hal biasanya saya akan menonton film tanpa melihat dahulu resensi atau sinopsisnya. Namun karena banyaknya yang mengapresiasi film ini mau tak mau pikiran saya terpengaruh oleh peran yang digembar-gemborkan baik melalui media massa atau cerita teman.

Saya baru pertama kalinya menyaksikan akting Brie Larson. Ia terpilih sebagai nominator aktris terbaik Oscar 2016.  Berperan sebagai Joy (Brie Larson) yang hidup dalam sebuah Kamar (Room) dan hanya berdua bersama anaknya yang bernama Jack (Jacob Tremblay), membuatnya berakting dengan penuh kesungguhan. Dan sangat natural.

Melalui sudut pandang penceritaan Jack, kita tahu bahwa mereka berdua sebenarnya telah disekap selama tujuh tahun oleh pria bernama Old Nick (Sean Bridgers). Dan tak pernah sekalipun mampu untuk keluar dari gudang yang mereka sebut ‘Room’ itu. Segala kebutuhan hidup mulai dari mentega, sayuran hingga vitamin disediakan oleh Old Nick kecuali kebebasan.

Dalam Kamar yang sempit itulah cerita bergulir dan meninggalkan kesan mendalam bagi Jack. Dunia kecil Jack sehari-hari berupa ranjang, bak mandi, toilet, gambar-gambar, televisi dan sosok Ma. Satu-satunya dunia luar yang bisa ia saksikan hanyalah jendela kaca di atas mereka dengan warna langit yang berubah-ubah. Kadang biru, kadang hitam, abu-abu atau putih.

Sesekali seekor tikus muncul lalu menghilang.

Diangkat dari novel berjudul sama karya Emma Donoghue, cerita sangat mengalir dan membumi. Dengan skenario yang juga disusun oleh si pengarang, membuat kisah ini sangat menarik dan apa adanya. Tak ada alur yang terkesan bertele-tele atau lamban. Semuanya nampak natural dan ringan dicerna.

Isi cerita memang sederhana tapi bagaimana sang sutradara mengolahnya menjadi sebuah tontonan yang mengaduk perasaan dan mengusungnya hingga akhir adalah merupakan poin penting. Terutama pasca dibebaskannya Ma dan Jack dari penyekapan dan bagaimana interaksi keduanya terhadap Kakek dan Nenek Jack tentunya menjadi bahan perenungan tersendiri.

Saya justru lebih cenderung suka dengan akting Jack yang sangat apa adanya dalam bertindak. Apalagi saat hendak melompat dari mobil pik ap ketika ia ingin melarikan diri. Adakah yang lebih mengenaskan menyaksikan bocah yang tak pernah tahu dunia luar hingga akhirnya harus memutuskan sekian detik untuk melompat dan berteriak meminta tolong?

Sesudahnya, ternyata hidup di luar Kamar tetap sulit bagi Jack. Perhatian media yang gencar, perkenalannya dengan sosok dewasa seperti Kakek, Nenek, polwan, dokter, pengacara bahkan polisi sungguh sangat menakutkan baginya. Adaptasi adalah kata terakhir yang harus diterapkan di dalam rumah. Sementara Joy meski terlihat biasa saja namun ia juga menyimpan hal yang siap meledak di hadapan ayah dan ibunya.

Adegan menarik dari Joy menurut saya adalah saat makan malam bersama Kakek, Nenek, dan Leo. Ia meminta Kakek ( William H Macy) untuk menatap Jack. Namun sang kakek rasanya belum sanggup untuk menerima Jack yang dipandangnya hasil dari perkosaan. Di matanya, Jack adalah bagian dari monster penculik anaknya dan itu sulit diterima.

roomcreateSelain akting Jack, hal yang saya sukai adalah setting kamarnya. Kamar yang cuma seluas 3×3 meter ini sangat menantang bagi siapa saja yang menyaksikannya. Dan tentu saja unik karena di ruangan sempit mampu melahirkan dunia yang indah hasil ciptaan Ma dalam menggambarkan segala benda.

Tapi terlepas dari itu, permainan Joy dari awal hingga akhir tetap prima. Saat harus mengunjungi kembali Kamar yang dulu pernah menjadi tempatnya disekap, Joy terlihat ciut sementara Jack nampak tegar memandangi dan mengucapkan selamat tinggal akan kondisi ‘Room’ yang terakhir kali.

Akting Joy alias Ma keren, tapi menurut saya bintang dari Room ini dimiliki oleh Jack. Kemungkinan ia pasti akan dilirik untuk memainkan peran yang lain lagi.

 

 

 

Silakan komentar