remeh tapi meminta perhatian

Pengalaman Menjalani Rawat Inap di RS Muhammadiyah

January 10, 2018

Jangan skeptis dulu dengan judul di atas, ini bukan hal yang negatif  namun justru pengalaman pribadi yang sangat bagus untuk diambil pelajarannya baik dalam hal menjaga kesehatan, atau menyiapkan diri saat harus divonis untuk dirawat inap di rumah sakit.

Awal Sakit

Ceritanya, saya yang jarang terkena sakit parah bahkan tak pernah dirawat di rumah sakit, akhirnya harus mengalaminya juga untuk mondok di ruangan serba putih-putih. Diawali dengan perut yang terasa mulas setelah makan siang di hari Jumat terakhir pada 2017 kemarin. Dikira hanya sekadar mulas namun ternyata terus berlangsung dengan jeda yang tak beraturan dan bolak-balik ke toilet.

Malamnya saya pergi ke dokter dan mendapat obat untuk penyakit diare. Ya, karena saat itu keluhannya buang-buang air. Usai memakan obat, alih-alih normal justru badan ini menolak semua yang masuk ke perut, alias muntah. Bahkan kadang disertai dengan buang air juga. Kondisi ini berlangsung sampai dini hari.

Keesokan harinya berharap mulai pulih, saya coba untuk makan apa saja agar tak terlalu lemas sebab, selama buang-buang air dan muntah saya kehilangan nafsu makan dan pandangan agak kabur ditambah kalau berjalan badan terasa sempoyongan pertanda mulai kehilangan cairan.

Setiap hendak makan baik bubur atau buah pisang lagi-lagi semua makanan itu harus dimuntahkan lagi. Entah apanya yang membuat saya kembali muntah. Obatnya yang tak cocok ataukah ada penyakit lain yang tidak terdeteksi. Karena semakin kekurangan cairan, keluarga memutuskan untuk berobat lagi. Saat itu hari Sabtu siang dan saya segera mendatangi rumah sakit yang terdekat yakni RS Muhammadiyah Taman Puring.

Saat berjalan dari tempat parkir dan menuju deretan tempat duduk, terus terang saya sudah merasa sangat lemas, jalan sudah limbung, pandangan mulai kabur dan ingin cepat tiduran. Untung ada petugas yang sigap memberikan kursi rodanya dan cepat menggiring menuju ruang IGD.

Di IGD ini saya langsung ditangani dengan profesional. Diukur tensi darahnya, dicek jantung, suhu tubuh, dll. Hasilnya tensi darah saya anjlok dari yang normalnya 110/70 turun menjadi 70/40! Jantung normal, denyut nadi lemah,  suhu tubuh naik sekitar 38 derajat dan dehidrasi.

Dokter jaga yang menangani saya akhirnya memutuskan kalau saya harus dirawat inap sekarang juga. Saya masih berharap bisa rawat jalan saja alias pulang. Namun ternyata tensi saya sangat drop dan harus diinfus. Apalagi kondisi badan yang lemas tidak memungkinkan untuk pulang segera. Dan setelah pemeriksaan darah, dokter mengirim saya ke ruang HCU.

Ruang HCU ( High Care Unit )

Masuk ke ruang HCU merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Di sini kondisi pasien benar-benar dipantau selama 24 jam demi memperbaiki organ tubuh yang vital. Baru kali ini saya merasakan tidur didorong menggunakan brankar dan hanya terbaring saja sesudahnya.  Tangan kiri untuk infus, jantung dimonitor terus, suhu tubuh dipantau  dan diukur tensi darahnya. Untuk buang air kecil pun dipasangkan kateter. Singkatnya di ruangan HCU ini saya diawasi semi intensif sebelum nantinya dipindah lagi ke ruangan lain (rawat inap).

 

Saya berada di HCU selama dua hari. Di hari ketiga saya mulai dipindah ke ruangan Maemunah di Lantai 2. Kalau soal dirawat sebenarnya sama saja tapi untuk pelayanan ada sedikit perbedaan. Di HCU susternya sangat ramah, perhatian dan siap sedia selama 24 jam.

Makan siang di HCU, bertaplak putih

Kalau di ruang Maemunah  jangan harap ada suster yang cepat mendatangi kita. Menurut saya kurang sekali pendekatan terhadap pasiennya. Tapi gak semua suster itu jutek. Banyak juga yang ramah. Tapi ada hal-hal tertentu yang pasien harus jalani sendiri. Misalnya kalau pasien hendak ke toilet ternyata infusnya harus selalu dibawa. Terserah mau dibawa kantongnya saja atau sekaligus dengan tiang besinya. Dan pengetahuan seperti ini saya dapat hanya dengan memperhatikan pasien lain yang bergerak hilir mudik saat akan ke toilet.  Suster sepertinya tidak memberitahukan hal-hal seperti ini  padahal saya tidak tahu sebelumnya soal bawa-membawa infus ini. Walhasil bekas tusukan infus selalu berdarah karena tidak tahu prosedur membawa infus yang tidak mengakibatkan luka.

Mulai Pulih

Selama di ruang rawat inap kelas 3 ini, kesehatan saya berangsur-angsur pulih. Makanan yang hanya berupa bubur selama di sana pasti saya habiskan meskipun saya paling malas makan bubur. Namun karena termotivasi untuk cepat sembuh dan ingin segera pulang maka saya paksakan untuk makan.

Makan siang di kelas 3, tanpa taplak

Di hari kelima sejak saya masuk ke rumah sakit ini akhirnya saya diperbolehkan pulang. Secara fisik saya merasa sudah sehat. Tensi darah sudah normal, badan sudah agak kuat dan jalan tak lagi sempoyongan. Menurut dokter perut saya penuh dengan bakteri perusak yang mengakibatkan diare sangat parah. Ia menduga saya jajan sembarangan dan makanannya tidak higienis. Apalagi jumlah leukosit saya waktu itu 20.000/mm3 yang berarti terjadi proses infeksi dan peradangan di perut. Untuk mengembalikan ke jumlah normal yakni 10.000/mm3, tentunya harus dihantam dengan antibiotika dan makanan yang bergizi.

Suka duka berada di ruangan rawat inap sangat berkesan karena untuk pertama kalinya saya harus membiasakan diri dengan kedatangan suster yang tiba-tiba muncul untuk mengukur tensi darah, memantau suhu, membangunkan saya pukul 12 malam untuk minum obat, memberikan cairan antibiotika dengan menyuntikkan ke dalam infus, atau mengganti seprai dan selimut pada pukul 05.30 pagi.

Saatnya Pulang

Begitu diberitahu dokter kalau saya sudah boleh pulang, sontak saya mengabari adik untuk mengurus billing. Saat-saat hendak pulang rasanya aneh. Mirip check-out di hotel dan harus siap-siap seperti membereskan segala bawaan baik pakaian kotor, pakaian dalam,  botol minum, makanan, toiletries, mengurus pembayaran dll. Bedanya saya keluar dari rumah sakit dengan duduk di kursi roda yang didorong hingga ke tempat parkir.

Silakan komentar

%d bloggers like this: