Tragedi Si BB

on

Mendengar  sekitar seribuan orang antre untuk mendapatkan si telepon pintar bernama BB di Jakarta, membuat saya terkesima. Bukan apa-apa. kejadian ini menurut saya baru pertama kali terjadi di dunia perponselan dan mungkin pertama kalinya di dunia. Bayangkan, ada orang yang bela-belain untuk memiliki BB dengan harga setengahnya saja dengan cara mengantre sejak pukul 16.00 WIB padahal loket baru akan dibuka keesokan harinya pukul 09.00. Dan bila diperhatikan, sebagian besar pengantre datang dari kalangan menengah atas yang notabene sebenarnya sangat mampu untuk membeli barang yang harganya bagi mereka sekedar beli kacang goreng saja itu. Saya gak habis pikir, mengapa orang-orang kaya ini rela berdesak-desakan hanya untuk memiliki barang yang well, mungkin hanya sebentar saja terpakai, 2-3 bulan lagi barangkali pasti akan tiba seri yang terbaru lagi toh? Dan apakah mereka akan menjalani ritual antre yang memingsankan banyak orang lagi? Bandingkan dengan kaum dhuafa yang berdesakan untuk hanya mendapatkan segenggam beras, sepotong daging, secangkir minyak goreng misalnya.

Tak ayal, peristiwa ini membuka mata saya bahwa dilihat dari perilakunya yang selalu mengincar barang murah, orang kaya itu sama saja dengan orang miskin. Perbedaannya, orang kaya kesannya terlihat sangat naif sekali dalam mendapatkan barang. Sesuatu hal yang lebih mengedepankan  gengsi, nafsu, dan untung. Sedangkan orang miskin sudah pasti urusan perut dahulu yang maju. Orang kaya ini berlomba-lomba memakai seri terbaru hanya agar dipandang sebagai orang yang sadar mode, mampu-beli dan mengharapkan decak kagum di lingkungannya. Dan celakanya perilaku orang-orang ini sangat jeli ditangkap oleh produsen BB. Padahal kabarnya pamor BB sudah turun di Eropa dan Amerika sendiri. Itulah sebabnya produsen menyasar pangsa pasar Indonesia yang menurut RIM masih sangat bagus. Dan menurut saya Indonesia bukan merasa sebagai negara istimewa karena “terpilih” tapi justru sebagai “korban”. Korban fisik dan mental. Keinginan yang membabi buta dan absurd.

Peristiwa yang menjatuhkan korban ini bagi saya tak berarti apa-apa. Bukannya tak kasihan tapi mereka toh datang dan pulang pakai mobil pribadi dengan sopir pribadi pula. Makanya, sungguh tidak etis saat salah seorang pengantre marah-marah karena antrean dibubarkan polisi. Ia barangkali kecewa karena tak jadi memiliki BB idaman yang bisa dipamerkan ke semua orang namun sadarkah bahwa apa yang ia serapahkan di depan TV itu telah “menyinggung” perasaan orang yang hidupnya jauh di bawah UMP! How so naive, ia boleh saja marah, tapi jangan lupakan masih berjuta-juta orang yang belum bisa punya BB bahkan untuk yang seharga satu setengah jutaan saja.

Hhm…orang kaya memang berpikiran hanya di seputar dirinya dan kebutuhannya saja. Dan kejadian seperti Jumat kemarin menurut saya pasti akan terulang lagi tapi dengan konsep lain tentunya. Dan si miskin akan tetap tak terlayani  karena antrean model begini sudah pasti dikuasai oleh mereka yang berduit lebih. Kalau begitu antre BB yang lain, Beli Beras saja setuju?  🙂

0 Comments Add yours

  1. Antre yang gak setimpal yaak…ngeliat di TV yg pada marah-marah bukannya malah pada malu tuuhhh 😀

    1. erna maryoto says:

      Seharusnya mereka malu, tapi urat malu dimana-mana kan udah pada ilang, ya kan?

Silakan komentar