remeh tapi meminta perhatian

Pengalaman Pertama Nyasar ke Stasiun Kramat Jakarta saat naik KRL

Pengalaman Pertama Nyasar ke Stasiun Kramat Jakarta saat naik KRL

Kalau sedang naik KRL lalu tiba-tiba tidak turun di stasiun yang hendak kita tuju, apa yang terjadi? Sesaat pasti merasa bingung. Itu jelas. Lalu sesudahnya apa? Segera menghampiri petugas dan menanyakan KRL mana yang terdekat waktunya untuk mengantar kita ke stasiun tujuan. Kedengarannya sederhana dan mudah sekali dijalankan ya. Namun praktiknya tidak demikian.

Peristiwa ini saya alami ketika menaiki KRL jurusan stasiun Manggarai. Saya berangkat dari stasiun Cibitung dan akan transit di stasiun Manggarai untuk naik lagi ke stasiun transit Tanah Abang yang selanjutnya akan mengantarkan saya ke stasiun terakhir, Kebayoran.

Biasanya nih, saya naik dari Cibitung pukul 17.50 sesuai jadwal. Tapi saat itu saya justru naik yang jadwalnya pukul 17. 25. Dan saya lihat tulisan di badan KRL itu tujuan terakhirnya ke stasiun Jakarta Kota. Biasanya juga meskipun tulisan tujuan akhirnya Jakarta Kota, toh tetap nanti akan lewat dan berhenti di Manggarai.

Setelah beberapa stasiun terlewati, tibalah di stasiun Jatinegara. Sesuai urutannya sesudah Jatinegara ini kita akan temui stasiun transit paling ramai, Manggarai. Mengetahui hal itu, saya pun bersiap-siap untuk turun.

Bukan ke Manggarai

Namun sepertinya ada keanehan. Sesaat setelah menutup pintu KRL, ada pengumuman dari announcer kereta berbunyi seperti ini, “…Stasiun berikutnya Pondok Jati” lalu disambung suara announcer lain “…stasiun berikutnya, Manggarai…” Saya awalnya bingung, kok suara pengumumannya tumpang tindih begitu. Tapi karena sering mendengar tipe pengumuman yang error seperti itu, saya tenang saja.

Sekilas saya memperhatikan banyak penumpang yang menurut perasaan saya banyak sekali yang ingin turun di stasiun Jatinegara. Dan saya hanya mengira hal itu wajar karena mungkin banyak penumpang yang sedang ada urusan di Jatinegara.

“Wah, maaf kereta ini nggak berhenti di stasiun Manggarai…”

Lalu kereta berjalan tenang. Tak lama saya melihat ada penumpang yang turun tapi bukan di stasiun -entah masih di peron Jatinegara barangkali- dan saya melihat ada petugas di dekat pintu kereta. Spontan saya bertanya, apakah stasiun Manggarai masih lama, dan si petugas dengan bingungnya menjawab bahwa kereta ini tidak melintasi Manggarai. Apa?

Ternyata KRL ini secara harfiah memang langsung ke stasiun Jakarta Kota! Sesuai dengan yang tertulis di bagian depan KRL nya. Dan tidak mampir ke Manggarai. Wadidaw, saya berusaha tenang meskipun ada rasa kaget sesaat.

Akhirnya saya putuskan untuk turun di stasiun berikutnya saja, entah di mana. Agak bengong dan gak tahu arah mana yang dituju. Dan sudah pasti berantakan rencana A ini, kira-kira begitu pikiran saya waktu itu.

Stasiun Kramat

Saya ingat-ingat lagi apakah ada pengumuman yang luput dari pendengaran saya, atau karena saya terlalu menganggap enteng cuap-cuap si announcer sewaktu berada di kereta sehingga saya tidak tahu. Pantas, banyak yang turun di stasiun Jatinegara. Rupanya penumpang yang ingin ke Manggarai harus transit di stasiun Jatinegara.

Nah, jika naik bus kalau salah jurusan, pasti kita akan segera minta turun dengan segera. Lha ini kereta, mau tidak mau kita harus turun di stasiun berikutnya yang sudah pasti akan memakan waktu lama dan jauh.

Akhirnya saya turun di stasiun Kramat. Dan yang salah jurusan gak cuma kami tapi ada beberapa orang yang juga mengalami hal yang sama. Kebetulan ada petugas dan saya diberitahu bahwa jika hendak ke Manggarai langsung, silakan menunggu KRL jurusan Bogor. Atau kalau tak ingin menunggu lama bisa ke Jatinegara (awalnya saya ingin naik ke Jatinegara, untung tidak jadi) kemudian transit di sana untuk ke Manggarai.

“Memang tujuannya mau ke mana? Ke Manggarai atau Tanah Abang? Sebentar lagi krl nya datang”

Tapi saya lalu mikir, buat apa ke stasiun Manggarai? Lebih baik langsung saja ke stasiun Tanah Abang yang barangkali saja ada KRL yang bergerak ke arah sana.

Akhirnya saya bertanya ke petugas, apakah ada KRL yang langsung ke Tanah Abang. Dan dijawab KRL nya ada, dan akan lewat sebentar lagi.

Tak lama datang juga KRL yang ditunggu-tunggu. Saat itu pukul 19.38 WIB. Kebetulan tempatnya agak kosong. Sempat ketar-ketir, apa benar kereta ini atau bukan yang akan mengantar saya ke tujuan mengingat kami belum pernah naik yang jurusan Bogor.

Perjalanan yang Panjang

Stasiun demi stasiun dilewati, tapi kok belum sampai juga. Dalam hati ini KRL sebenarnya mau ke arah mana. Dan setelah menyimak rute KRL di ponsel barulah saya paham rute yang ditempuh ini ternyata maha panjang dengan banyak stasiun yang harus dilewati. Gang Sentiong, Pasar Senen, Kemayoran, Rajawali, Kampung Bandan, Duri….Tanah Abang.

Astaga, jadi lama sekali ya perjalanannya. Tapi untunglah lancar dan tidak ada hambatan. Selalu dapat tempat duduk dan KRL nya langsung jalan tidak berhenti lama.

Hikmah dari salah naik kereta jenis KRL ini adalah kita harus selalu memonitor, mendengar pengumuman yang disampaikan via TOA atau untuk memastikan lagi adalah dengan bertanya kepada petugas agar tidak ada waktu yang terbuang percuma hanya gara-gara persoalan kecil ini. Mengapa? Karena perjalanannya ramai dengan pergerakannya yang dinamis dan seringnya perubahan jadwal yang mendadak atau ada kendala teknis lainnya.

Waktu itu sih memang sedang ada proyek revitalisasi wesel yang menyebabkan berubahnya stasiun pemberhentian dari yang biasanya. Tapi saya gak menyangka bisa terkena imbas nyasar seperti ini.

Sesampainya di rumah kami hanya tertawa-tawa karena teringat pada saat tidak bisa turun di stasiun yang dituju. Seru dan ada pengalaman baru. Total waktu yang ditempuh sejak dari Cibitung sampai rumah, kurang lebih 3 jam.

1 thought on “Pengalaman Pertama Nyasar ke Stasiun Kramat Jakarta saat naik KRL”

Leave a Reply to matureorchid Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *