Ritual Perpisahan Di Kantor

on

Jika Anda menemui rekan yang mengundurkan diri, apa yang ia lakukan setelahnya? Sudah pasti membereskan sisa pekerjaan sesuai tenggat waktu yang diberikan selama sebulan dan melakukan serah terima pekerjaan atau mengajari karyawan penggantinya. u12407549Pengunduran diri identik dengan kata perpisahan dan pasti ada rasa berat. Bagi rekan yang ditinggal, makna ‘berat’ di sini karena akan diserahi banyak limpahan pekerjaan untuk sementara sedangkan bagi yang akan pergi,  ‘berat’ artinya lebih karena harus berpisah dan menyudahi hubungan kerja  atau justru malah ada rasa lega barangkali. Intinya adalah perpisahan. Hanya segelintir saja yang memandangnya sebagai suatu ‘kegembiraan’.  Ritual perpisahan bagi saya merupakan sesuatu yang biasa sekaligus menyebalkan. Betapa tidak, dalam urusan berteman, bergaul lama dan panjang hingga bertahun-tahun  tiba-tiba saja ada salah satu yang mengumumkan perpisahan. Walaupun akan ada basa-basi seperti ‘Kita keep in touch ya, kita masih akan terus berhubungan kan,’ Main-main ya ke sini’. Namun seiring waktu berjalan, semuanya akan luruh dan hilang begitu saja. Bahkan tak terasa mereka lambat laun akan terlupakan digantikan oleh kawan yang baru.

Dalam dunia kerja, rekan yang menginginkan perpisahan alias mengundurkan diri pasti akan dihujani pertanyaan, ‘Mengapa mengundurkan diri?’ ‘Dapat pekerjaan dimana?’ ‘Nanti calling-calling ya’ ucapan itu kerap terdengar usai pemberitahuan itu. Dan seperti halnya di kantor-kantor lainnya ada semacam ritual yang selalu dilakukan setelahnya dan tak saya pahami sampai kini yakni keharusan mentraktir rekan-rekannya dengan mengadakan acara makan-makan semacam farewell party, atau mesti membawa kue untuk dibagikan. Menurut saya ini gak ada urusan dan hubungannya antara orang yang akan mengundurkan diri lalu harus mengeluarkan sejumlah dana hanya untuk acara makan-makan. Padahal belum pasti juga si mantan karyawan ini saat bekerja di tempat baru nantinya (misalnya diterima kerja) akan sukses pula. Barangkali saja ia tak betah lalu harus mengundurkan diri lagi dan…mentraktir teman lagi.

Memang ritual perpisahan semacam itu tak harus dijalani. Biasanya ini karena kedekatan dan keakraban dari sesama rekan itu sendiri dan mungkin agar ada sesuatu yang dikenang dari kegembiraan yang dihasilkan dari acara makan-makan itu. Tak bisa dipungkiri meskipun jebol di kantong  saat mentraktir di restoran, semua itu takkan ada artinya bila menyaksikan keceriaan, canda dan tawa rekan-rekan yang ditinggalkan saat menikmati hidangan.

Lalu apa makna sebenarnya dari ritual itu? Entahlah. Hanya memberi kenangan manis akan kebersamaan dan perut kenyang karena dapat makan minum gratis, atau sebaliknya adanya rasa keterpaksaan bila tak tersedia budget khusus. Selain dari itu semua tak ada. Lalu terlupakan. Hidup masih terus berlanjut dan hal semacam ini sekadar intermezzo saja mungkin.

Namun kadang kita  tak bisa menolak untuk mentraktir mereka well, tak ada salahnya juga karena toh kita takkan bertemu kembali. Terlebih lagi bila memang mampu mendanainya. 🙂

0 Comments Add yours

  1. Kalau traktir di resto ga sanggup 😀 bisa jebol kantong. Bawa kue2 itu yg saya lakukan di hari terakhir dikantor. Pendahulu2 juga melakukan ritual tsb klo ga ngikut koga enak, pdhl ya keluar duit ga sedikit buat beli kue2nya 😆 .

    1. Ernawati says:

      Nah itu dia masalahnya, kita jadi merasa gak enak kalo gak ikut-ikutan ya (ikutan kantong jebol), 😀

  2. matureorchid says:

    Ya kalo gitu jangan sampe resign ya..hihihi…

    1. Ernawati says:

      Atau gak kabur aja 😀

Silakan komentar