Perjalanan ke Bulan Ketiga

on

Melanjutkan perjalanan yang tertunda seperti memasuki suatu kanal baru dengan atmosfer berbeda. Itu kesan saya selama bekerja di tempat ini. Memang belum keseluruhannya bisa dirasakan (kalau memang ada yang belum), tapi menjalani hari-hari selama dua bulan berjalan ini sungguh menarik bila tidak diberi catatan.

Awal-awalnya  adalah masa adaptasi yang tentu saja agak mengejutkan bagi tipe orang yang terbiasa dengan old school. Maksudnya saat  di tempat lama budaya kerjanya  santai dan cenderung tidak bergerak. Sebaliknya di sini segalanya harus diputuskan dengan cepat dan tak ada waktu untuk leha-leha (baca : tidur siang 🙂 ) kondisi kerja pun memang mendorong orang untuk bergerak  dan tidak statis di tempat.

Banyak pekerjaan rumah yang tertunda akibat gonjang-ganjing di bulan-bulan lalu akhirnya diusahakan beres termasuk urusan remah-remah yang berceceran. Semua ini demi mewujudkan  citra baru dari perusahaan. Entah mengapa masih ada saja yang terseok-seok megikutinya. Mungkin untuk move-on itu sesuatu yang berat banget sehingga perlu dilecut.

Dalam waktu dua bulan saja banyak terjadi perubahan yang drastis  dan signifikan. Bagi saya   perubahan yang signifikan bukanlah sesuatu yang membuat terkejut, justru itu menjadi penanda dan titik penting bahwa sebagai manusia kita memang kadang harus ikut arus ( yang positif ) kalau tidak mau dilindas zaman.  Perubahan meskipun berat memang kudu dijalani. Masalahnya beberapa ada yang siap dan ada  yang tidak.  Bagi yang siap itu akan menjadi sesuatu yang penting , tonggak sejarah dan penuh tantangan , Bagi yang belum siap, urusan psikis menjadi faktor yang rentan untuk   menjadi lemah. Seperti misalnya kalau sudah nyaman di suatu tempat namun akhirnya dipindah ke tempat yang baru dan tidak enak .  Lalu perasaan menjadi nelangsa, sedih, merasa terbuang dan sebagainya.

Faktor seperti itu sebenarnya bisa dialihkan dengan menganggap bahwa kita hendak ‘naik kelas’, akan naik ke tahap yang lebih tinggi. Nah dengan berpikir demikian, niscaya pikiran kita tak terbebani oleh kondisi yang nelangsa itu. Sebaliknya, buktikan saja bahwa pekerjaan ini menjadi beres di tangan kita.

Dua bulan belum menjadi apa-apa, untuk sebuah tolok ukur kesuksesan masih terlalu dini bila dinyatakan. Justru sebenarnya masih ada yang belum terungkap atau dijelajahi. Masih ada misteri-misteri kecil yang belum terungkap.

616_optAda beberapa kemewahan (kalau boleh disebut kemewahan) yang saya rasakan dibanding bekerja di tempat lama. Seperti misalnya dahulu sebelum berangkat saya mesti menyiapkan bekal untuk makan siang. Kini  hal itu tidak lagi karena  di tempat baru  pihak kantor sudah menyiapkan kantin yang tak jauh letaknya dan higienis. Makan siang dengan sistem kupon adalah cara paling praktis,  Selain  makan siang itu menjadi ajang untuk bercerita banyak hal dengan teman, berada di luar kantor yang  ber-ac  merupakan kebutuhan bagi tubuh kita agar bisa sempat bernafas dengan udara hangat, terpapar sinar matahari, angin yang bertiup bahkan debu mobil yang beterbangan 🙂 .

Lalu, ritme kerja yang lebih berbobot dan menantang dengan jumlah pegawai yang super ramping ternyata menjadi tantangan tersendiri untuk dihadapi. Ini memang bagian sulitnya.

Bagi saya pribadi, dua bulan juga memberi aneka cerita pada saat pergi pulang. Kini alat transportasi yang paling handal adalah dengan commuter line. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini pengalaman baru banget untuk saya sendiri karena yang awalnya tak pernah  terpikirkan harus beradu otot dengan para pekerja lain setiap jam pulang kantor di stasiun -Jangankan menginjakkan kaki di peronnya, menoleh pun tidak pernah- Lha, sekarang justru saya setiap hari harus  menjejalkan diri agar bisa masuk ke gerbong. Dari yang tadinya tidak perlu memiliki kartu, kini saya harus menyiapkan dua kartu setiap harinya. Kartu KMT untuk naik Commuter line, dan kartu e-money untuk naik busway.

Hidup memang misteri dan sebagai manusia kita memang hanya menjalaninya. Siapa sangka saya akan berurusan untuk naik kereta atau busway kembali. Terakhir intens naik busway sekitar sepuluh tahun lalu saat masih bekerja di jalan Tanah Abang 2. Itu pun jumlah armadanya   belum sebanyak  dan seramai seperti sekarang.

Menyongsong bulan yang ketiga di masa percobaan ini, semoga perjalanan masih tetap diisi dengan kegairahan bekerja dan bersemangat di setiap hari-harinya.

 

 

Silakan komentar