Tujuh tahun Loyalitas

on

Saking banyaknya kesibukan saya lupa bahwa pada bulan Januari tahun ini saya genap tujuh tahun bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang hiburan khususnya tontonan keluarga. Bukan main. Saya ternyata telah bertahan di kantor ini selama itu. Sebelumnya saya pernah bekerja di penerbitan, atau sekedar kerja numpang lewat di perusahaan kecil dengan berbagai profesi mulai dari LO, book translator sampai pencari dana saham nasabah.

Saya tak pernah menyangka bahwa saya akan stay di perusahaan ini selama lima tahun lebih. Menurut saya itu sebuah prestasi tersendiri karena saya adalah tipe orang yang tak pernah ‘cocok’ dengan suasana atau aura kantor tertentu.

Setelah berpetualang kemana-mana, mungkin saya lelah dan akhirnya terdampar di kantor ini. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak peristiwa dan kesan yang ditorehkan selama saya berada di situ. Sama seperti perusahaan lain yang memiliki patron, di tempat saya bekerja kondisinya bagi saya masih bisa diterima, tidak kaku tapi juga tidak longgar. Bahkan pada saat saya bekerja di hari pertama pun, saya merasa telah cocok dengan aura perusahaan.

Sebelum saya bergabung di perusahaan ini saya pernah berkomitmen pada diri sendiri bahwa bila saya diterima, saya akan bekerja dengan giat dan sungguh-sungguh, menghindari frasa terlambat -entah terlambat tiba di kantor atau deadline-,dan disiplin baik waktu atau bekerja. Ini poin yang saya coba pertahankan di tengah kepungan karyawan lain yang bersikap sebaliknya dari komitmen saya.

Terus terang, dengan turn-over karyawan yang sangat tinggi di perusahaan ini, membuat saya semakin lama semakin malas berinteraksi dengan karyawan lain. Fokus utama saya hanyalah bekerja saat ini. Masalah pertemanan mungkin hanya selintas-selintas saja, tak pernah mendalam.  Kalau pun ada yang menginginkan terbentuknya ‘gank’ bagi saya itu hanya untuk lucu-lucuan saja just intermezzo. 😀

Saya tak pernah menganggap penting. Berkaca dari pengalaman, teman kantor biasanya selalu memiliki dua kepentingan. Kepentingan teman dan kantor. Takkan selamanya seiring sejalan.

Lalu mengenai manajemen, saya tak terlalu melihat pentingnya peran manajemen di sini. Menurut saya ‘biasa-biasa’ saja. Mungkin karena saya hanya menatap dari jauh alias tak dekat dengan salah satu jajaran personilnya. Tak apa. Saya toh tak memaksakan diri untuk berdekatan. Bukan penjilat saya ini.

Dua tahun pertama rasa betah itu muncul, dua tahun berikutnya semakin berkerak rasa betah itu. Mungkin pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan passion saya: menonton film. Sangat menyenangkan bukan apabila semua orang belum menyaksikan sebuah film tertentu tapi kita sendiri sudah dapat menonton dan mendiskusikannya. Well, semacam itulah. Seperti seorang wartawan film yang selalu mendapat free pass menonton film premiere di bioskop. Bedanya saya langsung bisa menonton di kantor saya tanpa perlu berlelah-lelah ke bioskop. 😀

Dua tahun berikutnya, datanglah penyakit itu. Bosan, jenuh, dan selalu ingin cepat pulang ke rumah. Rasanya pekerjaan yang saya lakoni lama kelamaan membelenggu dan hambar. Tak ada kegairahan baru. Pada titik ini sempat rasanya ingin resigned, berganti jenis pekerjaan. Hal lain, keadaannya sangat stagnan. Dan saya belum tahu antisipasinya.

Tujuh tahun ini semoga membawa berkah tersendiri. 🙂

Silakan komentar