#OscarWarm: The Revenant, Belajar dari Ganasnya Alam

Seandainya Hugh Glass memilih mati di tangan rekan sekaligus musuhnya yang bernama Fitzgerald, petualangan takkan menjadi sesuatu yang menantang lagi. Seandainya ia memilih mengedipkan mata saja untuk mengiyakan pilihan yang disodorkan Fitzgerald, sejarah akan tertulis berbeda.

The Revenant adalah sebuah kisah tentang ketangguhan dalam menaklukkan sekaligus berteman dengan alam yang ganas, loyalitas, kesetiakawanan, cinta ayah terhadap putranya dan balas dendam. Tersaji dalam suatu bingkai yang sangat luas, seluas hutan dan padang salju yang menjadi lanskap utama film ini.

Seorang pemburu bernama Hugh Glass (Leonardo DiCaprio)  terlibat dalam suatu ekspedisi pencarian kulit dan bulu yang dipimpin kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson) pada 1823. Rombongan ini sempat diserang oleh suku Indian Ree sebelum akhirnya mampu menyelamatkan diri.

Hugh Glass adalah seorang petarung sejati dalam arti, setiap halangan dan hambatan apa pun ia mampu mengatasinya. Alam yang tidak pernah ramah, kondisi yang lemah, cuaca yang ekstrem  bahkan kawan yang berniat membunuhnya pun telah membuatnya kuat dan tegar dan mendorongnya untuk beradaptasi.

tumblr_inline_o14jyhG59A1qfqdmq_540

Kita tidak disuguhi keadaan yang melankolis, namun juga tidak garang. Ada saat dimana Glass menemukan sisi humanisnya dengan terus menemani mayat anaknya. Lewat Hugh Glass kita dituntun untuk beradaptasi sebesar-besarnya dengan kondisi yang ada. Hutan yang minim bahan makanan, salju yang terbentang, sungai yang berkelok panjang adalah paket lengkap alam yang brutal untuk satu motivasi penting: bertahan.

dime-novel-page-1.jpg-5349520827Diangkat dari kejadian nyata, The Revenant menyodorkan petualangan epik seorang penjelajah legendaris yang bertahan dan menuntut balas.

Film ini menarik karena sangat maskulin. Tak ada sosok perempuan yang memegang peranan penting kecuali siluet wanita Indian. Kehidupan keras adalah menu utama. Salah satu adegan menarik di film ini menurut saya adalah pertarungan dengan beruang. Ini mungkin menjadi tontonan pertama kali seorang Leonardo dicabik-cabik oleh beruang betina yang guede banget badannya itu.

Adegan lain adalah saat Glass dikubur hidup-hidup oleh Fitzgerald. Wajah dan gesture berselang-seling menampilkan ketidakberdayaan apalagi saat menyaksikan anaknya, Hawk, tewas ditusuk tepat di depan matanya. Ada semacam kehampaan setelahnya yang membuat penonton bersimpati dan betah menonton hingga akhir.

alejandro inarrituDi bawah arahan Alejandro Inarritu, film yang awalnya pesimis akan saya  tonton karena hanya menampilkan cerita semacam balas dendam, akhirnya menjadi kisah yang lebih berwarna melebihi drama petualangan layaknya. Dengan teknik pengambilan gambar longshots, kita seakan ikut terlibat di tengah medan berat pada masa itu. Kamera tak lepas menyoroti pergerakan para tokoh dan aksinya masing-masing. Mungkin bila disaksikan lewat IMAX akan terasa lebih sensasinya.

Unsur sinematografi memang sesuatu yang mutlak disuguhkan dalam film ini. Ada semacam potensi yang membuat kita menjadi hanyut untuk menyaksikan segala aspek visual yang tersaji. Ini salah satu yang membuat saya betah menonton meskipun durasi film memakan waktu dua jam lebih.

Hal menarik lainnya adalah tentang kostum. Dalam balutan busana yang terkesan tumpuk-tumpuk, mantel bulu beruang yang dikenakan Glass sangat mencuri perhatian. Memang yang tertangkap kesan adalah kostum yang apa adanya. Pakaian yang dikenakan para pemburu di zaman itu mungkin dikondisikan untuk hanya menutupi rasa dingin. Lain tidak. Namun terlihat bagus.

tomSeorang Leonardo nampaknya kian matang dan jeli untuk memilih peran yang sangat menantang kali ini. Dan saya akui pasca The Wolf of Wall Street, akting Leo menunjukkan tingkat kematangan yang tinggi. Ia tak sekadar berperan tapi juga menyelami dan ‘masuk’ ke dalam jiwa Hugh Glass. Jangan lupakan peran antagonis yang dibawakan oleh Fitzgerald (Tom Hardy). Sebagai orang yang selalu memanas-manasi keadaan, bisa dibilang dialah pemantik api jalannya cerita.  Aktingnya sangat pas. Menonton sekitar 45 menit, saya baru sadar bahwa sosok ini adalah Tom Hardy, si pemeran Bane dalam The Dark Knight Rises!

Maka tak heran film ini dinominasikan Oscar 2016 untuk berbagai kategori mulai dari Best Picture, Directing, Visual Effect, Best Cinematography, Film Editing, Costume Designer, Best supporting Male dan tentu saja Best Actor, minus Best Actress! 🙂

4 Comments Add yours

  1. Nugros C says:

    Sejujurnya gw sbg fans Dicaprio agak bosen liat dia dgn peran grim…depress mulu (well, Wolf of Wall Street tempo hari lumayan beda),, tapi semoga akting ‘grim’ dia disini bisa menang Oscar !

    *salam kenal ya….

  2. Erna says:

    Kalau menang Oscar nanti, gak bosan lagi pastinya…salam kenal kembali.

Silakan komentar