#OscarWarm: Spotlight, Saatnya Terungkap

Menyaksikan film yang berlatar dunia kerja adalah hal yang terlihat biasa-biasa saja. Layar disuguhi dengan hilir mudik orang yang membawa berkas-berkas, kesibukan pegawai yang menelepon, rapat dengan sejumlah kepala departemen, karyawan yang suntuk di depan komputer serta tak ketinggalan istilah dikejar tenggat waktu. Namun menonton Spotlight, rupanya bisa lebih dari itu.

Mengungkap skandal yang pernah terjadi dan mengangkat tema kisah nyata ke dalam film merupakan sesuatu yang penuh tantangan. Adanya saksi hidup dan latar yang menyertainya merupakan daya tarik tersendiri untuk mengetahui sejauh mana sebuah film bisa menggali suatu kebenaran.

spotlight2Dunia kerja sebuah surat kabar bernama The Boston Globe mendadak menjadi lebih hidup yang ditandai dengan hadirnya seorang editor-in-chief baru di jajaran wartawan investigasi, bernama Marty Baron ( Liev Schrieber). Ia ingin mengangkat kembali kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi beberapa tahun silam. Sebuah kasus yang sudah mengendap cukup lama dan hanya segelintir berita saja yang terungkap. Terlebih lagi pelecehan ini terjadi pada institusi gereja Katolik dan cukup riskan untuk diungkap secara terang-terangan.

Tim investigasi yang menanganinya adalah tim Spotlight yang beranggotakan Mike Rezendes (Mark Ruffalo), Walter ‘Robbie’ Robinson ( Michael Keaton), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carrol ( Brian d’Arcy James). Sebuah tim yang kompak karena mereka bahu-membahu mengejar nara sumber dan berupaya mengungkapkannya dengan rinci.

Pada awalnya saya mengira film ini akan menampilkan cuplikan peristiwa-peristiwa pendukung cerita semisal gambaran pelecehan atau kenangan masa lalu para korban. Setiap hasil wawancara yang dibeberkan oleh para awak Spotlight, seluruhnya merupakan olahan yang mencengangkan. Dan rupanya itulah daya tarik film ini.

spot1_optFilm ini tak perlu gembar-gembor menunjukkan efek yang diderita korban. Cukup dengan adegan wawancara serta pengejaran tak kenal lelah terhadap para nara sumber penting sudah merupakan jawaban. Salah satunya, menunggui Mitchel Garabedian (Stanley Tucci) seorang pengacara para korban pelecehan yang selalu bersikap sinis.

Selain menampilkan pengejaran dan penggalian sumber-sumber tulisan dan kerja jurnalistik, unsur drama tak ditinggalkan. Kita bisa merasakan kekhawatiran Matt saat mengetahui tak jauh dari rumahnya ternyata tinggal pastur yang dicurigai pernah melakukan pelecehan. Ia merasa perlu untuk menuliskan pesan yang ditempel di kulkas agar terbaca anak-anaknya.

Meski terkesan biasa saja, namun misi yang diemban oleh para awak sangat menantang. Bila kita mengamati latar waktu yang terjadi pada saat itu (2001), akan terlihat posisi gereja masih sangatlah kuat. Campur tangan mereka sangat menentukan dalam mengubur rapat-rapat setiap penyelewengan pastur. Dan tim Spotlight harus selalu sigap dan lincah untuk mencari celah pembuktian adanya pelecehan tsb.

Spotlight memang tak sekadar menyoroti suatu kasus namun jauh lebih dari itu. Tim ini berupaya agar kasus ini bisa diangkat ke pengadilan.

spolight2Kekuatan film ini memang terdapat pada akting para aktor dan aktrisnya. Mark Ruffalo dan Rachel MacAdams terlihat menonjol dalam mengemban tugas yang dibebankan. Kegigihan dan perjuangan menemui para orangtua yang tak ingin diwawancarai adalah tantangan yang harus dituntaskan. Tak lupa peran Michael Keaton selaku editor Spotlight yang sangat berkomitmen serta aksi Stanley Tucci sebagai pengacara  yang tetap konsisten melindungi korban.

Sedari awal gambar-gambar yang ditampilkan terlihat muram seakan mewakili korban anak-anak yang dilecehkan. Sutradara  Tom McCarthy konsisten untuk menampilkan gambar lama disesuaikan dengan kondisi pada masa itu. Demikian pula score music seakan senada menyiratkan kemurungan.

Latar di era awal tahun 2000-an  memang masih tradisional. Kita akan lihat tim yang selalu mencatat di notes dalam setiap mewawancarai narasumber serta belum maraknya penggunaan ponsel yang berakibat menghambat kerja wartawan. Ini menarik.

Alur cerita berjalan lugas, padat dan tak membuang-buang waktu. Ada pesan yang kemungkinannya bisa menjadi kian berbobot dalam film ini. Bahwa setiap pelecehan memang harus diungkap dan siapa pun yang bersalah harus dihukum. Dalam Spotlight, tak hanya soal pelaku, pengacara dan korban tapi yang terpenting sebenarnya adalah sistem. Sistem harus dirombak total dalam hirarki gereja agar dapat kembali menjadi panutan umat.

Menurut saya tema seperti ini masih menarik dan tidak menggurui, tak heran film ini diunggulkan untuk kategori Best Supporting Actor, Best Supporting Actress , Best Director, Editing Film, Original Screenplay dan Best Picture dalam Oscar 2016.

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Belum tunta nontonnya

Silakan komentar