Password, Oh My Password

on

Membicarakan password atau kata sandi seolah membicarakan ‘rasa sambal hari ini apa?’ Apakah pedas, pedass (dengan dobel ‘ss’), atau pedasnya sedang.

Jadi begini, beberapa hari yang lalu saya mengalami lupa dalam mengingat password. Sebagai manusia modern, kita tentu sudah tak asing lagi dikelilingi oleh berbagai mesin yang mensyaratkan adanya password. Hampir semua mesin peralatan yang menyimpan kerahasiaan manusia masa kini pasti mengharuskan pencantuman kode-kode. Entah pada saat membuka gadget, membuka mesin ATM, login internet, bahkan untuk memasuki rumah pun mungkin harus berpassword.

Bayangkan, saat berselancar di internet, berapa kali kita harus mengingat kode-kode password ini. Pertama saat membuka komputer di kantor, saat berkunjung ke yahoo e-mail, -yang tentu saja masih bisa diingat luar kepala  passwordnya-, lalu berturut-turut saat membuka twitter, log in situs bank, menengok facebook, menulis blog, membuka situs-situs berita seperti Kompas.com, femina-online, dll mulailah malapetaka dimulai. Saya mulai gagap dalam mengingat berbagai password ini. Terlalu banyak model password yang harus saya ketikkan dalam waktu yang belum mencapai setengah hari ini. Dan sukses membuat saya bengong. 🙂

Diantara situs ini ada yang mensyaratkan kombinasi susunan hurufnya berupa kata-kata alay ditambah dengan angka beserta ukuran besar kecil yang pastinya menambah kebingungan saya dan membuat saya sadar kalau daya ingat mulai lemot. Ada yang menyarankan untuk mengingat hanya satu kata saja untuk seluruh pemakaian baik untuk email, buka situs, atau untuk menulis blog tapi menurut saya itu sangat berresiko. Siapa yang akan menanggung bila suatu saat salah satu e-mail, tulisan kita di blog, atau rekening di bank diketahui sekaligus dibajak atau dibobol orang yang tak bertanggung jawab?

Memang ada satu cara agar otak  tak perlu repot-repot memforsir daya ingat yakni dengan mengklik kotak yang berbunyi “Remember Pasword”. Dan memang, di internet disediakan pula bantuan berbunyi “Forget the password”? Tapi ini pun tidak menolong. Manusia tetap harus dipaksa mengingat deretan kata dengan konsekuensi apabila terlupa, tanggung sendiri akibatnya. Hal yang saya cari saat ini adalah bagaimana caranya agar otak kita mampu menampung sejumlah  password itu. Atau kemudahan semisal satu kata password untuk semua jenis laman dan situs. Seandainya itu terjadi betapa bahagianya saya dan sekaligus mencemaskan! Atas nama menjaga kerahasiaan saya harus berpayah-payah dahulu mengingat nama apa yang harus diketikkan di kotak password. Saya mengidam-idamkan suatu saat akan ada revolusi cara mengingat password yang praktis. Jadi untuk saat ini saya masih akan selalu termangu dahulu untuk menuliskannya. Apakah password di situs ini berbunyi: pedas? Atau  berbunyi, pedass (huruf kecil dengan dobel ‘ss’), atau ditulis: pedas_sedang? Ah, membingungkan. 😉

Silakan komentar