Sisi Lain Car Free Day

Hari Minggu kemarin sungguh menjadi hari yang lain. Bukan karena pada hari itu sangat cerah dan tak diliputi awan tebal apalagi hujan, namun karena hari minggu kali ini dilewatkan di sebuah ruas jalan yang membentang antara Bundaran Senayan hingga Monas.

Berbicara menghabiskan hari Minggu yang langitnya berwarna biru dengan tiupan angin yang dahsyat sungguh waktu luang yang menyenangkan. Setelah beberapa hari suasana selalu dilimuti mendung dan hujan mulai dari level rendah seperti gerimis, rintik-rintik ringan, hingga hujan lebat plus angin, maka suguhan panas dan cerah sepanjang hari adalah nikmat tak terkira di awal bulan Pebruari untuk melakukan aktivitas yang memicu keringat.

Maka, acara Car Free Day (CFD )adalah pilihan yang murah meriah untuk melepas kepenatan dan keinginan untuk menyegarkan pikiran. Terakhir saya mendatangi CFD tiga bulan lalu. Semua manusia dari berbagai latar belakang mulai dari yang kere hingga keren ikut nimbrung di arena jalan protokol ini. Memang sih, semula tujuannya adalah jalan-jalan sehat alias berolah raga dilihat dari atribut yang dipakai dan dandanan sporty yakni t-shirt dan bersepatu olahraga. Namun kalau yang saya lihat kemarin, makna olahraganya itu sudah bergeser menjadi ajang jalan-jalan dan belanja.

Yang saya tahu, CFD itu adalah sarana untuk jalan sehat dan berolahraga tanpa adanya polusi kendaraan. Tapi semakin ke sini semakin banyak kepentingan yang terlibat. Banyak orang yang berjualan dan tidak berhubungan langsung dengan semangat CFD semisal penjual makanan, kaus, suku cadang sepeda, pengamen, stand minuman dan terutama pedagang kaki lima seluruhnya tumplek blek membuka lapak yang disediakan oleh preman penguasa lahan dan mengganggu kenyamanan penikmat olahraga, mereka menguasai nyaris setiap jengkal jalan yang dilalui para pecinta olahraga.

Bayangkan, sejak dari rumah kita sudah siap dengan niat untuk berolahraga dengan memakai kaus yang nyaman dan berwarna cerah, bercelana olahraga entah yang panjang, selutut atau setinggi paha, sepatu olahraga keluaran terbaru dan berwarna ngejreng ditambah perangkat penunjang seperti sepeda, skate board, sepatu roda atau yang lagi ngetren saat ini lari dengan memakai run wheel.  Begitu sampai di tujuan yang ditemui hanyalah kerumunan orang yang mengelilingi pedagang. Sesekali perjalanan berolah raga terhambat hanya gara-gara setiap orang ingin melihat sejenak apa yang dijual. Dan hambatan ini tak cuma sekali namun berkali-kali.

Walhasil, bukannya berolahraga namun malah memborong apa saja yang membuat mata tergiur. Ada penjual dengan bermodalkan mobil yang kap belakangnya dibuka dan di tempeli tulisan “T-shirt impor, beli 3 Rp. 100 ribu saja” sukses  menjadi magnet kuat untuk didatangi. Berbondong-bondong para pembeli yang beratribut olahraga lengkap ini memilah dan memilih tumpukan t-shirt. Bermenit-menit waktu mereka habiskan hanya untuk belanja sementara spirit olahraganya sudah hilang.

Jadi apa artinya CFD itu? Sekadar berpakaian olahraga namun tak pernah ada olahraga yang sesungguhnya. Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pedagang dadakan dan bermodal kuat yang mampu membayar lapak di tempat yang strategis agar didatangi pembeli.

Saya sebenarnya kecewa dengan kondisi CFD sekarang. Jalan yang lurus dan diperuntukkan untuk berlari atau jalan santai malah dipakai oleh mereka yang tidak ada kepentingannya dengan olahraga. Ironisnya, sebagian besar mereka yang berolah raga justru sangat menikmati suasana ini. Mereka yang mengajak keluarga tentu sangat menikmatinya apalagi bisa membelikan sesuatu untuk anak-anak. Anggap saja ini rekreasi yang murah meriah. Benar juga sih.

Tapi jadinya malah melenceng dari tujuan utama dan tanpa sadar kantong jebol. Kalau sudah begitu, untuk apa tampil modis bila ternyata hanya berjalan dan mengunjungi dari lapak ke lapak? Meskipun begitu, ada banyak keluarga yang menjadi ceria dan segar justru dengan berjalan pagi dan mengunjungi CFD ini. Tak bisa disalahkan bila mereka hanya ingin menikmati pagi dan cuci mata melihat-lihat suasana apalagi membeli ini-itu sekadar menyenangkan hati.

Setelah lima tahun berjalan, semoga CFD tidak turun pamornya hanya gara-gara membanjirnya pedagang dari suatu tempat ke lapak-lapak CFD ini dan menguasai jalanan.

 

 

 

Silakan komentar