Sokola Rimba, Sekolah Bagi yang Terasing

Menyaksikan film karya The dynamic producer-director duo Mira Lesmana dan Riri Riza seakan kita diantar untuk mendekat dan memahami  kehidupan suku anak rimba yang berdiam di Bukit Duabelas Jambi yang sangat rimbun namun kini menjadi gersang akibat  ulah pembalakan liar. 20131104film-sokola-rimbahSebenarnya film ini berkisah tentang sosok wanita perkasa Butet Manurung (Prisia Nasution) yang mengabdikan diri menjadi seorang pengajar di hutan Mekakal Hulu Jambi selama kurang lebih 14 tahun. Meski tema besarnya adalah kegiatan mengajar, namun tak bisa dipungkiri dalam sebuah film unsur dramatisasi sangat lekat di kehidupan sehari-harinya. Ada pertengkaran antara Butet dengan Bahar (Rukman Rosadi) selaku koordinator LSM menyangkut kegiatan mengajar Butet yang ingin merambah hingga ke Mekakal Hilir, persahabatannya dengan anak-anak suku rimba yang tulus  dan murni, dan kegiatan belajar yang mengundang kelucuan. Menurut saya film ini tampak memikat bukan karena diangkat dari novel berjudul sama atau duet Miles-Ririnya , namun karena dalam film itu telah terkandung unsur idealisme yang jelas. Penonton yang berniat menyaksikannya takkan menjumpai wajah-wajah bak sinetron yang ayu dan tampan. Ini adalah realita kehidupan komunitas suku rimba beserta permasalahan yang mengikutinya.

Adalah Nyungsang Bungo  seorang anak rimba dari Mekakal Hulu yang ingin bisa membaca, menulis dan berhitung  karena gerah menyaksikan para pembalak yang kian hari kian menebangi hutan dengan suara gergajinya yang bising. 138433470421592_496x330Para pembalak ini dengan hanya bermodalkan surat perjanjian dan sogokan berupa gula, kopi, rokok membujuk ketua adat Tumenggung Badai agar bersedia memberikan salah satu pohon untuk ditebangi. Bungo yang kemana-mana selalu menggenggam  surat perjanjian itu penasaran apa isi perjanjian itu dan mengapa dengan persetujuan yang hanya berupa cap jempol saja mampu menghabiskan satu-persatu pepohonan di hutan.  Didorong oleh anak suku rimba di Mekakal Hilir yang terlihat sudah mahir berhitung, Bungo pun termotivasi untuk  bisa membaca, menulis dan berhitung pula. Dan ini tantangan yang sangat besar bagi Butet karena kaum tetua menganggap belajar itu tabu dan mendatangkan celaka. Terlebih lagi ia mendapat tentangan dari ibu Bungo. Namun, dorongan untuk mencerdaskan kaumnya, -suku anak dalam- agar tidak ditipu mentah-mentah oleh pembalaklah yang membuat Bungo tak patah semangat untuk belajar.

Salut dengan akting Bungo yang terlihat alami  dan benar-benar mampu menunjukkan suasana hatinya antara ingin belajar terus ataukah harus kembali bergabung dengan suku anak dalam yang selalu berpindah-pindah tempat itu. Adegan yang mengharukan muncul saat Bungo yang cerdas ini untuk pertama kalinya membaca surat perjanjian dan mampu bernegosiasi dengan pembalak disertai pasal-pasal yang rumit itu. Meskipun latar yang tersaji selalu hutan belantara, dalam ruang pikiran kita yang tersaji tidaklah demikian. Penonton takkan merasakan bahwa latar hutan menjadi tempat yang statis karena selain kepiawaian sutradara juga karena anak-anak yang lugu adalah hiburan tersendiri.  Peran orang dewasa dalam hal ini orang-orang yang idealis hanya merupakan pengantar  yang menjembatani agar misi ini tersampaikan. Akhirnya, film ini berhasil membuka mata kita bahwa nun jauh di sana ada hutan yang kian hari kian terbabat, anak suku yang ingin benar-benar belajar, dan peran seorang pengajar yang bersedia meninggalkan kemapanan dan hingar bingarnya kota besar demi mencerdaskan bangsa. Benar apa kata Mira Lesmana, Sokola Rimba terlalu menarik untuk tidak dibagikan pada penonton.

0 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Sayang hutan-hutan di Indonesia sekarang habis dibabat.

  2. Ernawati says:

    Selain hutan dibabat, suku yang mendiami juga hampir hilang lho 🙁

  3. Messa says:

    pengen nonton ini mbak, udah lama juga denger tentang si Butet Manurung 🙂

  4. erna maryoto says:

    Cobalah nonton Messa, pasti akan terkesan setelahnya, dijamin 🙂

Silakan komentar