Ulang tahunnya Jakarta: sisi lain dari mal

on

Sudah 484 tahun berlalu, kota Jakarta ini masih begini, begini saja. Maksudnya? Yah, tetap gak ada kemajuan yang berarti menurut saya. Selain pertumbuhan mal-mal atau town square atau department store atau apalah namanya, tujuan praktisnya sebenarnya adalah memberi keleluasaan para pemodal untuk menanamkan sahamnya di gedung yang rata-rata berlampu kelap-kelip dan boros listrik itu.

Bagaimana tidak, atas nama gaya hidup, semua lahan kosong (atau setengah kosong) hampir ditempati oleh mal di setiap wilayah Jakarta. Jakarta dikepung mal, ini sebutan miringnya. Pusat belanja atau mal di Jakarta sudah tumbuh di luar kendali. Banyak kawasan yang semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis harus beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Bahkan menurut data terakhir, jumlah pusat belanja yang ada di Jakarta mencapai 170 lebih dan telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Kebayang ‘kan seperti apa kita hidup diantara mal-mal yang banyak itu?

Kalau para pemodal menganggap bahwa penduduk Jakarta sangat cinta dengan keberadaan mal,  sangat haus akan gaya hidup, atau menjadikan mal sebagai wadah untuk melepas stres menurut saya itu salah besar. Belakangan ini malah ada gerakan yang ingin ‘menjauhi’ mal secara perlahan-lahan karena ternyata kebiasaan menghabiskan waktu di mal itu tidak sehat. Selain cepat membuat kantong cepat bolong, terlalu lama terpapar AC mengakibatkan kulit  cepat keriput dan kurang bisa berinteraksi.

Coba kita bayangkan, satu keluarga terdiri dari Ayah, Ibu, dua anak usia SD dan SMP datang ke mal dengan tujuan yang berbeda-beda. Ayah menuju outlet yang menjual pertukangan, Ibu ke swalayan, si anak SD ke toko buku lalu ke wahana game, si anak SMP ke toko fesyen. Lalu sesudahnya mereka ke restoran. Apabila aktivitas mereka dtukar dengan acara outbound family yang pastinya di ruangan terbuka, bisa dilihat ‘kan perbedaannya. Yang pertama begitu praktis dan terkendali tapi saling memisahkan diri dan tidak berkeringat, yang kedua, sudah pasti ada kebersamaan, bercengkerama dengan lingkungan, udara segar dan terkena matahari. Saya tidak akan menyalahkan kondisi mal yang seperti ini. Banyaknya mal di Jakarta membuat selera kita atas suatu barang menjadi beraneka ragam dan ujung-ujungnya konsumtif. Hanya kalangan atas saja yang tetap eksis, sementara kaum pinggiran hanya menatap dari kejauhan.

So, saya rasa ini hanya masalah konsep. Pemodal kalau disodori visi dan misi yang tidak melulu memikirkan profit pasti bersedia untuk ikutan mewujudkan mal yang bercita rasa outbound serta sehat. Tapi mengingat peminat mal masih banyak maka ide tinggallah ide, hanya akan berarti bila sudah mentok.

Silakan komentar