#OscarWarm: The Theory of Everything, Tak Cuma Teori

The Theory of Everything berkisah tentang pasangan suami istri yang menjalani bahtera rumah tangga dengan segala keterbatasannya. Sang suami yang begitu terkenal dan dihormati di dunia ini bernama  Stephen Hawking, seorang fisikawan dan kosmolog yang mempopulerkan teori Lubang Hitam dan istrinya, Jane. Menarik untuk melihat kehidupan seorang ilmuwan terlebih bila ia terserang penyakit langka, ALS  beserta riak-riak hidupnya. Ceritanya lebih menyoroti sisi kehidupan pribadi dimulai dari sejak Hawking muda yang menuntut ilmu di universitas Oxford dan Cambridge hingga ke masa-masa ia menjadi semakin tenar. Pertemuannya dengan seorang mahasiswi bernama Jane Wilde,  penderitaan dan pernikahan yang menghasilkan 3 anak adalah warna-warni perjalanan hidupnya. Orang awam pasti ingin tahu bagaimana seorang ilmuwan yang lumpuh mengelola rumah tangganya. Jane selalu berupaya untuk selalu ada di samping suami, selalu sigap membantu, membelikan kursi roda dan melakukan apa saja demi lancarnya sebuah rumah tangga yang sejujurnya hanya ada satu penopang saja. Penonton pun mafhum bahwa menjalani biduk rumah tangga seorang “diri” akhirnya akan berada di titik lelah. Dan celah ini bisa dimasuki oleh orang ketiga. Tapi siapa yang harus disalahkan? Saat Jane menikahi Hawking, ayahnya sudah mengingatkannya akan konsekuensi yang harus ditanggung seumur hidupnya. Dan Jane akhirnya tetap menikahinya. Begitulah cinta.

theory2_bigDi awal tayangan saya bertanya-tanya  mengapa  film ini bisa terpilih dalam nominasi Oscar? Karena  terus terang, film ini tak ada letupan, tak ada konflik yang sangat memanas, tak ada yang menukik, tak ada adegan yang membuat kita merasa ‘ting’! Seakan kita sedang menonton drama seri BBC saja.  Namun akhirnya ada sesuatu yang membuatnya bagus. Film ini menceritakan martabat dan nilai kehidupan. Saat divonis hidup Hawking tinggal 2 tahun saja, saat itulah semangat hidup justru bangkit.  Ketika dokter melakukan  tracheotomy agar ia bisa tetap bernafas tapi tak bisa bicara, Hawking justru mampu menghasilkan buku laris, A Brief History of Time.

Eddie Redmayne sangat pas memerankan Hawking muda hingga tua lengkap dengan jalan yang terseok-seok, kepala yang lunglai, dan bicara yang cadel. Luar biasa. Tak heran ia menang Golden Globe 2015 kemarin untuk Best Actor. Jangan lupakan Felicity Jones sebagai Jane Wilde. Aktingnya juga sangat alami. Selain akting mereka berdua, yang menyodok perhatian adalah original scorenya. Bagi yang sering menonton film-film BBC pasti akan merasa score music film ini tak jauh berbeda dengan drama romansa Inggris. Indah dan menjiwai sekaligus manis.

theory-of-everything-costume-designer-stephen-noble-600x300Film ini akhirnya menghasilkan dua sisi yang berbeda, inspiratif tapi juga depresi. Hawking dan Jane mati-matian mempertahankan rumah tangga mereka namun di tengah jalan sama-sama merasa letih dan bertemu orang lain. Di tangan sutradara James Marsh, film ini tak menjadi sebuah kisah hidup semata.  Tak selalu happy ending seperti gaya film Hollywood namun dari cerita ini kadang kita bisa ambil pelajaran. Klise memang.

Nah, dengan 5 nominasi Oscar untuk Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Original Score, dan Best Adapted Screenplay, akankah The Theory of Everything memenangi salah satunya? Kita tunggu saja.

One Comment Add yours

Silakan komentar