Pengamen itu

on

Pulang kantor kemarin saya menumpang kendaraan Metro Mini dari  perempatan CSW. “Wah, penuh sekali penumpangnya terpaksa berdiri nih.” Pikir saya. Ya sudah, saking penuhnya penumpang, badan ini cuma nyempil di dekat pintu saja. Saat saya hendak menaiki tangga lagi, mata saya tertumbuk pada seorang pengamen pria yang hanya dengan gitar saja sedang menyanyikan lagu-lagunya Keris patih. Walah, bis sudah penuh sesak seperti ini koq si pengamen masih santai saja bernyanyi. 😮  Seiring bis melaju, penumpang  pun semakin banyak yang naik (jarang yang turun). Dan si pengamen masih saja bernyanyi dan  tidak ada niat menyudahinya.

Diam-diam saya kesal kenapa ia tidak cepat-cepat turun dan menghilang. Malahan, ia menambah lagu-lagunya Keris patih sebanyak 5 lagu. Wow! Ini pengamen murah atau memang sedang menyalurkan bakat ya? Sekalinya ngamen dia memberi kita para penumpang yang sedang suntuk, bete dan mengantuk ini 5 lagu dengan cuma-cuma. Padahal suaranya gak terlalu bagus apalagi permainan gitarnya. Biasa. 😉

Ternyata baru saya tahu kalau pengamen ini memang menumpang bis untuk pulang. Jadi sepanjang jalan ia ngamen agar tidak dimintai ongkos. Tapi, pernahkah ia menyadari kalau kebolehannya itu membuat penumpang menggerutu? Penumpang penuh sesak, dan ia mainkan gitarnya yang diayunkan ke kiri dan ke kanan itu seolah disekelilingnya empty space. Hasilnya ujung gitar itu sesekali menyenggol tubuh penumpang termasuk saya. Well, mungkin karena lelah dari perjalanan, penumpang maunya memarahi, bersungut-sungut dan merem saja tak peduli tapi setelah saya turun dari bis baru saya menyadari betapa kerasnya hidup di Jakarta demi mencari sekeping rupiah

Silakan komentar