#OscarWarm: The Martian, Kesendirian yang Bersahaja

Apa jadinya bila kita hidup dalam sepi tanpa ada kehidupan yang ramai penuh manusia bercakap-cakap, tanpa ada kegaduhan dari makhluk lain, tanpa ada sosok lain yang bisa diajak berkomunikasi meski sekadar untuk berkata, “Hei”.

Kadang kita memang membutuhkan waktu untuk sendiri seperti misalnya di kamar, di perpustakaan, atau sembari duduk di kafe. Namun sebaliknya kesepian akan terasa menyakitkan bila itu memang ada dan berada jauh dari Bumi seperti di Mars.

Mark Watney (Matt Damon) terpaksa harus menjalani hidup soliter setelah tubuhnya terkena hantaman roket saat bersama tim yang dipimpin Komandan Melissa Lewis ( Jessica Chastain) bergerak kembali ke pesawat Ares III dalam suatu misi ruang angkasa di Mars. Ia terjatuh dan celakanya tim menganggap Watney telah tewas.

the-martianSaat mendapati dirinya terluka dan ditinggal oleh para anggota timnya, di sinilah cerita ini bermula. Awal yang menarik karena Watney  bukan jenis manusia yang berpangku tangan. Sebagai seorang ahli botani ia dengan mudahnya mampu membudi dayakan tanaman kentang dan menciptakan air.

Saya biasanya tak terlalu suka menonton tema film ruang angkasa karena ada hal-hal yang menurut saya monoton dan kurang menyoroti isu yang lain, selain tentang rapat di NASA, kondisi dalam pesawat, atau melayang di angkasa. Dulu saat menonton Interstellar yang kata sebagian orang bagus dan bagus bener itu, bagi saya justru filmnya berjalan  biasa saja. Tidak berkesan. Tema ruang angkasa adalah sesuatu yang ‘gitu-gitu aja’.

Namun saat saya menyaksikan The Martian, serasa ada pencerahan saat menyaksikan bahwa dalam kondisi yang sendirian dan tanpa ada makhluk satu pun, kita bisa tidak merasa kesepian. Film ini memberikan ide bagaimana sendirian itu bisa diusir dengan menciptakan suasana yang ramai.

Kesepian awalnya sesuatu yang mencemaskan namun sesudahnya adalah hal yang biasa-biasa saja. Bila sudah kesepian apa yang kita akan lakukan? Kita ciptakan kondisi yang ramai dan seru seperti yang dilakukan Watney. Ia selalu berbicara sendiri lewat monitor, selalu menyetel lagu-lagu disco tahun 80-an koleksi milik komandan Lewis, selalu menceritakan apa yang ia kerjakan, mencatat hal-hal penting atau menjelajahi wilayah lain saban hari. Kesemuanya adalah dorongan untuk tetap waras dan tidak terpaku pada kesepian yang menggigit sembari menanti bantuan dari Bumi.

martian-potatoesTerus terang saya mulai betah menonton film ini saat Watney sudah mulai menanam kentang. 🙂  Film yang tidak monoton dan justru membuat manusia berani menghadapi fakta. Film ini menceritakan tentang harapan dan cara bertahan hidup dalam menghadapi tantangan yang mencemaskan. Di samping itu juga mengedepankan kecerdasan dalam membangun ketahanan.

Alur cerita cukup luwes dan lurus serta tak ada yang namanya kilas balik atau sub alur lainnya. Sutradara Ridley Scott cukup piawai mengarahkan aktor untuk bersikap ‘membumi’ dibandingkan dengan menjadi astronot kawakan misalnya. Pujian ditujukan pada naskah skenario yang bagus yang diangkat dari novel laris karya Andy Weir berjudul sama.

Tak ketinggalan akting para pejabat NASA lainnya yang  sangat ingin memulangkan Watney kembali ke bumi. Peran mereka juga sangat memukau. Kesemuanya mampu membangun chemistry yang bagus banget  dalam upaya menjemput Watney. Suasana hati para tokoh yang dimainkan Jessica Chastain, Chiwetel Ejiofor ( Vincent Kapoor), Sean Bean, atau Jeff Daniels  mampu menyiratkan kondisi masing-masing. Perlu beberapa waktu, bertahun-tahun untuk menjemput Watney.

Meski temanya tentang ruang angkasa, tapi gambar yang disuguhkan tidak melulu tentang angkasa. Ada perdebatan, komunikasi, upaya pemulangan dan keberhasilan walau gagal sementara. Keberhasilan sepertinya sudah menjadi trade mark film Amerika yang kerap menonjolkan heroisme.

The Martian sangat menginspirasi, menghibur juga menyuguhkan pengalaman unik. Jangan lupakan soundtracknya seperti Starman-nya David Bowie, Dengan idenya yang sederhana-memulangkan-, rasanya ini merupakan ‘ejekan’ bagi Interstellar. Film ini tidak muluk-muluk dan disampaikan hanya dengan penceritaan sederhana lewat tagline; Bring Him Home.

“I’m not going to die here”.

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Sukaa banget film ini deh

Silakan komentar