Sampahku, Sampahmu

on

Lingkungan tempat tinggal saya sedang gonjang-ganjing. Bukan, bukan karena ada teroris atau banjir tapi karena ulah kelurahan setempat yang menutup sepihak tempat penampungan sampah yang telah lama menjadi tumpuan warga untuk membuang sampah rumah tangganya. Yup, ini perkara sampah. Bubbly Bins Dirty BinDibilang  sepele tapi koq penting, dibilang penting tapi koq soal sampah doang. Pemberitahuan akan ditutupnya tempat penampungan sampah ini pun hanya dari mulut ke mulut saja dan bukan dari suara pejabat kelurahan yang resmi. Sebenarnya saya sudah tahu akan ada penutupan sampah, tapi gak nyangka pihak kelurahan bisa seserius ini. Rupanya banyak tetangga yang kecele dengan tetap membuang sampah namun ternyata tempat pembuangan sudah disulap menjadi tempat tunggu ojek, lantai yang sudah bersih dari sampah sekecil-kecilnya dan beberapa orang yang duduk-duduk sembari  mengawasi apabila ada warga yang keukeuh buang sampah di situ.

Bagi pihak kelurahan, sepertinya masalah telah selesai dengan rapi dan beres. Mereka tinggal menunggui atau mengawasi warga yang mungkin masih buang sampah sembari menunjuk spanduk denda apabila membandel. Tapi apa benar memang sudah selesai? Apa mereka tidak memikirkan solusinya selain hanya menutup jebreett…! Bagaimana dengan warga yang kebingungan  karena tempat pembuangannya tak ada lagi? Mau dibawa kemana sampah-sampahku ini? Padahal tempat pembuangan itu sudah berdiri lama dan menurut saya tak terlalu mengganggu pemandangan karena saban hari ada truk yang mengangkutnya lagi. Saya sangat menyesalkan tindakan kelurahan ini. Entah supaya mau dapat Adipura atau alasan lain. Yang jelas warga sekitar berubah apatis. Mereka menggantungkan sampah rumah tangga di depan pagar rumah masing-masing setiap hari. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. Dan, pemandangan seperti ini menjadi hal yang menurut saya justru mempertontonkan kekumuhan dan jorok.  Akhirnya lalat berdatangan, polusi bau sampah menguar kemana-mana dan mengganggu pemandangan. Bahkan ada yang bertindak dengan menjadi pembuang sampah gelap. Maksudnya  buang sampah di depan rumah orang secara diam-diam. Apa ini yang diinginkan kelurahan?

Beberapa hari kemudian baru saya tahu  duduk persoalannya. Ternyata penyebabnya pihak  pemkot DKI memutuskan kontrak pengambilan sampah  dengan pihak swasta. Situasi semakin rumit dengan tidak dikabulkannya permintaan 100 truk sampah oleh DPRD. Wow, kalau sudah di ranah yang lebih tinggi, salah satu warga Jakarta yang sedang gonjang-ganjing ini hanya bisa melakukan apa? Padahal mereka ini hanya minta  dicarikan tempat pembuangan alternatif. Saya jadi ingat  motto acara Indonesia Lawak Klub yakni, “Menyelesaikan Masalah Tanpa Solusi”. Nah begitulah sikap kelurahan tempat saya tinggal. 😀

0 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Betul. Masalah sepele tapi penting.

Silakan komentar