Ruang Curhat, Complaint Atau…?

on

Kalau tembok yang ada di ruangan tempat saya bekerja ini bisa bicara, pasti ia akan memuntahkan kata-kata dan memarahi  begini, “Kalian ini kerjanya cuma curhat melulu, ngegosip, mengeluh terus…kapan kerjanya?”  Perlu diketahui bahwa salah satu ruangan di kantor yang saya tempati ini sangat istimewa karena selain komputer tersedia pula berbagai benda elektronik seperti  beberapa player, TV yang diputar seharian, juga  ada peralatan mekanis untuk menyetel film atau musik dengan volume yang diinginkan. Ini sebenarnya untuk menunjang pekerjaan dan itu alasan sebenarnya kita ditempatkan dalam ruang tersendiri jauh dari hiruk-pikuk  suasana ruangan kantor lainnya. complaintBayangkan, ruang yang  sedikit luas, harus stabil pendingin udaranya dan  ada TV yang selalu menyala pasti akan mengundang rekan lain untuk sekadar mampir, main, numpang nonton TV, numpang tidur sebentar, leyeh-leyeh bahkan…curhat! Jangan salah, justru sebagian besar yang curhat adalah kaum Adam lho. Seperti yang saya alami Jumat lalu.  Saat kita yang penghuni asli ruangan ini sedang sibuk bekerja, tiba-tiba  muncul rekan yang langsung mengeluhkan cutinya yang tidak disetujui oleh Bos. Entah mengapa  pembicaraan jadi merembet tak sekadar masalah cuti namun  juga kepribadian Bos yang selalu marah-marah di hari itu. Satu orang mengompori, dua orang menimpali maka buyarlah konsentrasi karena harus mendengar si bapak-bapak ini mencurahkan isi hatinya yang terdalam. Sudah pasti diselingi juga oleh humor sehingga suasana berubah santai. Memang, kalau sudah membicarakan sepak terjang seorang bos pasti gak akan ada habis-habisnya. Siapa pun dia, bos pria atau wanita akan selalu menjadi sasaran  empuk untuk dibicarakan. Kali ini tentang Bu Bos yang selalu membully dengan bahasa verbal (merendahkan) dan membuat kuping jadi panas. Namun apa daya kita cuma pegawai. 🙂

Karena tempatnya nyaman, maka ada kalanya ruang ini dijadikan rendezvous sementara, mendinginkan hati dan biasanya entah benar entah tidak, sekeluarnya dari ruangan kita, perasaan seseorang menjadi  lega dan tersenyum kembali dan kami meneruskan pekerjaan seakan tak terjadi apa-apa. Padahal, bila ada rekan yang  sudah mulai curhat, mau tak mau saya pun pasti ikut mendengar permasalahannya sekaligus memberi komentar atau curhat balik, atau malah menertawakannya. Wah pokoknya ramai sendiri seakan ruangan yang tak seberapa luas ini adalah kerajaan kecil kita. Lebih-lebih bila ada makanan semisal gorengan di meja, sudah pasti sesi curhat semakin lama dan berkepanjangan. Dan dampak buruknya pekerjaan sedikit tertunda. Namun tak apalah. Hitung-hitung membantu rekan yang stres dengan menjadi pendengar yang baik 😀

Silakan komentar