Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

on

Tenggelamnya-Kapal-Van-Der-Wijck-poster-crop-H

Bila membaca judulnya saja jangan mengimpikan ada adegan seperti film Titanic. Atau bila melihat ekstra filmnya jangan harap seperti film The Great Gatsby. Menonton film Indonesia ini serasa membaca bukunya secara langsung. Film dengan durasi 2,5 jam ini cukup patuh untuk tidak keluar jalur dari kisah aslinya. Saya sendiri sebenarnya belum pernah membaca bukunya namun saya ingat dulu sewaktu SD,  guru bahasa Indonesia pernah menceritakannya sedemikian rupa sehingga mampu menyihir kelas menjadi hening karena khusyu mendengar kisah Zainuddin yang tak jadi menikah dengan Hayati. Kisah itu begitu memukau sehingga sampai kini saya masih ingat penggalan-penggalan ceritanya terutama adegan pamungkasnya yakni tenggelamnya kapal yang ditumpangi Hayati. Kebetulan sekali kisahnya masih berbau Melayu dan saya cukup senang menyaksikan film ini, dialog yang terucap dari bibir para pemeran adalah logat Melayu yang kental. Menurut saya inilah yang cukup menarik dan menantang bagi setiap karakter untuk berdialog panjang-panjang ditingkah wajah atau suasana yang mengharu-biru.

Sebenarnya karena tak ingin keluar dari pakem maka film ini menjadi terasa panjang dan lama -kalau tidak disebut bertele-tele. Mengapa tidak diperas saja menjadi kira-kira 1 jam 45 menit atau sekitar itu. Bahwa sutradara harus menuturkan kesedihan, rasa dendam dan kegalauan para pemerannya itu sah-sah saja namun sebagai sebuah film yang mengusung tiga masa; masa perkenalan, masa penuh kebangkitan dan kejatuhan serta masa penyesalan, ini seharusnya bisa diperas dan diperpendek lagi dengan narasi saja misalnya. Zainuddin yang diperankan oleh aktor Herjunot Ali cukup bagus aktingnya demikian pula Pevita Pearce yang menjadi Hayati. Sebagai aktor dan aktris muda akting mereka berdua menjanjikan dan memberi harapan besar bagi perfilman Indonesia nantinya.

Namun peran yang mencuri hati menurut saya adalah Muluk yang dibawakan oleh Randy Nidji. Sebagai seorang musisi yang jauh dari kegiatan akting, rasanya tak mudah untuknya memerankan sosok yang selalu mendampingi Zainuddin baik suka maupun duka. Apalagi dialog-dialog yang diucapkannya sangat panjang dan ‘berat’.

Well, film ini kolosal terlebih  dengan diiming-imingi kata ‘tenggelamnya’ sehingga penonton berasosiasi bahwa tentulah tenggelamnya kapal ini akan sangat dramatis. Kenyataannya, saya tidak merasa begitu. Tenggelamnya kapal hanya menjadi adegan pengunci atau penutup that’s it. Rasa sesal Zainuddin yang ditampilkan saat Hayati meninggal menurut saya terlalu lama. Mengingatkan pada sinetron dan sekali lagi, bertele-tele. Selain itu  rumah besar milik Zainuddin mengap a mirip dengan kediaman yang ada di sinetron kita ya? Ah, terlepas dari berbagai kekurangan, minat dan upaya produser untuk memfilmkan kisah klasik Indonesia patut diacungi jempol. 🙂

Silakan komentar