Tas idaman terbang

on

Well, sudah beberapa  minggu yang lalu saya mendapati tas idaman saya sudah tak berada di konter tas di mal itu. Tadinya saya hanya iseng menginjakkan kaki ke sana sekadar melihat-lihat. Dan saya pengin tahu apakah tas itu masih bertengger di sana.  Ternyata memang sudah tak ada. Saya menghampiri untuk meyakinkan tempat pemajangan tasnya, barangkali saja dipindahkan agak ke sela-sela tas yang lain. Walah, meski mata sudah jelalatan tetap saja si Must-have-item itu sudah raib.

Saya hanya termangu. Mengapa barang itu malah cepat terjual sih? Apa mungkin saya satu selera dengan orang-orang itu ya? (yang nota bene tasnya orang kaya) Orang-orang yang dicap high class itu mengapa menaksir barang yang saya idam-idamkan? Padahal kalau dilihat dari segi bentuk dan warna rasanya tak bagus-bagus banget seperti yang sering di-sale-kan di Plaza Senayan, Senayan City, atau mal prestisius lainnya. Menurut saya potongannya biasa saja, gak bling-bling, dan sangat sederhana. Rasanya jauh dari selera nyonya-nyonya sosialita itu. Harganya pun menurut saya  benar-benar mahal tapi bagi mereka mungkin murah. Bukankah mereka suka membeli barang yang mahal? Atau mungkin justru wanita yang selevel (baca: tingkat pendapatannya) dengan saya? Yang satu selera dengan saya dan juga telah sekian puluh tahun mengidamkan tas berwarna cokelat marun itu? Ah, berbagai pikiran seakan ingin menyangkal ketidakberadaan tas itu. Saya ingin meyakinkan bahwa stok untuk tas ini masih banyak di gudang. Tapi ini hanya angan-angan saja.

Mungkin memang belum jodoh untuk memiliki tas itu. Padahal seandainya saya punya dana pasti tas itu sudah melenggang dengan anggunnya di samping tubuh saya.

Oh tas, saya kehilanganmu.  🙂 I think I’ll search to another one.

Silakan komentar