Pilih Mana? Kendaraan Berbasis Aplikasi atau yang Biasa Saja?

Sejak beberapa hari lalu ramai diberitakan adanya demo angkutan umum yang menentang pemakaian kendaraan berbasis aplikasi. Rupanya sekarang ini muncul istilah berbasis aplikasi atau online dan kesannya keren banget.  Apa sih berbasis aplikasi ini?

Istilah ini diciptakan oleh pers yang merujuk pada pemesanan penggunaan kendaraan  dan dilakukan via aplikasi yang ada di ponsel pintar. Dewasa ini mana ada sih yang gak kenal aplikasi? Apa-apa dilakukan lewat aplikasi. Dan sangat mudah melakukannya. Semudah menjentikkan jari.

Para pengemudi angkutan umum mulai kebakaran jenggot karena tanpa sadar penumpang langganannya kian lama kian berkurang. Dan akhirnya mengkambinghitamkan kendaraan berbasis aplikasi. Saya gak akan menguraikan secara detail apa isi demonya, namun saya ingin sekali mengeluarkan uneg-uneg tentang rendahnya layanan angkutan  yang menjadi kendaraan sehari-hari sebagian warga ibukota.

Sebagai seorang penumpang yang sehari-hari pulang pergi memakai kendaraan umum, wajar saja menginginkan layanan yang nyaman.  Seandainya saja supir angkot atau kopaja atau metromini  ini satu pikiran dengan saya yang menginginkan cepat sampai tujuan plus tanpa ngetem, tanpa oper sana-sini, dan tidak ngebut kesetanan tentulah saya pasti akan membela mereka.

Namun kenyataan tidak demikian. Penumpang itu prinsipnya ingin cepat sampai ke rumah dan merasa nyaman  selama perjalanan. Jika salah satu saja tidak terpenuhi maka angkutan umum memang harus memiliki pesaing. Pemesanan kendaraan via aplikasi mungkin pesaing yang manjur dan banyak keuntungannya. Dari berbagai komentar teman-teman yang pernah memakai  ojek-aplikasi, tak ada yang menyiratkan kesan negatif mulai dari pemesanan hingga eksekusinya. Rata-rata lancar saja.

Nah bandingkan dengan ojek pangkalan yang kadang meminta tarif yang lebih mahal tapi layanannya kurang sip.

Oh ya, saya juga sering merasa naik taksi itu menyebalkan. Apa pasal? Ditolak supir! Sudah lelah menenteng tas belanjaan tapi sang supir cuma duduk nongkrong merokok dan ogah narik. Coba bayangkan, ada penumpang tapi supir menolak mengantar. Absurd banget kan? Kalau tidak mau mengantar mengapa memilih jadi supir? Tidur saja di rumah. 🙂

Keburukan taksi selain menolak penumpang adalah tak tahu jalan. Kadang tahu jalan tapi malah mengambil jalan memutar menghabiskan waktu dan menaikkan argo.  Atau curhat bicara ngalor-ngidul seraya mengurangi kecepatan dan imbasnya sampai tujuan malah telat.

Tidak juga dipukul rata sih. Saya juga sering menerima pelayanan yang baik dari para supir taksi. Mulai dari membukakan pintu, memasukkan barang ke bagasi atau perjalanan yang lancar tanpa neko-neko. Tapi itu sedikit presentasenya.

Ciri orang kita dalam menyelesaikan masalah cenderung untuk menyalahkan hal lain dan ini juga berlaku pada demo angkutan umum beberapa hari lalu. Alih-alih memperbaiki kinerja, mereka malah justru menyalahkan dan menuntut agar kendaraan berbasis aplikasi ini dihilangkan. Lha kalau pelayanannya tetap amburadul gak salah kan ya penumpang memilih yang nyaman dan cepat sebagai pilihannya?

Padahal, kalau dilihat lebih jernih sebenarnya yang harus berubah adalah para angkutan konvensional ini. Zaman sudah berubah, pemakaian teknologi kian maju, penumpang makin kritis. Ada baiknya mereka yang protes dan demo ini menjadikan pesaing sebagai dorongan untuk berpacu. Syukur-syukur bisa mengalahkan yang berbasis aplikasi.

Tapi yang terutama adalah…memenangkan hati penumpang entah bagaimana caranya.

Kalau tetap bersikeras menuntut, berarti dunia sudah terbalik. Bukan penjual memenuhi keinginan pembeli namun pembeli yang menuruti kemauan penjual. Dan kalau sudah seperti ini bukan tidak mungkin angkutan akan semakin terpuruk akibat sifat keras kepalanya.

Beberapa hari lagi kabarnya angkutan umum akan mengadakan demo yang lebih besar dan menuntut agar kendaraan berbasis aplikasi diblokir oleh pemerintah. Penumpang tak tahu lagi apakah harus simpati, sinis, atau apatis terhadap kondisi itu.

Semoga pemerintah lebih bisa mencarikan jalan keluar terbaik, serta win-win solution. Dan kalau saya sudah merasa buntu untuk pesan ojek aplikasi, mungkin saya akan pilih naik oke-jek. 😀

 

 

 

 

 

Silakan komentar