Tak Berujung Pangkal

on

Hari Jumat lalu, tanpa ada rencana saya  berbincang-bincang dengan penyelia saya di kantor. Usai jam kantor biasanya saya akan terus melanjutkan pekerjaan sampai tuntas karena Jum’at adalah hari yang santai tapi juga kerja ngotot. Maksudnya ngotot di sini adalah mengerjakan tugas sampai selesai agar Sabtunya gak kepikiran. Saya ramalkan pekerjaan akan selesai pukul delapan tepat. Namun karena adanya perbincangan yang lebih panas ini makanya pekerjaan malah selesai sejam kemudian.

Topik pembicaraan kita adalah adanya kecenderungan kaum pria di kantor yang meremehkan pekerjaan dengan semena-mena. Tentu ini bukanlah semacam keluh kesah dalam rumah tangga yang menuntut adanya kerja sama di pekerjaan domestik. Tapi ini adalah kantor yang ruang lingkupnya lebih luas, yang scope pekerjaannya melibatkan semua pihak, gak cuma satu dua orang saja, tapi banyak. Dan para pria ini dengan seenaknya selalu mengulang penyakit lama, membolos dengan berbagai alasan misalnya, “sakit”, ada urusan keluargalah,   istri sakitlah, yang kesannya mengada-ada. Bahkan saat kita tak percaya, si “sakit” ini perlu meyakinkan bahwa ia benar-benar sakit dengan cara meminta “bapaknya” berbicara langsung via telepon seraya menegaskan bahwa “anaknya” memang sedang “jatuh sakit”. Tak ketinggalan  pula aksi menghilang saat jam istirahat usai, termasuk korupsi waktu beberapa jam sebelum pulang kantor dengan pura-pura ke toilet padahal nongkrong ke warung sebelah. Sekedar ngobrol.

Penyakit-penyakit ini sedemikian kronisnya hingga pihak HRD pun entah tak berdaya atau tutup mata sekalian, membiarkannya keadaan ini berlarut-larut. Ada yang membolos dan terlambat hingga satu setengah jam pun hanya disodori SP tanpa ada tindakan lanjutan. Ibaratnya HRD hanya menelanjangi tubuh bagian atas tapi tidak sekaligus melucuti bagian bawahnya. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran para HRD-er ini dalam menyikapi karyawannya yang semau gue itu.

Okelah mereka tidak perlu diberi hati tapi bagaimana dengan karyawan yang benar-benar rajin bekerja dan mendedikasikan diri buat perusahaan ini? Apa ada keadilan buat itu? Entahlah. Saya merasa kaum laki-laki ini diam-diam mengalami  semacam sindroma ketidaknyamanan berada di bawah kekuasaan perempuan selain juga beberapa kekecewaan yang menumpuk dari perusahaan itu sendiri. Memang, di perusahaan saya sebagian pekerjaan penting posisinya dipegang oleh perempuan. Laki-lakinya hanya sebagai ‘pesuruh’ saja istilah kasarnya.

Hal yang sangat menjengkelkan hingga hari ini adalah bila mereka ini tidak mendukung apalagi untuk kompak dalam mengerjakan sesuatu. Sering pekerjaan jadi terhambat hanya gara-gara orang ini tak masuk kerja atau terlambat tiba. Pekerjaan saya yang ibaratnya sudah sampai Surabaya, terpaksa balik lagi ke Bandung hanya karena harus mengikuti irama karyawan yang terlambat ini. Sungguh memuakkan.

Akhirnya karena kejadian seperti ini terus muncul, saya mengambil sikap skeptis, saya tak peduli lagi dan saya akan berada di rel. Sikap ini juga telah saya sampaikan pada penyelia yang rupanya punya pikiran sama dalam memandang perilaku kaum pria di kantor ini. Dan yang membuat kami penasaran mengapa kami belum mendapatkan solusi terbaik untuk memecahkan masalah ini? Sungguh tak berujung pangkal jadinya. 😉

0 Comments Add yours

Silakan komentar