Waktu berpeluang

on

Ada karyawan di kantor saya senang sekali mangkir. Dalam waktu sebulan, bisa 3-4 kali tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas. Karena terlalu sering tak masuk kerja, maka saya pernah iseng untuk membuat semacam peta tebak hari yakni menebak hari apa saja yang dia rencanakan untuk tidak masuk kerja. Misalnya, kalau bulan kemarin bolosnya selalu jatuh hari Kamis, maka bila bulan ini bolos di hari Selasa, maka seterusnya selama rentang tiga bulan ke depan pasti ia akan tak masuk kerja tiap Selasa. Dan itu pernah terbukti. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga saya capek-capek bikin beginian. Well, bukannya saya orang yang peduli, tapi kadang ketidak hadiran salah satu anggota tim membuat suasana hati saya tidak enak. Memang  meskipun satu tim, bagian yang saya kerjakan tidak langsung bergantung padanya. Saya mengerjakan satu stok pekerjaan, tapi tidak lantas diberikan ke bagiannya. Sesuai prosedur, bagian yang saya kerjakan nantinya akan diperiksa ke bagian teman yang lain. Dan si karyawan ini, -selanjutnya kita sebut saja Pembolos- akan mengecek hasil kerja yang terakhir- semacam verifikasi akhir atas layak tidaknya pekerjaan yang saya lakukan atau teman-teman lakukan, dimana hal itu menjadi sangat krusial.

Saya senang-senang saja kalau Pembolos melakukan ritual bolosnya karena saya tidak menerima beban kerja limpahan darinya. Tapi yang menyebalkan adalah imbasnya, imbas secara fisik ada sedikit, imbas mental atau lingkungan mungkin itu yang sering didapatkan. Misalnya pekerjaan jadi terlihat menumpuk, tidak tepat waktu atau si Penyelia yang mengeluhkan ulah si Pembolos pada kawan yang lain, sehingga suasana jadi ikut-ikutan kesal dan ya itu tadi tidak mood ujung-ujungnya. Selain itu kebiasaan mangkirnya jadi terpupuk tanpa ada teguran keras dari si penyelia. Ini yang sering saya sesalkan.

Saya paham kadang berfungsi sebagai seorang penyelia yang memiliki anak buah bisa menjadi dilema. Satu sisi ia harus menegakkan disiplin tapi di sisi lain ia khawatir dengan memberi teguran, efeknya Pembolos ini akan kabur( baca: ngambek) yang ujung-ujungnya akan susah lagi mencari penggantinya. Tapi, dengan tidak adanya ketegasan maka itu sama saja dengan menuangkan air ke dalam kolam, memberi cek perjalanan untuk jalan-jalan selama setahun ibaratnya. Pembolos ini akan semakin menjadi-jadi, dan menganggap remeh semuanya. Apalagi selain suka membolos, ia juga sukaa sekali datang terlambat. Terlambatnya juga gak tanggung-tanggung lho, hampir menjelang makan siang ia baru tiba dengan muka yang tak bersalah dan celakanya, penyelianya pun tidak memberikan teguran atau pertanyaan alasan dia terlambat. Ini yang membuat saya gak habis pikir. Pokoknya pas dan layak untuk diberikan pelatihan kedisiplinan ekstra keras pada si pembolos ini.

Saya tahu, Pembolos ini punya pekerjaan sampingan, tapi mbok ya jangan mengesampingkan pekerjaan utama dong. Ketidakmampuan seseorang dalam menjalani dua profesi itu lumrah dimana-mana, tapi kenapa tidak bisa memprioritaskan diantara keduanya? Selain bersikap mendua begitu, menurut saya orang-orang ini jadi terlihat egois. Kalau tidak bisa membagi waktu ya sudah, pilih salah satu, tinggalkan salah satu daripada tidak jadi keduanya. Mustahil dua pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh bisa berjalan beriringan.

Bagi saya, karyawan itu mau jungkir balik untuk bolos, terlambat, kena teguran, atau SP sekali pun, itu karena memang pilihannya  dan bukan kehendak yang bersifat permanen. Pilihan itu pasti bisa berubah karena sebenarnya kita punya banyak pilihan.

0 Comments Add yours

Silakan komentar