Sebuah Refleksi: Ketika Lebaran Usai

Selesai sudah tahap akhir keriaan yang sangat ditunggu-tunggu jutaan umat muslim di negeri ini. Kue-kue pun telah habis dimakan, piring-piring saji sudah diletakkan kembali ke dalam rak makan. Mulai minggu ini dan bersamaan dengan dimulainya masuk sekolah kembali, pesta keluarga terbesar yang melibatkan seluruh aspek yang merumitkan namun menyenangkan itu berakhir.

Setelah itu mau ngapain? Beraktivitas, kembali ke rutinitas dan…mengumpulkan uang alias bekerja. Meskipun sudah berlangsung bertahun-tahun, berulang-ulang tetap saja masa lebaran adalah momen yang sangat berkesan di setiap tahunnya. Ada saja peristiwa yang membuat suatu tahun menjadi begitu memorable. Kalau tidak menyenangkan ya menyebalkan.

Bagi saya pribadi lebaran di tahun ini sangat menyenangkan. Banyak peristiwa yang menyertai baik sebelum,  tengah berlangsung, dan sesudahnya. Ada momen yang sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja. Di awalnya saja saat memulai untuk memesan tiket kereta,  telah menjadi  peristiwa yang tak terlupakan karena baru kali inilah saya terlibat begitu intens dalam urusan pemesanannya.

(Baca: Jatuh Bangun Berburu Tiket Kereta Lebaran)

Dalam beberapa hal memang kita harus terus berlatih dan berlatih agar terbiasa dalam melakukan sesuatu. Demikian juga dalam hal urusan pesan memesan tiket. Perlu berkali-kali untuk selalu tahu bahwa memesan tiket di masa mudik adalah perebutan yang ekstra ‘keras’. Dan apabila kita menang dalam perebutan tiket itu, senangnya tak bisa ditukar dengan benda berharga lain. Khusus untuk mudik dengan kereta seingat saya baru di tahun ini bisa tembus mendapatkan tiket. Tahun-tahun sebelumnya kita pasti lebih melirik naik bus. Selain karena tiket keretanya yang sudah ampun-ampunan mahal dan terbatas, juga tak ada daya untuk naik kereta.

Namun tahun ini kita ingin mencoba moda transportasi yang lain.

Untungnya perjalanan kereta kami lancar sampai tujuan karena kalau mengingat cerita para pemudik lainnya yang saat itu terjebak dalam tol ‘Brixet’, tentulah saya takkan tahan menghadapinya. Saya sendiri pernah mengalami yang namanya terjebak kemacetan parah selama berpuluh-puluh jam. Itu peristiwa yang sangat menyebalkan, mengesalkan namun tidak sampai membuat trauma (sesaat saja sih).

Belajar dari pengalaman itulah mendorong saya harus ngotot untuk tidak melakukan perjalanan dengan kendaraan bus pada tahun ini. Bukan apa-apa, siapa yang dapat menjamin agar balita tenang dan nyaman apabila menemui kemacetan di tengah tol yang sepi itu? Tak ada rest area, SPBU, posko kesehatan, siang kepanasan, malam gelap gulita.

Kondisi dan kejadian semacam itulah yang memotivasi untuk melakukan hal yang terbaik dan terjamin. Minimal bisa membuat para balita bisa tertidur nyenyak dalam perjalanan. Dan kami memilih kereta.

Sementara dalam mengisi acara lebaran, layaknya keluarga lainnya kita sempatkan untuk  jalan-jalan. Demi untuk memberikan pengenalan alam pada balita yang sedang tumbuh kecerdasannya, acara jalan-jalan lebih variatif tahun ini. Hutan, sawah, situs peninggalan, pantai, kota,  dan pasar malam adalah tempat-tempat yang dikunjungi selama tinggal di Jogjakarta. Murah meriah dan ada unsur edukasinya juga.

Setiap perjalanan ada kesan yang spontan ada pula yang melekat terus dalam ingatan, bahkan hingga di akhir liburan. Satu-satunya yang mengesalkan bagi saya dan juga mungkin sebagian orang yang berlibur ke daerah  adalah keterbatasan sinyal. Kita terbiasa dengan berbagai kemudahan dalam melakukan koneksi internet. Dan pada saat sinyal ponsel tak bisa ditangkap, bingunglah kita semua 🙁

Liburan Lebaran ini telah berakhir, setiap momen yang tertinggal akan menjadi semacam evaluasi kecil untuk mencapai kenyamanan yang lebih baik lagi pada lebaran yang akan datang. Meskipun kita sudah pelajari tetap saja ada lubang-lubang kekurangan, tapi paling tidak lubang itu bisa mengecil lalu lenyap.

Saya senang upaya yang sudah dikerahkan demi mensukseskan mulai dari mudik , jalan-jalan di kampung halaman hingga arus balik berjalan dengan baik dan lancar. Ini juga tak lepas dari dukungan semua pihak dalam keluarga. Betapa kebersamaan dan berbagi masalah untuk mencapai titik temu itu menjadi penyangga yang ampuh demi terselenggaranya liburan lebaran 2016.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Silakan komentar