ada apa dengan negeri ini? kesehatan

Social Distance, Dampak Covid19 Bagi Orang Seperti Kita

Social Distance, Dampak Covid19 Bagi Orang Seperti Kita

Setelah satu minggu pertama menjalani Social Distance yang diberlakukan serentak selama 2 minggu (16-31 Maret 2020) oleh Jokowi, apa kesan yang bisa diambil dari langkah menjaga jarak ini? Apakah menyenangkan, melegakan atau menyebalkan?

Sebenarnya Social Distance (SD) ini agak membingungkan dan berat untuk dilaksanakan karena kita sendiri bukanlah warga yang selalu berjarak dengan orang lain. Kita senang menyapa dan berbicara. Mau ngapa-ngapain selalu saja bareng alias berkumpul. Jadi kalau Social Distance ini diterapkan, bagaimana jadinya Jakarta?

Sejatinya kita adalah orang Indonesia yang selalu senang berdekatan, apa-apa senang dilakukan bareng-bareng, bersama-sama membincangkan sesuatu sembari mengerjakan sesuatu. Bahkan kadang dalam perbincangan tanpa sadar kita akan saling menyentuh, sekadar memberi penegasan bahwa keakraban itu penting. Kita pasti setidaknya berjabat tangan, cipika-cipiki, menyentuh lengan atau muka, menabok, mencubit lawan bicara kita dan sebagainya yang pada intinya itulah cara khas orang Indonesia bila sedang berjumpa dan mengakrabkan diri.

Tapi ternyata keakraban yang menyenangkan itu harus ditahan dahulu selama 2 minggu dan belakangan diperpanjang hingga 3 minggu ( sampai 2 April 2020). Betapa agak ‘tersiksanya’ orang kita bukan?

Biasanya dalam sehari kita pasti akan keluar rumah. Entah belanja, pergi nonton bioskop, ke mal, ke sekolah, kuliah, kerja, nonton konser dll. Apa jadinya jika semua itu mendadak ditiadakan? Mati gaya. Warga Jakarta seakan ‘dihukum’ untuk tidak mendekati keramaian dan harus mendekam di rumah.

Penyesuaian Kondisi

Imbas Corona ini sangat dahsyat sekali dan tak terbayangkan akan terjadi seperti ini. Awalnya kita menyangka Indonesia tak akan terkena virus Corona yang muncul pertama kali di Wuhan. Namun pelan dan pasti, akhirnya virus ini sudah mulai menghabisi satu per satu korbannya. Terakhir pada saat saya mengetik ini, virus mematikan itu sudah memakan korban sebanyak 49 orang, dan yang terkonfirmasi Corona sebanyak 579 orang!

Bahkan, para tenaga medis pun sudah banyak yang ambruk dan meninggal serta anggota keluarganya sudah tertular pula.

Minggu ini (Minggu ke-3 di bulan Maret) adalah awal penyesuaian dengan kondisi yang belum pernah dialami sebelumnya bagi kita. Seperti misalnya:

  • Awal-awal pengumuman adanya korban suspect Corona banyak orang yang memborong masker, dan pencurian hand sanitizer yang disediakan untuk publik
  • Seluruh acara yang sudah terjadwal baik konser, liga sepakbola, peluncuran produk atau film dan hajatan pernikahan ditunda.
  • Di mana-mana tempat duduk harus berjarak atau dipisah yang ditandai dengan simbol X.
  • Pemberlakuan Work from Home untuk para karyawan yang bekerja di Jabodetabek.
  • Diliburkannya anak sekolah dan perkuliahan agar mereka belajar di rumah plus segepok tugas dari guru atau dosen yang diberikan baik melalui WA, email atau secara daring.
  • Mengularnya antrean penumpang MRT dan TransJ.
  • Pertama kali dalam sejarah saya hidup dan tinggal di lingkungan rumah ini, shalat Jumat ditiadakan oleh masjid setempat.
  • Mal sepi sekali, tapi swalayan tetap banyak orang yang memborong.

 

Tugas-tugas anak sekolah yang harus dikerjakan di rumah…

Efek Kejutnya Adalah Repot

Pemberlakuan berbagai kebijakan tentu saja membuat sebagian orang menjadi kaget, gagap, gugup dan kesal. Karyawan yang biasanya berangkat kerja rapi jali, kali ini hanya dandan seadanya saat sedang teleconference dengan Pak Bos. Belum lagi kalau terlambat tersambung, bisa-bisa dianggap tidak absen. Aduh, repot.

Banyak kelucuan-kelucuan yang terjadi saat para karyawan itu tersambung dengan bos karena ternyata situasi di rumah dengan kantor ternyata sangat berbeda. Layar conference bisa dihiasi oleh anak-anak yang mondar-mandir, atau ada teriakan agar jemuran diangkat dahulu.

Kerepotan lainnya diterima oleh para emak-emak yang harus menemani dan membimbing anak-anak agar bersedia belajar atau mengerjakan tugas yang sudah diberikan ibu guru pada jam yang sudah disepakati. Tantangan banget ‘kan, untuk mengendalikan anak-anak agar tetap belajar di rumah namun dibuat seakan berada di sekolah.

Hikmah Terbaik

Kalau tadi efek kejut memang benar-benar bikin terkejut setelah menjalani selama seminggu untuk Social Distance dan di rumah saja, bagaimanakah dengan sisi baik dari kondisi ini? Salah satunya yang kita rasakan adalah Corona bisa memaksa kita untuk menjadi lebih akrab dengan anggota keluarga di rumah. Wabah pandemi ini mampu mengerem keinginan orang untuk pergi keluar rumah kecuali yang benar-benar penting saja. Dan, Pemerintah akhirnya menggelontorkan sejumlah dana untuk memerangi wabah ini dengan mendirikan rumah sakit khusus pasien Corona ( daripada untuk kebutuhan yang gak jelas, ya kan?)

Sepinya Suasana

Jalanan terasa sepi dan hening, ke mana-mana sebenarnya menjadi lebih lancar seolah-olah kita sedang memberi kesempatan pada jalanan dan semua tempat untuk bernafas. Suasana yang sepi itu seakan sedang terjadi perang besar. Sesuatu yang belum pernah saya alami juga di sepanjang hidup ini. Sepi dan tidak ada orang satu pun di kendaraan umum.

Barangkali inilah periode di mana jutaan manusia di seluruh dunia dengan patuhnya dibuat untuk tetap berada di dalam rumah saja dan tak berdaya hanya oleh kemunculan sebuah…virus. Semoga ini cepat berlalu, kondisi pulih kembali seperti sedia kala dan tak banyak lagi jatuh korban. Yakinlah selalu Indonesia akan mampu keluar dari belenggu wabah ini.

Dan yang jelas bagi saya pribadi, situasi seperti ini takkan terlupakan di sepanjang hidup dan tentu saja ini akan menjadi sejarah yang terkenang selamanya yang sewaktu-waktu bisa diceritakan kembali kepada anak cucu.

1 thought on “Social Distance, Dampak Covid19 Bagi Orang Seperti Kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *