Taksi…Oh…Taksi…

on

Siang itu saya dan keluarga terdiri dari Ibu,  adik, ipar dan keponakan berniat untuk jalan-jalan sekaligus  berbelanja. Kami berencana naik taksi menuju ke sana. Nah, disinilah awal mula kekacauan. Ternyata kami kesulitan mendapatkan taksi! Yang biasanya kendaraan ini lewat setiap saat di pinggir jalan besar, saat itu malah jarang yang lewat. Sekalinya lewat selalu dalam keadaan berpenumpang. Setelah satu jam barulah taksi yang ditunggu itu berhenti untuk kami naiki. Tapi sebelumnya ada insiden yang menyebalkan dengan kendaraan ini. Saat ada taksi berhenti untuk kami ternyata ada calon penumpang lain yang menyerobot taksi. Dan dengan wajah memelas si ibu itu bilang, “Tolong Mbak”. Ya sudah saya relakan dengan mengucap brengs*k pada keluarga yang sibuk angkut-angkut bawaan ituh huh! mad

Selesai belanja, bukan berarti mencari taksi pulang menjadi lebih mudah, malah lebih berjuang. Jadi kami berjalan mendorong-dorong belanjaan ( untung ada teknologi troley yang diciptakan untuk mempermudah bawaan) menyusuri lorong-lorong mal menuju pintu keluar. Di sana ada pangkalan taksi Ekspr*ss rupanya. Dengan jalan tergopoh-gopoh bersemangat karena ada taksi ngetem, saya langsung datangi tapi sepersekian detik sudah keduluan orang yang menanyakan taksi juga. Dan  ternyata si supir taksi yang duduk di luar itu tak berminat pada duit…alias  tak mau mengantar, entahlah alasannya apa yang jelas kami terpaksa harus menenteng belanjaan keluar area berjalan kaki menuju jalan besar.

Kejutan ada di depan mata karena kami menemui banyak keluarga yang berdiri di pinggir jalan hendak menyetop…taksi juga. Walaah, alamat gak sukses nih dapat taksinya, pikir saya.

Lalu kami berjalan agak menjauh untuk bisa menyetop taksi lebih dulu. Pertama, saya, adik dan ipar yang berdiri. Lama kelamaan tinggal saya saja yang masih setia berdiri di pinggir jalan mencari taksi kosong. Pada suatu titik inilah saya merasa heran dengan keberadaan taksi terutama pada siang di hari Sabtu ini. Kemanakah armada ini semua? bahkan kalaupun ada, pasti penuh penumpang. Apakah karena musim liburan dimana banyak keluarga yang memanfaatkan taksi untuk berjalan-jalan atau memang armada taksinya sedang berkumpul di wilayah tertentu. Memang akhirnya kami mendapat taksi tapi di sepanjang jalan kami melihat juga orang atau keluarga yang selalu menyetop taksi kami. Bukankah itu indikasi bahwa taksi pada hari itu sedang “menghilang” dan dibutuhkan banyak penumpang? Dan untuk menambah kekacauan, supir taksi yang kami tumpangi ini sempat mengeluhkan tujuan kami yang menurutnya rawan macet dan memboroskan waktunya (itu yang pertama),  lalu saat hampir dekat, si supir ngoceh apa ada jalan yang bisa dilewati atau tidak, menurutnya lagi pasti sulit nyetir diantara pemukiman padat begitu (itu yang kedua!). Walah, kontan saja adik saya, “Terus, kita mau diturunin di sini gitu, kita bawa bayi ini masalahnya, ” semprotnya. biggrin

Jakarta, kemana taksimu disembunyikan. Tepatnya, dikemanakan supir taksi yang kalem, bersikap  menyambut dan tak banyak cingcong itu? Oh absurdnya Jakarta siang tadi.

Silakan komentar