Saat Kota Ini Memanggil

Liburan hari kejepit di bulan Mei lalu  sungguh kesempatan yang dinanti sejak lama. Selain dimanfaatkan untuk mere-charge pikiran, juga rasanya sudah lama otak tak dibiarkan untuk melanglang tak tentu arah.  Pekerjaan baik di kantor maupun di rumah memang tak ada habis-habisnya dan berhenti sejenak adalah jalan keluarnya. Menentukan apa yang bisa diisi dari liburan ini adalah jenis kebingungan yang lain. Setelah memasuki langit Jogjakarta, lalu apa yang dilakukan selanjutnya?  Apakah wisata kuliner, pantai dan lautnya, sekadar jalan-jalan saja dari ujung ke ujung lain, atau berdiam  di rumah menjelajahi sisi-sisi ruang yang belum terungkap? Semuanya masih terus berkecamuk di pikiran dalam perjalanan menuju kota istimewa ini. Angan-angan boleh muluk namun faktanya lain. Saya hanya akan santai di rumah  saja dan mungkin sesekali berjalan menjauhi rumah ke arah lain. Entah kalau pikiran ini terdistraksi ke ruang yang lain.

Sesungguhnya Jogjakarta punya keterlibatan emosi sangat erat bagi saya. Apa saja yang terjadi dan sedang bergolak di sana selalu jadi perhatian kecil saya. Misalnya yang baru saja heboh adalah masalah sabda raja yang agak nyeleneh. Atau berita kriminalitasnya (pembunuhan seorang penjual angkringan), sesuatu yang tak mungkin terjadi pada 5-10 tahun lalu. Namun demikian kota ini tetap ayem, tentram, damai, hangat dan menarik. Bila musim libur -meski hanya 3 hari saja- kota ini mendadak penuh dengan suara orang bercakap-cakap dalam bahasa non Jawa. Berkeliaran di mana-mana. Ada yang ke arah pantai, mengunjungi candi, atau hanya berkeliling kota.

Sejujurnya kali ini saya menyukai perjalanan dengan pengertian secara harfiah, terutama sekali saat naik keretanya. Saya kangen menaiki kendaraan ini. Semasa kecil, setiap liburan sekolah saya pasti akan selalu naik kereta saat mengunjungi Jogja. Sampai sekarang moda transportasi ini tetap jadi favorit banyak kalangan termasuk saya. Coba dengarkan suara mesinnya saat mulai berjalan, suara gesekan roda besi dengan relnya, gerbong yang bergerak-gerak  ke kanan dan ke kiri seakan membuai kita untuk termenung atau terlelap. Menatap sawah, kebun, halaman dan kota. Memandang bocah berlarian dan wajah -wajah yang lempeng saat menanti kereta lewat. Kemarin saya kangen dengan suasana stasiun yang disinggahi saat kereta berhenti. Saya rindu suara pimpinan perjalanan KA berkumandang memberitahukan aktivitas kereta. Saya rindu suara intro musik kecil saat kereta akan diberangkatkan. Lalu, kereta akan bergerak perlahan nyaris tanpa suara. Mungkin bagi mereka yang sering bolak-balik  naik kereta akan terasa biasa saja. Namun bagi saya yang hanya bisa sempat di waktu libur kejepit ini, this was a precious moment!

titiknol2a
Titik nol
ngasema
Pasar Ngasem
miniatura
Ada miniatur bus dan mobil polisi melintang di atas jalanan Malioboro
lampu
Aneka lampu

Jalan-jalan kemarin saya sempat mampir ke Mirota Batik. Niatnya hanya melihat-lihat apakah ada tren baru lagi atau tidak. Selain juga saya ingin cari lampu duduk bercorak kayu. Sejauh mata memandang yang ditemui melulu orang luar Jogja yang sibuk memilah-milih benda yang akan dibeli. Kapan sepinya ya, toko ini? Tetap laris dan sesak saja. Puas berkunjung, tujuan akhir adalah ke Titik Nol. Tetap saja berkali-kali melewati tempat ini selalu timbul sensasi dan kesan lain. Hhmm, perjalanan adalah sesi yang sangat penting. Di saat orang ingin berhenti, saya justru ingin berjalan dan melihat lebih banyak dengan gambar yang berubah-ubah . Mungkin inilah bagian yang paling saya nikmati.

Silakan komentar