Sang Loper Koran

on

Kemarin saya  menghubungi loper koran langganan saya. Ceritanya saya ingin menambah langganan majalah selain koran padanya. Saya sebutkan nama majalah yang berjudul kebarat-baratan ini dan mengabarkan bahwa minggu ini majalah itu sudah terbit dan kalau bisa diantarkan segera. loperLoper koran ini adalah seorang bapak paruh baya yang pikirannya masih terlalu konvensional menurut saya karena ia sebagai seorang loper ternyata tidak tahu menahu dengan berbagai majalah yang terbit di ibukota apalagi majalah berlisensi dan memakai judul bahasa Inggris. Saat saya sebutkan namanya pun, ia masih meraba-raba dan tidak segera bergerak cepat untuk  mencari tahu ‘seperti apa sih, majalah yang diinginkan pelanggannya?’. Ia malah meminta saya untuk menunjukkan wujud atau sampul majalahnya dahulu esoknya.

Setelah saya tunjukkan, ‘Ini lho, Pak sampul majalahnya yang pengen saya langgani,’  sembari saya minta agar besok diusahakan majalahnya diantar ke rumah. Ternyata, setelah ditunggu, majalah tak juga tiba. Saya tanyakan pada si bapak, jawabannya membuat saya geleng-geleng kepala. Menurutnya ia sudah tanyakan ke agen majalah dan hasilnya majalah belum ada lagi alias habis. Bagaimana bisa si bapak mengatakan demikian kalau ternyata majalah yang saya lihat di lapak pinggir jalan atau di toko buku itu masih bertengger dengan manisnya di rak? Karena saya tak sabar akhirnya saya memutuskan untuk membeli saja sendiri dan berlangganan majalahnya diundur bulan depan.

Dari peristiwa itu saya jadi menyadari adanya gap kecil antara kita sebagai  orang yang ‘muda’ dan tengah berhadapan dengan mereka yang telah memasuki usia paruh baya. Betapa cara berpikir, bertindak dan mengambil keputusan itu menjadi sangat berbeda apalagi melalui sudut pandang masing-masing.  Bukan berarti saya ini masih muda lalu harus ambil jalan yang grusa-grusu sementara mereka yang telah paruh baya menjadi lambat berpikir dan malas, namun yang saya tak bisa perkirakan adalah pola pikir kerja kita yang agak berbeda. Kalau saya jadi seorang loper koran, agar tak kehilangan pelanggan saya pasti akan segera mencari tahu dan mengusahakannya serta berjanji untuk mengantarkan segera majalah atau surat kabar yang diinginkan tak peduli apakah permintaan pelanggan itu sulit dipenuhi, tak peduli berhujan-hujan, atau lokasinya sangat jauh, yang penting pelanggan puas.

Lalu mengapa loper koran saya tidak berlaku seperti yang diinginkan? Awalnya ada rasa jengkel tentunya tapi akhirnya ya sudah,  Maklum adalah kata yang tepat yang ditujukan bagi si paruh baya. Barangkali alasan kesehatan atau kemalasan berada di belakangnya. Pelanggan mau menerima ya syukur, pelanggan kesal lalu tak ingin berlangganan ya pasrah saja. Mungkin itu yang ada di pikirannya saat itu.  Swaktu saya menghubunginya lagi suara bapak ini seakan sudah lelah dan tak ingin dibantah. Mungkin sudah waktunya ia leyeh-leyeh dan tak bersibuk-sibuk ria lagi. 🙂

0 Comments Add yours

  1. Messa says:

    Mungkin beliau tak mengikuti perkembangan majalah mbak.. Makanya nggak tau majalah yg mbak maksud 🙂

    1. Ernawati says:

      Bisa jadi begitu ya…sekarang ini nama majalah semakin unik-unik saja

Silakan komentar