Tentang Tulisan Tangan

Pagi hari saat matahari bersinar cukup cerah, terdengar bunyi mesin motor yang sayup-sayup berhenti di depan rumah. Setelah dilongok ternyata seorang tukang koran yang cukup tua sedang menuntun sepedanya. Ia tukang koran ad interim kami. Di belakangnya membuntuti sepeda motor. Sang pengendara motor ini terlihat tua, gemuk dan bermata lelah. Rupanya ia adalah si empunya agen koran yang telah berpuluh tahun kami langgani. Ya, setelah loper koran  langganan kami meninggal dunia dua bulan lalu, pekerjaan antar koran diambil alih oleh  Aan.

surat-ejaan-tulisan-tangan
Antara ‘jang’ dengan ‘petjat’

Sempat terjadi kekacauan jadwal pengantaran hingga seminggu lamanya dan menyebabkan saya agak kesal. Maklumlah, acara pagi hari selain sarapan adalah membaca koran. Dan ketika koran absen diterima sampai 2-3 hari rasanya seperti hidup di wilayah daerah terpencil saja. Bahkan setelah dirapel cita rasa membaca koran pun rasanya sudah tak lezat lagi.

Untunglah kondisi seperti itu tak berlangsung lama. Jadwal pengantaran agak normal kembali meski menurut saya kedatangannya sudah amat kesiangan. Tapi ya sudahlah. Mungkin Aan ini merasa tugas mengantar puluhan pelanggan koran peninggalan almarhum bapaknya merupakan keterpaksaan dan bukan didorong oleh rasa tanggungjawab.

Bulan berikutnya, mulai muncul kekurangan. Saya biasa berlangganan majalah yang terbit sebulan sekali tapi kali ini tak ada majalah diantar dan tak ada pemberitahuan. Ada perasaan jengkel tapi juga ingin menguji si Aan ini. Apakah ia ingat atau tidak kalau saya berlangganan majalah.

Jawaban pun terkuak, ternyata Aan yang masih muda dan notabene anak almarhum pengantar koran ini sering abai dalam mengantar koran.

Dan, si bapak penunggang motor alias bapak agen koran yang pagi-pagi menyambangi rumah kami ini rupanya ingin menjelaskan siapa Aan itu dan sekaligus telah memecatnya. Sehari sebelumnya si bapak sebenarnya sudah menyelipkan sepucuk surat di lipatan koran kepada masing-masing pelanggannya. Dan ini nih yang menarik, suratnya berisi tulisan tangannya dengan ejaan yang dipakai. Terus terang saya terkesan dengan tulisan tangannya. Bukan karena isinya tapi susunan dan kosa katanya dengan ejaannya yang sudah…lama 😀

Sebuah pesan yang langka karena di zaman yang serba mengetik ini, masih ada yang mau menulis secara langsung dengan tangan. Padahal bisa saja ia menyuruh orang untuk mengetikkan isi pesannya. Si bapak ini adalah pemilik agen koran dengan oplah terbesar dan berpengaruh di Indonesia namun ia justru menulis sesuai dengan gayanya sendiri yakni berejaan lama. Jadul, kuno, vintage, tapi menarik 🙂

 

2 Comments Add yours

  1. matureorchid says:

    Kayak masih di jaman penjajahan

  2. Ernawati says:

    kayak teks Proklamasi 😀

Silakan komentar