cerita dari kantor | lingkaran gaul

Sore yang Dinanti

February 19, 2018

Menanti sore adalah hal aneh yang saya lakukan belakangan ini. Entahlah, apalagi saat sore itu terasa lama sekali dinanti sejak baru saja masuk kantor di pagi hari pukul 09.00. Malas? Nggak. Capek? Iya. Jenuh? Mungkin.

Rasanya ada hal yang menurut saya pemandangan di tempat kerja itu begitu-begitu saja. Gak ada hal yang baru. Baik muka teman-teman atau obrolan yang dilancarkan setiap jam makan siang tiba. So-so gitu. Gak ada yang bisa diangkat menjadi sesuatu yang bisa mendongkrak semangat untuk kerja.

Mungkin  karena saya sendiri belum menemukan apa yang membuat saya merasa ‘dibutuhkan’. Di kantor saya cenderung menahan diri untuk terjun demi mengolah perasaan saja karena yaa buat apa juga diumbar? Suasananya yang terasa kurang klik mungkin jadi penyebab terbesar mengapa saya selalu ingin hari cepat berganti sore.

Saya jadi membandingkan saat saya masih bekerja di tempat sebelumnya di mana teman-temannya sangat peduli dan respek baik dengan bidang kerja atau juga individu yang melakukannya. Well, lain ladang lain belalang. Di sini benar-benar berbeda dalam hal bersikap dan unggah-ungguh kalau kata orang Jawa sehingga mau tak mau kita harus beradaptasi.

Bagi saya  soal adaptasi adalah hal yang gampang. Mau dibawa ke kiri ke kanan atas, bawah, hayuklah sepanjang itu masih dalam radar masuk akal dan wajar. Namun kadang kala soal perasaan susah banget diatur. Ada masa-masa di mana saya gak bisa kompromi oleh kebiasaan mereka. Saya gak paham dengan kecenderungan mereka yang selalu selonong sana, selonong sini lalu mengobrol begitu saja tanpa peduli ada orang lain di dekatnya yang sedang fokus kerja.

Maunya semua orang itu punya pemikiran sama dalam bertindak atau hal-hal yang normatif tapi kalau ada yang melenceng kok ya saya jadi kepikiran untuk mengomentari (dalam hati saja). Dan bila sudah berbenturan dengan perasaan pada akhirnya jadi agak malas berinteraksi. Padahal saya juga ingin lebih mengenali dan mengetahui apa saja isi benak semua orang yang ada di kantor ini. Tidak semua sih, tapi paling tidak tahu sebagian.

Dari pengamatan asal, saya dapati bahwa komunikasi bisa klik kalau usia tidak terpaut jauh dari kita, atau mempunyai pengalaman hidup yang nyaris sama (segenerasi), wawasan juga kadang perlu ditanyakan karena katakanlah kalau saya ngomong tentang kota Paris banjir, percaya atau tidak; ada teman yang baru tahu kalau Paris banjir alias slow response alias tidak tahu berita.

Sebenarnya ada senang dan tak senangnya bergaul dengan kaum wanitanya. Senangnya mereka perhatian, peduli, rame, teliti dan pengertian. Tak senangnya, mereka kadang terlalu emosional, baper, ikut campur urusan lain, dan senang mengomentari meskipun tidak diminta.

Jujur saja, setelah sekian tahun bergaul dengan kaum pria, saya merasa kaget sejenak dengan kaum wanitanya. Dulu, saya merasa nyaman bekerja di lingkungan pria karena mereka itu tak akan berkomentar tentang bekal makan siang yang saya bawa misalnya. Takkan cerewet hanya karena hal-hal sepele. Bebas bicara tanpa takut tersinggung dan leluconnya selalu sukses membuat saya terbahak-bahak.

Tapi, bersama karyawan wanita seperti sekarang ini saya justru menemukan rasa peduli dan perhatian yang tidak didapatkan dari karyawan pria. Wanita lebih ekspresif, antusias, tak mudah lupa untuk hal-hal kebaikan lainnya, lebih kompak dan rasa solidaritasnya oke.

Meskipun begitu sore tetap menjadi iming-iming terbesar yang saya nantikan hingga saat ini.

Silakan komentar

%d bloggers like this: