Sisi Lain Menjelang Ramadhan

Setelah sidang -yang selalu menimbulkan perdebatan- bernama Itsbat dilaksanakan, akhirnya keluar keputusan Pemerintah yang menyatakan bahwa Ramadhan jatuh di hari Kamis dan serentak, yang berarti sama dengan yang diputuskan ormas Islam lainnya. Mengapa ya, setiap tahun selalu saja ada penetapan yang menggiring opini masyarakat bahwa pasti akan ada perbedaan di awal mula berpuasa. Entah ada yang mendahului atau tidak dalam menjalankan puasa, dampaknya kita seakan terkotak-kotak. Namun, di sinilah uniknya. Perbedaan itu menjadikan kita dewasa menghadapinya, bukan begitu?  Saya harap di tahun- tahun mendatang ( kalau bisa ) penetapan awal puasa dan Lebaran bisa sama, serentak, makin padu dan kompak.

Kalau sudah menjelang Ramadhan seperti di tahun ini, berbagai kerepotan -kalau tak bisa dibilang kesulitan- mulai menghadang. Di awali dengan pemberitahuan bahwa jam kerja di kantor hari itu hanya sampai pukul lima dan tiba-tiba semua bersemangat  untuk segera pulang. Namun sesampainya di jalan…kemacetan yang bujubuneng mulai merebak dimana-mana. Tak terkecuali jalanan tikus atau kodok sekalipun! Ibukota dilanda macet  absurd. Semuanya merasa berkepentingan untuk segera sampai  di rumah.  Setelah tiba dengan selamat, selanjutnya kita bersemangat untuk tarawih di malam pertama Ramadhan. Dan, pemandangan absurd terjadi lagi. Banyak jamaah yang tak kebagian shaft dan terpaksa shalat di jalanan sekitar masjid. Yah, maklumlah judulnya masih bersemangat.  Tunggu dua minggu lagi mungkin masjid akan terlihat lapang karena jamaahnya mulai sibuk belanja Lebaran. Setelah itu, pemandangan yang lebih absurd lagi saya temui di swalayan yang berada di dekat rumah. Banyak sekali pengunjungnya 🙂 Betapa manusia-manusia ini seakan panik dalam menyambut Ramadhan. Mereka memborong aneka makanan, kue-kue, biskuit, roti-rotian, sirup, bahkan beras .

Ini mungkin yang tak disadari  oleh kita bahwa (makna)berpuasa adalah kembali ke kesederhanaan. Hampir di  tiga tempat swalayan yang berbeda saya temui gejolak masyarakat yang seperti ini. Mengapa sepertinya bulan puasa terkesan seperti hura-hura dan yuforia? Apakah kita terpancing oleh iklan atau  keinginan untuk menyuguhkan  sesuatu yang lebih istimewa? Saya lebih setuju bahwa mereka agak konsumtif  lebih karena keinginan untuk menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan  selengkap-lengkapnya serta mudah-mudahan perilaku memborong makanan bukan mewakili potret masyarakat pada umumnya.

Happy fasting! 🙂

 

One Comment Add yours

  1. Ernawati says:

    Atau belanja kebutuhan lebaran 🙂

Silakan komentar