Film 2012:The Dark Knight Rises

on

Hari Minggu kemarin saya mendapat undangan nonton film bertajuk The Dark Knight Rises (TDKR). Meskipun tadinya saya agak ogah-ogahan  menontonnya namun karena pengaruh kedahsyatan film yang diceritakan oleh teman  yang sudah menontonlah yang  membuat saya tergiur. Lagipula, ini kan gratis kenapa tidak disanggupi saja.

Maka kami pun menyambangi Blitz Megaplex yang ada di Grand Indonesia dengan berjuang di bawah terik panas matahari yang mendekati hampir pukul 12 siang di bulan puasa itu. Sebenarnya yang membuat kami hampir malas datang  selain karena waktunya tepat di bulan puasa,  juga karena ini acaranya hanya menonton saja gak ada embel-embel lain semisal pemberian goody bag atau door prize atau ada orang penting. Gak, gak ada itu. Saya hanya penasaran dengan gembar-gembor film ini.

Sepanjang 2,5 jam, film TDKR berlangsung cukup memukau. Tak ada jeda yang membuat sayasempat bertanya-tanya sesudah ini apa, sesudah itu apa. Semuanya mengalir dengan plot-plot yang dibuat seakan penonton harus menyimak dahulu peristiwa-peristiwa apa saja yang akan saling melengkapi nantinya serta pengenalan tokoh baru seperti Dr. Miranda Tate dan John Blake.
Seakan bagian peristiwa ini tak ada hubungannya dengan cerita. Padahal justru twist-twistnya kelak akan menjadi pelengkap utama cerita.

Sebenarnya selain menyaksikan akting para aktor dan aktrisnya yang sudah kita kenal itu, saya lebih menanti-nanti peran  musuh Batman, Bane. Ada sedikit ekspetasi saat menyaksikan sepak terjangnya. Akankah seberkilau musuh Batman sebelumnya, yakni Joker? Seharusnya memang kita tak menyamaratakan peran dan akting musuh Batman apalagi membandingkannya. Tapi, usai menonton, ada kesan yang tertinggal  dari setiap musuh-musuh Batman. Joker memang agak memancing tawa dan sinting, Bane lebih dipenuhi dendam dan ada rasa menyakitkan menyangkut masa lalunya. Seluruhnya memberi kesan lebih  di benak penonton. Apalagi, TDKR masih didukung oleh score musik milik Hans Zimmer. Kesan megah terdengar di sepanjang adegan kejar-kejaran atau saat Batman beradu otot dengan Bane. Mungkin juga karena saya agak memperhatikan scorenya di setiap adegan, jadinya bagi saya penempatannya pada setiap adegan tepat sekali.

Kalau ada yang kurang barangkali peran Miranda Tate dan Selina. Saya tak melihat ada yang benar-benar ‘nendang’ dari peran yang dijalani keduanya. Untuk tokoh Miranda saya hanya terkesan sesaat ketika ia menusuk belati ke punggung Batman dan mengucapkan pengakuannya. Sedangkan Selina, saya koq merasa peran itu kurang tepat diberikan pada Anne Hathaway. Entahlah. Belum sepadan dengan Batman saya rasa. Sebaliknya ada pula tokoh yang mencuri perhatian seperti John Blake yang diperankan dengan apik oleh Gordon Levitt. After all, film ini memang hebat, porsi antara drama dan perkelahiannya seimbang, tidak bertele-tele, waktu 2 jam lebih tak terasa lama, dan meskipun ada bagian yang hampir bisa kita ketahui endingnya tapi sebagai hiburan Batman telah memenuhi kriteria dan harapan tersebut. Menurut saya, TDKR adalah filmnya tahun 2012. Dan Christopher Nolan cukup berhasil menyutradarai film ini.

Salah satu yang lucu mungkin peran yang dibawakan Tom Hardy, Bane. Ia harus memakai penutup mulut di sepanjang film tanpa ada kesempatan bagi penonton untuk melihat wajah asli keseluruhannya. Ada memang wajahnya ditampilkan pada adegan masa lalu saat dibesarkan dalam lubang pembuangan tapi penonton pasti tidak ‘ngeh’. 🙂

Kalau diperhatikan, saat ini saja banyak penduduk Jakarta yang mirip seperti Bane, wajah berpenutup mulut dan hidung ‘kan? 😀

Silakan komentar