Sibuk Atau Terlalu Sibuk?

on

Hhm…sudah 2 bulan ini saya vakum tidak menulis apapun di blog ini. Maunya setiap ada ganjalan entah itu memiliki dampak positif atau negatif akan saya tuangkan ke dalam tulisan tapi apa daya kesibukan begitu mendera berkali-kali. Saya selalu mengingatkan diri agar saya mengambil jeda atau ruang untuk diri sendiri guna menuangkan pikiran saya tapi selalu saja saya belum mampu memilah-milahnya. Memang saya sibuk sekali saat itu, bukan karena disengaja tapi memang peristiwa demi peristiwa itu terlalu sayang saya lewatkan. Sibuk adalah kata yang sangat memotivasi sekaligus membuat stres juga membuat kita jadi bete dan sayangnya setelah bete melanda ditambah kelelahan, pelarian saya adalah istirahat atau leyeh-leyeh saja. Tak ingin mengerjakan apapun. Dan itu berlangsung dalam 2 bulan ini. Saya bisa jabarkan daftar kesibukan saya mulai dari menerima order pekerjaan sampingan sampai pekerjaan kantor yang menyita waktu hingga rela lembur di hari Sabtu. Mulai dari pekerjaan domestik rumah tangga hingga melakukan -kegiatan luar ruang-yang ini maksudnya mengajak keluarga sekadar refreshing. Dan efek yang ditimbulkan sudah pasti lelah meski saya tak sampai jatuh sakit namun tetap saya merasa masih kekurangan waktu untuk diri sendiri.

Kalau mau ditelusuri memang penyebabnya adalah karena saya belum bisa mengelola waktu dengan baik. Saya akui terkadang ada saat-saat ingin meninggalkan ‘pekerjaan’ sebentar dan ingin ‘bermain’ sebentar. Walhasil saya jadi keteteran saat menyambung pekerjaan lagi dan lupa. Saya tak ingin dibilang terlalu sibuk atau sibuk. Saya justru ingin disebut orang yang meski sibuk tapi mampu membagi waktu dengan baik diantara 24 jam berjalan. Itu perlu proses dan tidak sebentar. Terkadang karena saya melakukan pekerjaan di rumah maka banyak ditemui intervensi yang ujung-ujungnya dirapel. Namun setelah 2 bulan ini ada hal yang bisa dijadikan pelajaran. Jangan pernah untuk menunda-nunda pekerjaan sekecil dan seringan apapun. Kalau bisa dikerjakan sekarang, maka sekaranglah waktunya. Jangan nanti, esok, atau kapan-kapan. Kuncinya disiplin. Bagi orang yang santai mulailah mengubah mind set kita. Santai tapi serius atau sebaliknya bisa diterapkan bergantian.

Dalam kasus saya, yang dipraktikkan adalah memilah sedikit demi sedikit antara santai dan seriusnya. Mind set saya adalah bersegeralah dikerjakan dan selalu berpikiran bahwa ‘apabila dikerjakan sebelum deadline, maka saya bisa memilliki waktu santai yang lebih lama dan menyenangkan’. Jangan bebani pikirkan dengan hasil karena terkadang hasil yang kita capai belum tentu memuaskan orang lain. Yakin saja kita mampu menyelesaikannya. Sibuk memang hanya istilah. Yang menentukan sibuk, kurang kesibukan, terlalu sibuk semuanya hanya ada dalam pikiran kita bukan orang lain. :

0 Comments Add yours

Silakan komentar