Perjalanan Pulang

on

Setelah  bekerja  seharian badan terasa lelah, mata sudah setengah mengantuk, perut lapar namun mesti berjuang satu langkah lagi  menuju rumah yakni menjadi penumpang alias memakai kendaraan umum. Kalau dipikir-pikir ini toh juga travelling kecil-kecilan yang dilakukan setiap hari, bolak-balik, pergi pulang. Jadi pasti akan biasa-biasa saja. wo-Tapi jujur saja saya kadang sangat  merasa malas melakukan ritual perjalanan pulang. Bukan berarti gak mau pulang dan jadi betah di kantor, tidak juga. Namun karena saya selalu memasang target waktu yang katakanlah terlalu muluk-muluk yang pada akhirnya gatot -gagal total. Keluar kantor  harus pukul 18.00 tenggo! Berjalan sampai depan kantor  harus sekitar 7 menit, berdiri menunggu di pinggir jalan raya yang penuh debu (berdiri saja)  sekitar …nah ini yang tak bisa dipastikan sebab tergantung oleh angkot kesayangan berwarna merah mencolok itu lewat. Bisa sekitar 15 menit baru tiba, bisa juga sekitar setengah jam lebih. Dan  apabila lebih dari 15 menit tak juga lewat, terpaksa berjalan kaki semampunya hingga  mendapatkan kendaraan kedua, my beloved kopaja. Setelah dapat tempat duduk barulah saya merasa tenteram dan damai  bahkan tertidur zzz…zzz..  🙂

Kelihatannya sederhana namun dalam praktiknya sangat  sering meleset dari hitung-hitungan menit apalagi jamnya. Dan saya paling sebal yang namanya menunggu. Ada elemen ketidaksabaran di otak saya yang membuat saya kadang menjadi lebih temperamental bila mendapati keterlambatan demi keterlambatan. Semisal dalam hal naik angkot. Terkadang supirnya akan membawa kendaraannya pelan-pelan saja sementara penumpangnya ingin segera cepat sampai. Atau saat bayar ongkos, si supir masih sibuk dengan mencari-cari uang kembalian. Itu semuanya  akan memberi efek berantai pada kendaraan berikut yang ingin kita tumpangi.  Satu kendaraan lamban seperti siput alamat sampai rumah lebih terlambat lagi. Padahal ini dilakukan setiap hari dan mengapa saya selalu menemui hal remeh tapi mengesalkan begini?

Kadang saya merasa betapa enaknya mereka yang punya kendaraan pribadi dan tak perlu repot dengan perjalanannya. Bisa dengan cepat sampai di tujuan, dan bukankah itu suatu keuntungan karena selain hemat waktu juga banyak hal yang bisa dilakukan sesampai di tujuan. Meskipun pepatah ‘Tua di jalan’ benar-benar sebisa mungkin saya hindari, tak dapat dipungkiri kadang  ada saja kendala yang membuat kita tertahan  lama di jalanan. Dan apabila perjalanan di hari itu lancar dan tak meleset dari perkiraan waktu, sampai rumah saya pasti tersenyum lebar. 😀

0 Comments Add yours

  1. Naik kendaraan umum juga asyik ko 😀 . Coba angkot ada jadwal datangnya ya hehe, klo ditempatku sini bus ada jadwalnya, jadi 5 mnt sebelumnya harus sdh nunggu si bus, klo telat nunggu 30 mnt berikutnya.

    1. Ernawati says:

      Waah kalo itu diterapkan di dekat tempatku kerja, pasti senyumku bakal lebaar banget 🙂

  2. matureorchid says:

    Kalau begitu solusinya harus punya kendaraan pribadi ya :))

    1. Ernawati says:

      kendaraan pribadi kalo kejebak macet juga bingung 😕

Silakan komentar